Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 70


__ADS_3

Sandi, penuh dengan amarah masih mencekik Yunita dengan tatapan yang penuh kebencian. Dia merasa terhina dan marah karena Yunita telah mencoba untuk menghalangi rencananya dengan Rima. Dalam kegelapan ruangan yang redup, suasana menjadi semakin tegang.


"Kamu berani menyuruhku meninggalkan Rima?" Sandi menggeram, suaranya penuh dengan kebencian.


Yunita, meskipun ketakutan, mencoba untuk tetap tegar. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Rima dan Renjun. Berhenti mengganggu mereka!"


Tanpa ragu, Sandi merobek baju yang Yunita kenakan dengan kasar. "Kamu memang benar-benar harus diberi pelajaran!" ancamnya.


Klak!


Pintu apartemen terbuka. Rima masuk ke dalam dan terkejut melihat apa yang tengah terjadi di sana. Ia melihat Sandi tengah bersama seorang wanita. Lebih mengejutkan lagi, wanita itu adalah Yunita.


"Papa! Hentikan!" teriak Rima panik. Ia segera berlari mendekat ke arah Sandi yang tengah mencekik Yunita.


"Apa yang Papa lakukan? Lepaskan Yunita!" seru Rima. Ia sangat terkejut melihat Yunita ada di sana bertengkar dengan ayah mertuanya.


Sandi, dengan tangan yang masih menggenggam erat leher Yunita, menoleh ke arah Rima dengan wajah yang masih diselimuti kekesalan. "Ini bukan urusanmu, Rima! Jangan ikut campur! Pergilah!" katanya.


Rima melihat Yunita yang semakin kesulitan bernapas oleh ulah Sandi. Ia mencoba melepaskan pegangan Sandi dari leher Yunita.


"Lepaskan, Pa!" Rima berusaha keras memisahkan mereka.


"Minggir!" dengan brutal, Sandi mendorong Rima dengan kasar.

__ADS_1


Rima terhuyung dan jatuh, "Ah!" pekik Rima saat keningnya membentur meja yang berada di dekat sana. Darah mulai mengalir dari luka tersebut. Pandangannya menjadi semakin kabur.


Ia melihat Sandi yang semakin brutal. Selain mencekik Yunita, Sandi juga berusaha melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Yunita.


Terlihat Yunita berusaha melawan, namun tenaga Sandi begitu kuat.


"Pa, apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Rima dengan nada sedih.


Ia datang ke apartemen berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Sandi. Arjun sudah tahu segalanya, tidak ada gunanya lagi bagi dirinya untuk terus menyembunyikan hal itu.


Akan tetapi, ia justru melihat peristiwa yang mengejutkan. Yunita sudah lebih dulu di sana sedang dicekalai oleh Sandi.


"Dia ingin kita berpisah, Rima! Bukankah keterlaluan orang lain berusaha ikut campur dengan hubungan kita?" Amarah Sandi belum mereda. Apalagi melihat tubuh Yunita yang semakin terbuka di hadapannya.


Rima merupakan wanita yang sempurna untuknya. Namun, Yunita juga memiliki pesona yang tidak bisa ditolaknya.


"Hah! Untuk apa kamu peduli padanya? Dia akan sangat senang melihat hubungan kita hancur. Jadi, lebih baik aku juga menghancurkannya biar kita sama-sama kena imbasnya!" kata Sandi.


"Ah! Lepaskan aku! Rima, tolong!" Yunita meronta saat lelaki cab ul itu mulai menyentuh tubuhnya. Ia menangis merasa kotor saat tangan itu menjamahnya. "Lepaskan! Lepaskan!"


"Teriak sesukamu, tidak ada yang akan mendengar!" kata Sandi.


Yunita terus berteriak dan mulai menangis. Suaranya turut membuat Rima menangis. Rima menyadari bahwa lelaki itu tak cukup sudah menghancurkannya dan kini juga ingin menghancurkan sahabatnya.

__ADS_1


Rima menangis tersedu-sedu seakan tak berdaya untuk menolong Yunita. Saat sudut matanya mengarah pada tempat stik golf yang terlerak di sudut ruangan, ia seakan punya kekuatan untuk kembali berdiri.


Benturan di kepalanya sampai hilang rasa. Ia berjalan tertatih menghampiri stik golf itu. Stik golf yang dibelikan Arjun untuk ibu mertuanya ternyata ada di sana.


Rima mengambil stik golf itu dengan tatapan kosong. Suara jeritan Yunita masih terdengar di telinganya.


Perlahan ia kembali berjalan mendekat ke arah Sandi dan Yunita.


Bug!


"Ah!" pekik Sandi


Bug! Bug! Bug!


"Ah! Rima!" teriak Sandi.


Berkali-kali Rima memukulkan stik golf itu dengan keras dan tanpa ampun ke arah Sandi. Ia sudah hilang akal dan tidak bisa menghentikan perbuatannya.


"Aahh ...!" Rima tersadar. Ia langsung membuang stik golf yang sejak tadi berada di tangannya. Tubunya limbung melihat darah yang bercucuran dan Sandi tergeletak tak bergerak di sana.


Ia gemetaran melihat kamar yang tiba-tiba saja dipenuhi dengan darah. Ia telah membunuh seseorang.


"Aahhh ...." sekali lagi Rima berteriak hingga akhirnya ia menangis dengan keras.

__ADS_1


Yunita yang sedari tadi ikut mematung juga perlahan bangkit menjauh dari dekat tubuh Sandi. Dengan langkah yang gemetar dan penampilan yang hampir tel anjang, Yunita mendekat ke arah Rima. Keduanya saling berpelukan dan menangis.


***


__ADS_2