
"Jadi, apa perlu aku menghubungi Rima? Kondisimu benar-benar sangat kacau," ucap Yunita.
"Jangan lakukan itu! Aku sudah bilang padanya untuk tidak pulang malam ini. Biarkan aku tidur di sini," kata Arjun.
"Kenapa, Jun? Kenapa kamu seperti ini? Istrimu pasti sangat khawatir, apalagi dia tengah hamil tua. Kamu tidak kasihan padanya?"
Yunita berusaha menasihati Arjun. Lelaki itu seperti sedang punya masalah berat dengan Rima. Ia jadi khawatir karena Rima juga tengah hamil.
"Hahaha ...." Arjun tertawa getir. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya menyadari anak yang tengah dikandungnya kemungkinan benih dari lelaki lain."
Akibat mabuk Arjun seakan tak punya kontrol diri. Ia sampai kelepasan bicara tentang masalah yang sangat membebaninya akhir-akhir ini.
"Apa? Arjun, kamu jangan asal bicara! Bisa-bisanya mamu bilang begitu!"
Yunita tentu saja marah. Ia kenal baik dengan Rima. Sahabatnya merupakan orang yang baik dan tak pernah macam-macam. Bahkan ia tahu seberapa besar rasa cinta wanita itu kepada Arjun. Tuduhan bahwa Rima dihamili lelaki lain turut membuat hatinya sakit meski sekedar mendengarnya saja.
"Kamu kira kenapa aku jadi seperti ini? Tolong ambilkan minum!" pinta Arjun. Tenggorokkannya terasa kering.
__ADS_1
Yunita bergegas mengambilkan air mineral dari atas meja dan menyerahkan kepada Arjun. Sekuat tenaga lelaki itu berusaha mendudukkan dirinya lalu meminum minuman yang Yunita berikan.
"Masih ingat dengan 300 juta yang kita bahas waktu itu?" tanya Arjun.
Yunita mengangguk. "Perbincangan kita di pom bensin, kan? Katanya Rima mengaku sudah memberikan 300 juta untuk operasi ibuku?" tanyanya memastikan.
Arjun kembali terkekeh mengingatnya. "Kamu harus tahu. Sampai terakhir kali aku bertanya padanya, berharap ia akan jujur. Tapi, ia memilih untuk tetap menutupi kebohongannya. Dia bilang ibumu masih dalam tahap penyembuhan."
"Tidak mungkin ...." Yunita rasanya masih tidak percaya jika Rima mampu mengatakan hal seperti itu kepada Arjun.
"Aku sudah melakukan penyelidikan sendiri. Berdasarkan hasil penelusuran, uang 300juta itu masuk ke oknum rumah sakit. Sayangnya dokter yang berurusan dengan Rima sudah pindah tugas. Aku curiga dia telah memalsukan hasil pemeriksaan kami waktu itu," kata Arjun.
"Masalahnya aku juga menemukan chat mesranya dengan seseorang!" bentak Arjun.
Yunita sampai sedikit terlonjak kaget. Ia langsung terdiam.
"Rima tidak mau jujur padaku, Yun! Aku merasa dikhianati tapi aku belum bisa membuktikan siapa lelaki itu. Kalau aku tahu, akan aku bunuh dia!"
__ADS_1
Arjun yang dalam kondisi marah terlihat sangat menakutkan.
"Sabar, Jun. Kalian pasti hanya salah paham saja." Yunita berusaha menenangkan perasaan Arjun.
"Kamu bisa bicara seperti itu karena kalian bersahabat. Sudah, pergi sana! Tinggalkan aku sendiri!" perintah Arjun. Ia kembali merebahkan dirinya dan berbaring memunggungi Yunita.
"Baiklah, Jun. Aku mau lanjut bekerja. Kalau ada-apa, telepon aku saja," kata Yunita.
Arjun tampaknya tak mau menjawab perkataan Yunita. Akhirnya Yunita memutuskan untuk pergi meninggalkan Arjun sendiri di sana. Ia menutup kembali pintu dengan rapat berharap tak ada teman kerjanya yang iseng masuk ke dalam.
Meskipun ia bukan salah satu dari mereka, ia tahu persis bahwa beberapa temannya secara terang-terangan menjajakan diri di sana dengan modus berpura-pura sebagai pelayan klab malam.
"Hai cantik ... Masuk yuk ke kamarku!"
Saat Yunita lewat, ada seorang lelaki mabuk yang berusaha menggodanya. Ia berusaha untuk tidak menggubris dan fokus berjalan ke lantai bawah.
🤎
__ADS_1
🤎
🤎