Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 55


__ADS_3

Rima mencari-cari mobil milik Sandi yang ada di area parkiran pusat perbelanjaan tersebut. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia menemukan mobil tersebut terparkir di bagian salah satu sudut tempat itu.


Dengan raut wajah kesalnya, Rima berjalan mendekat ke arah mobil tersebut. Pintu mobil terbuka secara otomatis dari dalam. Rima masuk dan mendapati Sandi tengah duduk di bekalang kemudinya.


"Hai, Sayang," sapa Sandi penuh senyuman kegembiraan melihat kehadiran Rima di sana.


Rima kesal namun tak berani mengumpat di depan lelaki tersebut. Ia hanya menunduk dan memendam kekesalannya sendiri. Lelaki itu sama sekali tidak bisa membiarkannya sedikit saja bernapas lega menikmati hidup.


"Kenapa cemberut begitu? Sudah seminggu kita tidak bertemu." Sandi memegangi dagu Rima dan mengarahkan pandangan wanita tersebut kepadanya.


"Aku kan sudah minta ijin kali ini saja untuk pergi dengan Renjun, Pa," kata Rima.


"Kenapa harus akhir pekan? Itu jatah waktuku bersamamu. Aku tidak melarang kalau hari lain kamu pergi jalan-jalan dengan Renjun," ucap Sandi.


"Mas Arjun sibuk kerja, ada waktu luang akhir pekan saja, Pa."


"Oh. Memangnya aku peduli dengan Arjun? Aku hanya peduli padamu." Sandi menatap tajam ke arah Rima. Ia ingin menegaskan bahwa ucapannya barusan adalah kesungguhan.


"Pindah ke belakang!" perintah Sandi.


"Ke belakang? Mau apa, Pa?" tanya Rima heran.


"Sudah, kamu tidak perlu banyak tanya. Cepat pindah ke belakang!" perintah Sandi sekali lagi. Perkataannya begitu terdengar otoriter.


Rima menurut. Ia berbalik badan dan melangkahkan kakinya ke bagian tempat duduk di belakang. Saat berpindah, ia merasakan tangan nakal Sandi yang sengaja mer emas pa ntatnya.


Setelah ia berpindah ke belakang, Sandi turut mengikutinya dan langsung menubruknya. Lelaki itu menciumi Rima dengan agresifnya.

__ADS_1


"Pa, jangan! Tolong hentikan!"


Rima mencoba menolak. Ia berusaha menghindari Sandi.


"Kenapa, Sayang? Biasanya kita juga seperti ini," kata Sandi dengan entengnya.


Meskipun Rima terkesan menolaknya, ia tetap memaksa dan memagut bibir wanita itu secara bertubi-tubi.


"Pa! Berhenti! Jangan gila! Ini parkiran!" teriak Rima yang masih berusaha memberontak.


"Kamu tidak usah pikirkan itu, dimanapun jadi. Aku sudah tidak tahan lagi semingguan tidak bisa menyentuhmu seperti ini."


Wajah Sandi telah memerah diliputi hasrat yang membara. Ia semakin ketagihan untuk berhubungan dengan Rima. Ia tak akan bisa untuk menyudahinya. Bahkan setiap hari ia berharap akhir pekan segera tiba supaya ia bisa bertemu dengan wanita pujaannya itu.


"Pa, jangan! Mas Arjun dan Renjun menungguku!" Rima berusaha menyingkirkan Sandi darinya.


Rima akhirnya terdiam.


"Jangan protes terus. Kalau aku sudah puas, kaku juga boleh kembali ke sana. Layani aku dulu sebentar di sini," pinta Sandi.


"Nanti malam! Aku bisa melakukannya nanti malam, Pa," kata Rima yang masih berusaha bernegosiasi.


"Nanti malam juga. Tapi, sekarang aku benar-benar bisa mati. Aku sudah mencapai batas kesabaranku. Ayo kita lakukan sekarang dan kamu bisa cepat kembali ke sana," rayu Sandi.


Rima menyerah. Ia membiarkan lelaki itu berbuat sesuka hari kepada dirinya. Dengan mudahnya Sandi meloloskan satu persatu pakaian yang Rima kenakan.


Keduanya saling bermesraan mengabaikan dimana tempat mereka berada. Hasrat yang telah berkuasa akhirnya melingkupi pergulatan di antara keduanya.

__ADS_1


Rima hanya berharap ayah mertuanya segera menyelesaikan hal terlarang itu agar ia bisa crpat kembali pada putranya.


Sementara, di area parkir tampak seorang petugas parkir yang lewat di sana. Ketika ia melihat salah satu mobil terlihat aneh, ia hendak mendekat ke mobil yang tengah berguncang itu.


"Kenapa mobil itu," guman lelaki itu.


Ketika ia hampir mendekat, ada seorang lelaki berperawakan gagah yang menghadangnya. Orang itu muncul dari balik tiang sehingga membuat kaget. Tatapan matanya tajam seakan memberi isyarat agar ia menghindar.


Mobil itu tampak semakin jelas bergoyang dan sesekali terdengar suara dari dalamnya.


"Boleh saya mengecek mobil itu?" tanya sang petugas parkiran.


"Cepat pergi dari sini! Anggap kamu tidak melihat apapun!" kata lelaki berwajah sangar itu.


"Tapi, ini tugas saya untuk memastikan keamanan di tempat ini," ucap sang petugas parkir.


"Bosku sedang bercinta di dalam. Jadi jangan mengganggunya!" tegas lelaki itu.


Sang petugas parkir tampak tertegun mendengar ucapan yang begitu lugas terlontar dari mulut lelaki itu.


"Ah, begitu rupanya. Ya sudah, pastikan semuanya aman," kata sang petugas parkir dengan kikuk. Ia lantas berbalik badan dan pergi dari tempat itu.


"Ada-ada saja orang jaman sekarang. Punya mobil dan bodyguard masa tidak mampu bayar kamar hotel. Dasar!" gerutu si petugas parkir.


***


__ADS_1


__ADS_2