
"Oh, Ya Tuhan, ternyata baterainya habis," gumam Rima saat melihat ponselnya yang dalam kondisi mati.
Ia baru saja keluar dari apartemen milik Sandi. Dia melihat ponsel untuk mengecek jika ada yang menghubunginya selama ia di sana. Ternyata ponselnya mati.
Saat sebuah taksi melintas di depannya, ia menghentikan taksi tersebut. "Pak, antarkan saya ke alamat XXX," katanya.
"Baik, Bu," jawab sang sopir taksi.
Rima berniat untuk pulang sejenak ke rumah. Hari masih sore, ia akan mengambil beberapa pakaian ganti untuk dibawa ke rumah sakit.
"Di rumah sakit pasti sudah ada Yunita dan Mas Arjun. Mudah-mudahan Renjun tidak rewel," lirihnya sembari mengarahkan pandangan ke samping kaca jendela.
Beberapa waktu kemudian, taksi tersebut akhirnya sampai di depan kediaman Rima. "Terima kasih, Pak," ucap Rima seraya memberikan uang ongkos taksi.
Rima melangkahkan kaki memasuki halaman rumah. Para pelayan yang berpapasan dengannya tampak sedikit menunduk memberikan salam. Ia lantas berjalan lurus menuju kamarnya.
Ia cukup terkejut mendapati kondisi kamarnya yang terang benderang dan Arjun ada di sana.
"Mas Arjun? Mas Arjun pulang? Aku kira masih di rumah sakit menjaga Renjun," kata Rima dengan nada kikuk karena sedikit panik.
"Yunita sudah datang ke sana, kan? Tadi pagi dia mengabari kalau mau melihat Renjun di rumah sakit," lanjut Rima.
__ADS_1
Arjun tetap terdiam di tempatnya tak merespon sedikitpun ucapan Rima. Hal itu membuat Rima menyadari sepertinya lelaki itu dalam kondisi mood yang tidak baik. Senyuman yang Rima tunjukkan perlahan memudar. Ia kebingungan mencari topik pembicaraan.
"Ah, iya, Mas ... Aku punya berita bahagia untukmu!"
Rima terlihat berusaha untuk mencairkan suasana. Namun, usahanya terlihat sia-sia. Arjun tak menggubrisnya.
"Mas, aku sedang hamil!" kata Rima.
Ia berharap Arjun akan menyukai berita itu.
Brak!
Rima masih mematung. Ia baru sekali ini melihat suaminya murka separah itu. Arjun yang lembut berubah menjadi monster menyeramkan saat marah.
"Mas, kamu kenapa?" Rima berusaha bertanya meskipun takut.
Arjun menatap Rima dengan sorot mata tajam penuh amarah. Kekesalannya sudah sampai puncaknya hingga tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.
"Mas, ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Rima lagi.
Arjun menghela napas mencoba mengatur emosinya. "Rima, aku ingin menanyakan sesuatu. Bisakah kamu menjawabnya dengan jujur?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja, Mas. Tanyakan saja," kata Rima dengan tenang.
"Renjun anak siapa?" tanya Arjun.
"Hah, apa?" Rima terkejut Arjun bisa menanyakan hal itu. Ia tertawa kecil. "Jangan bercanda, Mas. Tentu saja Renjun anakmu, anak kita," katanya.
"Bohong!" bentak Arjun.
Rima kembali terkejut. "Maksudmu bagaimana sih, Mas? Jelas-jelas Renjun itu anak kita. Kamu bicara apa?" Rima masih berusaha untuk mengelah.
Srak!
Arjun menghamburkan beberapa lembar kertas ke atas. Rima memungutnya dengan tangan gemetar. Ternyata itu adalah surat keterangan hasil tes DNA.
"Mas, apa kamu yang melakukannya?" tanya Rima dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menhangka bahwa dirinya akan ketahuan sebelum jujur pada lelaki itu.
"Katakan, Rima, siapa ayah biologis Renjun?" tanya Arjun. Ia masih berusaha bersabar menunggu jawaban dari Rima.
Bukannya menjawab Rima malah menangis sambil meringkuk berlutut di lantai. "Huhuhu ... Mas Arjun, Maafkan aku. Huhuhu ...."
***
__ADS_1