
"Mas, kita pindah saja ya, dari rumah ini. Aku mau tinggal di apartemen saja," rengek Rima sembari menggendong bayinya.
"Kamu ini kenapa? Mama kan sudah bilang kalau kita lebih baik menempati rumah ini. Di sini juga tidak ada siapa-siapa karena Mama dan Papa juga belum pulang." Arjun merasa heran dengan permintaan sang istri yang sangat ingin pergi dari rumah ibunya.
"Kita sudah berumah tangga dan lebih baik mulai latihan hidup sendiri tidak melulu bergantung pada Mama."
"Ya, aku juga kerja sendiri meskipun satu rumah dengan Mama. Lagi pula, untuk siapa lagi Mama bekerja kalau bukan untuk kita? Rumah sebesar ini juga nantinya akan diberikan kepada kita."
"Iya, aku tahu," kata Rima. Ia tak bisa berkata-kata lagi setelah Arjun memutuskan.
"Tidak apa-apa kalau kamu mau dibantu pengasuh, Sayang. Toh Mama tidak bisa pulang karena banyak urusan. Pilih saja orang yang kamu percaya jadi pengasuh Renjun," kata Arjun.
"Benar, Mas? Aku boleh pakai pengasuh?" tanya Rima antusias. Ia memang merasa tak akan bisa mengasuh bayinya sendiri.
"Boleh," kata Arjun.
__ADS_1
"Tapi, siapa ya kira-kira yang cocok?" tanya Rima sembari berpikir. Ia tak ingin sembarangan membawa orang yang sembarangan untuk masuk rumah dan mengasuh putranya.
"Bagaimana kalau Yunita?" tanya Rima. Ia tiba-tiba saja teringat pada sahabatnya.
"Yunita?" tanya Arjun memastikan.
"Iya, Yunita, temanku! Kasihan dia kondisi ekonomi keluarganya kurang bagus. Kita minta saja dia jadi pengasuh Renjun dan berikan gaji terbaik dirinya."
"Tapi dia belum pernah punya pengalaman menguruai bayi."
"Ya, terserah kamu saja kalau memang itu yang kamu mau." Arjun justru lebih bersyukur jika Yunita yang dipilih istrinya. Ia lebih bisa tahu kelakuan istrinya seperti apa. Meskipun masalah Renjun masih membuatnya curiga dan sakit hati, ia berusaha untuk tenang dan menerima segalanya. Ia harap semua tak akan terulang.
"Bantu aku temui dia langsung, Mas! Dia itu sibuk dan aku tidak bisa meninggalkan Renjun."
"Ya, nanti sepulang dari kantor aku akan bicara dengannya. Semoga saja dia mau," ucap Arjun. "Kalau begitu, aku mau balik lagi ke kantor," lanjutnya.
__ADS_1
Arjun mencium bibir Rima. Ia kemudian mencium pipi Renjun yang tengah tertidur dalam gendongan Rima sebelum pergi.
Rima tersenyum bahagia. Ia merasa kehadiran Renjun mampu membuat suasana di rumah lebih hangat. Arjun sangat menyayangi bayi itu.
Rima mengantar Arjun sampai depan rumah. Ia melambaikan tangan saat Arjun telah naik ke dalam mobil sedan dan bersiap berangkat.
"Ibu, biar saya gantikan menggendong bayinya," ucap Bi Minah.
"Tidak usah, Bi. Biar aku saja. Ini juga mau aku tidurkan lagi di kamarnya," kata Rima.
Dengan raut wajah bahagia Rima membawa Renjun kembali ke dalam kamarnya. Perlahan ia menidurkan bayi kecil itu di atas ranjang.
"Euh ... Euh ... Ea ... Ea ...."
Gerakan sedikit saat dipindahkan mampu membuat tidur bayinya terusik. Rima menyingkapkan blouse yang ia kenakan lalu mengarahkan dadanya agar dijangkau oleh mulut mungil Renjun. Hisapan-hisapan kecil dari bayi mungil itu menumbuhkan perasaan bahagia dalah hatinya. Ia baru menyadari betapa membahagiakannya menjadi seorang ibu.
__ADS_1
"I love you, Sayang," ucap Rima kepada bayi yang tengah mengarahkan mata kepadanya. S3olah si bayi sudah tahu siapa wanita yang telah melahirkannya ke dunia.