
Arjun duduk gelisah di luar ruang operasi, hatinya terasa berat. Renjun, anaknya yang penuh semangat dan riang, mengalami kecelakaan saat bermain dan mengalami pendarahan hebat di kepala. Dokter-dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa putra mereka.
Waktu terasa berjalan lambat bagi Arjun saat ia menunggu di koridor rumah sakit yang sepi. Setiap detik terasa seperti waktu yang berharga yang terbuang. Dia tidak bisa menghilangkan kekhawatiran yang memenuhi pikirannya, memikirkan keadaan Renjun yang sedang berjuang untuk hidupnya.
Sesekali ia melihat jam tangannya. "Kemana Rima sebenarnya? Kenapa dia belum datang juga?" keluhnya.
Ia heran Rima sangat lama perginya. Bahkan belasan kali ia menelepon hanya satu kali diangkat. Ia tahu jika Rima tak bisa jauh dari ponselnya.
"Urusan dengan teman yang mana? Kenapa dia semakin tertutup padaku."
Arjun hanya bisa bergumam sendiri. Pikirannya kacau karena musibah yang menimpa Renjun. Saat berada di area bermain, anak itu jatuh dari atas perosotan menghantam besi. Ia tidak menyangka hal itu akan terjadi.
"Renjun sayang ... Kamu pasti akan baik-baik saja!" kata Arjun dengan cemas.
Tak lama kemudian, Rima akhirnya tiba di sana setelah beberapa waktu. Arjun merasa lega melihat kehadiran istrinya. Tetapi yang mengherankan baginya adalah fakta bahwa Rima datang bersama Sandi, ayah tiri Arjun. Pertanyaan dan kecurigaan bergejolak di dalam pikiran Arjun, tetapi dia memilih untuk menahan diri dan menunggu penjelasan dari Rima.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana dengan Renjun?" tanya Rima khawatir. Ia langsung berlari memeluk suaminya sambil menangis.
Arjun memasang wajah datar. Meskipun ada kecurigaan dalam hatinya, ia tetap mau memeluk Rima dan menepuk punggung istrinya agar wanita itu tidak panik. Tatapannya mengarah pada Sandi yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Kemana saja kamu? Aku sangat sulit menghubungimu," tanya Arjun dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Rima menatap Arjun dengan wajah yang penuh penyesalan. "Mas, maafkan aku. Tadi aku ada pertemuan dengan teman. Aku tidak tahu kalau kamu berkali-kali menelepon," jawab Rima dengan suara lembut.
Arjun merasakan kebingungan dan kekecewaan yang mendalam. Di saat-saat genting seperti ini, seharusnya mereka saling menguatkan, tetapi kehadiran Sandi di sini memunculkan rasa tidak nyaman dalam hatinya. Dia merasa perlu menjaga pikirannya tetap fokus pada keadaan Renjun yang sedang berjuang.
"Ah, itu kebetulan, Mas. Tadi ketemu Papa di luar. Aku bilang Renjun kecelakaan jadi Papa sekalian ikut datang," kilah Rima.
"Bagaimana kondisi Renjun?" tanya Sandi yang berpura-pura bersikap tenang.
"Masih di dalam ditangani dokter," kata Arjun dengan nada rendah. Melihat kedua orang itu benar-benar membuatnya merasa resah.
__ADS_1
Tidak berselang lama setelah itu, Suni, ibu kandung Arjun dan istri Sandi, tiba di ruang operasi. Wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam, seorang nenek yang sangat mencintai cucunya. Suni mendekati Arjun dengan perasaan cemas yang sama.
"Arjun, bagaimana kondisi Renjun? Apa yang terjadi padanya?" tanya Suni dengan suara gemetar.
Arjun mencoba menahan emosinya dan memberikan informasi yang dia tahu. "Ma, Renjun mengalami kecelakaan saat bermain. Dia mengalami pendarahan di kepala dan dokter sedang berusaha melakukan operasi untuk menyelamatkannya. Kita harus tetap kuat dan berdoa untuknya."
Suni menangis pelan, mencubit dadanya yang penuh kekhawatiran. Dia memegang tangan Arjun dengan penuh kasih sayang. "Kita harus tetap berdoa dan memberikan dukungan untuk Renjun. Dia adalah cucuku yang tercinta, dan aku yakin dia akan pulih dengan baik," ucap Suni dengan penuh keyakinan.
Dalam momen yang sulit ini, Arjun merasakan kebersamaan keluarga yang tak tergantikan. Ia melepaskan pelukan Rima dan berganti memeluk ibunya sendiri.
"Sayang, kamu juga tahu kalau Renjun kecelakaan?" tanya Suni pada Sandi.
"Tadi aku ketemu Rima di depan makanya tahu. Tadi niatnya mau cek kesehatan sebentar ke dokter THT. Tenggorokkan agak sakit," kata Sandi.
***
__ADS_1