
"Rima, masa kamu tega tidak mau bertemu dengan Renjun?"
Yunita berusaha membujuk Rima agar mau menemui anaknya sendiri. Sudah berhari-hari Rima tinggal di tahanan dan tidak mau menemui Renjun.
"Dia terus merengek minta bertemu denganmu," bujuk Yunita.
Rima hanya terdiam sembari menyandarkan punggung pada dinding. Sebelum pengadilan memutuskan kasusnya, ia ditempatkan di ruangan khusus karena dalam kondisi hamil.
"Rima," panggil Yunita.
"Aku kan sudah bilang, Yun. Aku tidak mau menemui Renjun. Kalau kamu tidak sanggup merawatnya, masukkan dia ke panti asuhan," katanya.
Mata Yunita berkaca-kaca. Ia sampai menghela napas mengingat sangat susah membujuk sahabatnya itu. Rima seperti orang yang sudah tidak punya harapan hidup.
"Kamu tahu bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kamu menemui Renjun. Bagaimanapun juga, dia tetap anakmu," kata Yunita.
Rima menggeleng. "Kalau bisa buat Renjun melupakanku. Jangan sampai dia tahu jika wanita sepertiku adalah ibunya."
"Rima!" bentak Yunita. "Memangnya apa gunanya kamu mau menghukum dirimu sendiri seperti ini?" Ia sangat marah dan hilang kesabaran dengan sikap Rima.
__ADS_1
Rima menyodorkan sebuah buku rekening beserta kartunya kepada Yunita. "Bawa ini, tabunganku selama bekerja. Bisa kamu gunakan untuk membesarkan Renjun."
Brak!
Yunita bangkit dari tempatnya seraya menggebrak meja. "Aku tidak tahan lagi dengan sifat keras kepalamu ini!"
"Kamu pikir aku suka dengan kondisiku, hah?" Rima turut mengeluarkan emosinya. Ia berbicara dengan nada yang tinggi seperti Yunita. "Semua tidak bisa akan sama seperti semula. Hidupku sudah hancur!"
"Kalau hancur tinggal diperbaiki, kan? Atau bangun ulang dari awal," ujar Yunita.
"Hahaha ...." Rima menertawakan perkataan Yunita. "Bicara memang gampang. Kamu tidak akan tahu jika tidak mengalaminya sendiri!" ia membuang muka tak ingin menatap Yunita lagi.
Rima terdiam sesaat. Air matanya kembali jatuh dan tangisannya pecah. "Hua .... Hiks ... Hiks!"
Yunita tidak tega melihat Rima yang menangis sesenggukkan. Belas kasih mendorongnya untuk mendekat dan memeluk Rima.
"Dosaku sudah sangat banyak, Yun ... Aku tidak pantas hidup lagi. Huhuhu ...." kata Rima sembari menangis dalam pelukan Yunita.
"Kamu ini kenapa begini sih?"
__ADS_1
"Aku tidak sanggup hidup di luar tempat ini, Yun. Semua orang pasti sudah tahu seperti apa aku."
Yunita berusaha memahami ketakutan Rima yang lebih menginginkan tinggal di sana. "Masih ada aku yang peduli padamu, Rima. Kenapa kamu harus takut?"
Rima menggeleng. "Aku tetap tidak bisa, Yun. Bahkan aku lebih baik mati dari pada harus keluar dari sini," ucapnya.
"Jangan pernah bicara begitu, Rima!" kata Yunita.
"Aku tidak pantas dimaafkan. Hiks! Hiks!"
Yunita menghela napas. "Sepertinya kamu lebih perlu memaafkan dirimu sendiri sebelum mengharapkan pengampunan dari orang lain. Coba belajar menerima kondisimu. Aku yakin suatu saat, orang lain juga akan bisa menerimamu."
Rima melepaskan pelukannya. Ucapan Yunita sedikit banyak mampu menenangkan hatinya.
Yunita mengambil selembar tisu dan mengusap sisa air mata di pipi Rima. "Jangan menolak lagi bantuan dari orang-orang yang peduli padamu, Rima. Dan jangan dengarkan hujatan dari orang-orang yang tidak menyukaimu. Setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Kalau nanti kamu sudah keluar dari sini, ayo kita pindah ke kota lain. Atau kita bisa pindah negara kalau perlu," katanya.
Rima tertawa kecil. "Kamu ini kenapa jadi mengurusku terus, Yun. Kamu juga perlu fokus pada kehidupanmu sendiri," ucapnya.
"Hidup di dunia hanya sekali, Rima. Aku ingin melakukan hal yang membuatku bahagia. Salah satunya membantu teman terbaikku," kata Yunita.
__ADS_1