
Suni termenung memandangi peti mati suaminya. Hiasan bunga mawar putih yang memenuhi rumah menambah perasaan duka dalam hatinya.
Seluruh keluarga, sanak saudara, serta rekan kerja bergantian memberikan salam penghormatan terakhir bagi Sandi. Mereka juga mengucapkan rasa bela sungkawa kepada Suni.
"Sudah dengar isunya belum?"
"Apa? Apa?"
Sekumpulan wanita yang suka bergosip tengah membahas kejadian kemarin dengan nada lirih.
"Aku dengar yang membunuh Pak Sandi itu menantunya sendiri, Ibu Rima, kan? Istrinya Pak Arjun?"
"Masa, sih? Itu tidak mungkin!"
"Iya, tidak mungkin. Istri Arjun itu terkenal sebagai wanita baik-baik."
"Yah, siapa sih yang tahu kehidupan asli mereka. Mungkin saja itu hanya pencitraan."
"Eh, eh ... Dengar, deh! Ada yang lebih menghebohkan dari itu, loh!"
"Apa? Cepat katakan!"
"Ada yang bilang sebenarnya istrinya Pak Arjun itu selingkuh dengan Pak Sandi!"
"Heh, tidak mungkin ... Mereka kan menantu dan mertua."
"Ada yang pernah melihat Ibu Prita datang ke apartemen Pak Sandi. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sering! Sendirian lagi. Ngapain menantu sering datang menemui ayah mertuanya sendiri kalau bukan karena ada apa-apa."
"Ehm! Ehm!"
Seorang pelayan yang mendengar perkumpulan wanita penggosip itu memberanikan diri mendekat. "Maaf, Nyonya. Saya permisi mau lewat," ucapnya.
Kehadiran pelayan tersebut segera menghentikan percakapan tak berfaedah itu. Sang pelayan membawa nampan berisi camilan dan meletakkan di atas meja tempat sajian.
__ADS_1
Percakapan seperti itu bukan sekali ini sayup-sayup terdengar di telinga Suni. Dari keterangan polisi dan beberapa tetangga apartemen Sandi, memang mereka mengatakan bahwa Rima sering datang ke sana, tanpa sepengetahuan dirinya.
Ia hanya tidak menyangka Sandi yang selalu terlihat mencintai dirinya apa adanya ternyata bisa berselingkuh dengan menantu mereka sendiri.
"Ma," sapa Arjun.
Suni menahan air matanya agar tidak tampak lemah di hadapan putranya. "Kenapa, Jun?" tanyanya.
"Ini soal ...."
"Kalau kamu mau membahas tentang Rima, aku tidak akan mengampuninya! Proses peradilan akan tetap berjalan," kata Suni seakan sudah tahu arah pembahasan Arjun.
Meskipun Rima menantunya, tapi menghilangkan nyawa suami tercintanya tidak dapat diampuni. Ia merasa sakit hati apalagi dikhianati. Ia tetap bersikukuh untuk menjebloskan Rima ke penjara meskipun tujuannya membela diri.
"Ini tentang Renjun," kata Arjun.
Suni menoleh ke arah putranya. Ia menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan yang tajam. "Kamu masih mau memikirkan anak itu? Dia bukan anakmu, Arjun! Wanita sialan itu ...."
Suni tak kuasa meneruskan ucapannya. Ia terlalu kesal setiap kali mengingat bahwa cucu kesayangannya itu adalah hasil perselingkuhan antara suami dan menantunya.
Arjun berusaha membujuk ibunya. Meskipun Rima sudah mengatakan tidak apa-apa jika Renjun dititipkan ke panti asuhan, Arjun merasa tidak tega. Selama dua tahun ia telah menganggapnya sebagai darah dagingnya sendiri.
"Itu akibat yang harus diterima oleh anak yang lahir dari seorang wanita hina. Aku tidak sudi menerima anak itu di sini lagi!" tegas Suni.
"Tapi, Renjun juga anak Papa Sandi, Ma. Bukannya Mama sangat mencintainya?" tanya Arjun.
Suni terdiam. Ia langsung memasang kacamata hitamnya untuk menutupi air mata yang hendak keluar.
Ia memang sangat mencintai Sandi. Tapi, pengkhianatan itu menyisakan amarah yang luar biasa terhadap Renjun.
"Kalau kamu masih tetap memaksa ingin mempertahankannya di rumah, jangan salahkan kalau Mama akan bersikap kasar padanya!" ancam Suni. Ia melangkah pergi meninggalkan Arjun untuk menghentikan pembicaraan itu.
Arjun hanya bisa menghela napas. Ia tak bisa memaksa ibunya untuk menerima Renjun.
__ADS_1
Arjun berjalan keluar ruangan menuju ke arah gerbang depan. Di sana ada Rima dan Renjun yang menantinya.
"Papa ...." seru Renjun kegirangan saat Arjun datang. Ia bahkan berusaha untuk melepaskan diri dari gendongan Yunita.
Yunita menurunkan Renjun. Anak itu berlari ke dalam pelukan Arjun masih mau menerima Renjun.
"Bagaimana, Sayang, kamu sudah sehat?" tanya Arjun.
"Papa, Mama mana? Renjun mau Mama," kata Renjun dengan nada merengek sembari memanja.
Arjun menatap ke arah Yunita.
"Sejak kemarin dia terus menanyakan mamanya, Jun. Tapi, Rima tidak mau melihat Renjun," kata Yunita dengan raut wajah bingung.
"Kenapa dia menolak bertemu anaknya sendiri?" tanya Arjun heran.
"Dia tidak mau anaknya melihat dirinya yang sedang ditahan sebagai seorang pembunuh. Dia minta aku membawanya sejauh mungkin dari sini," jawab Yunita.
Arjun turut bingung dengan kemauan Rima.
"Ibumu pasti tidak mau menerima Renjun, ya?" tebak Yunita.
Arjun tak menjawab. Namun, Yunita bisa menebak sendiri jawabannya. Jika memang Suni mau menerima, Renjun pasti sudah dibawa masuk ke dalam untuk turut serta dalam pemakaman.
"Ya sudah, Jun. Biar Renjun aku bawa pulang. Dia baru sembuh dari rumah sakit dan masih perlu banyak istirahat. Kamu dampingi saja ibumu biar Renjun aku yang mengurus," kata Yunita.
"Iya, Yun. Terima kasih atas bantuannya. Aku percayakan Renjun padamu," kata Arjun.
"Tidak mau ... Mau sama Papa. Renjun sama Papa!"
Renjun menolak saat Arjun hendak menyerahkan anak itu pada Yunita.
"Renjun, tidak boleh seperti itu. Ikut Tante Yunita dulu, ya! Nanti kalau Mama dan Papa sudah selesai pekerjaannya, pasti datang untuk main bareng Renjun," bujuk Arjun.
__ADS_1
"Tidak mau! Tidak mau!"
Karena Renjun terus menolak, Arjun menyerahkan Renjun dengan paksa kepada Yunita. Dengan sigap Yunita membawa lari Renjun menuju taksinya. Meskipun anak itu terus menangis memanggil ayahnya, Yunita tetap tega membawa Renjun pergi dari sana.