
Rima berjalan ke arah meja makan yang sudah dipersiapkan. Suni sudah duduk di sana sambil menyusun piring-piring sarapan. Arjun juga sudah duduk di sebelah ibunya. Mereka tampak ceria, siap untuk memulai hari.
Saat Rima bergabung dengan mereka, senyum hangat menyapa bibirnya. Dia duduk di samping Arjun, memperhatikan hidangan yang terhidang di depannya.
"Selamat pagi, Ma, Sayang," sapa Rima seraya mencium suaminya.
"Pagi, Rima. Hari ini kamu juga bekerja?" tanya Suni.
"Iya, Ma. Lagi sibuk-sibuknya sekarang. Jadi, aku harus rutin masuk kantor terus."
"Kalau bisa dikurangi aktivitasmu, kasihan Renjun masih membutuhkan kamu. Ya, meskipun sudah ada Yunita. Jangan sampai anakmu lebih dekat dengan pengasuhnya," ujar Suni.
"Eum, Masakan Mama terlihat lezat seperti biasa," puji Rima, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa gugupnya. Ia tahu mertuanya tak terlalu suka jika ia berkarir. Namun, jika ia berhenti bekerja, ia akan semakin kesulitan untuk mencari alasan bertemu dengan Sandi. Setidaknya lelaki itu memegang janji untuk tidak mengganggunya di rumah itu.
Suni tersenyum bangga. "Benarkah? Aku selalu senang bisa menyajikan makanan untuk keluarga." wanita paruh baya itu selalu senang setiap ada yang memuji masakannya. Jarang ia bisa menyisihkan waktu untuk membuat sarapan.
Arjun, yang tengah memakan sarapannya, menoleh ke arah ibunya. "Mam, aku ingin bertanya. Akhir-akhir ini, Sandi jarang pulang ke rumah. Ada sesuatu yang terjadi?"
__ADS_1
Suni menghela nafas singkat sebelum menjawab pertanyaan Arjun. "Ayahmu sedang sibuk dengan bisnis baru, Nak. Dia memiliki beberapa proyek yang membutuhkan perhatian penuh. Itu sebabnya dia jarang pulang."
Arjun mengangguk, namun masih terlihat sedikit khawatir. "Oh, begitu. Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja."
Rima memperhatikan ekspresi Arjun dan Suni. Hatinya berdegup kencang, terombang-ambing antara keinginan untuk mengungkapkan kebenaran atau tetap memendam rahasia yang selama ini dia simpan. Dia tahu bahwa jika dia membuka tabir tentang hubungannya dengan Sandi, itu akan menghancurkan kehidupan mereka semua.
Dia memilih untuk tetap diam dan mengamati, berharap segala kebohongan dan rahasia bisa terjaga dengan baik. Tetapi beban itu terasa berat di dadanya, seperti sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Saat mereka melanjutkan sarapan, Rima hanya mendengarkan percakapan antara Arjun dan Suni. Dia berusaha menekan rasa bersalahnya, memainkan peran sebagai istri yang setia dan menyeimbangkan kehidupan keluarga mereka.
Namun, di dalam hatinya, kecemasan dan keraguan semakin merajai pikirannya. Setiap kali mereka membicarakan Sandi atau proyek resort, Rima merasa seperti ada bayangan yang menghantui pikirannya. Dia takut kebenaran akan terbongkar dan membawa konsekuensi yang tak terduga.
Arjun mengangguk, memahami kesibukan ibunya. "Baik, Mam. Semoga pertemuanmu berjalan lancar."
Suni memberikan senyuman terima kasih kepada putranya dan melangkah menuju pintu. Sebelum pergi, ia melirik Rima dengan penuh kehangatan. "Rima, tolong pikirkan lagi tentang pekerjaan dan Renjun," katanya.
Rima tersenyum balasan, tetapi hatinya bergetar. Dia merasa terkoyak antara rasa bersalah dan perasaan tidak nyaman. Setelah Suni pergi, suasana di ruang makan terasa tegang. Arjun memandang Rima dengan tatapan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Jangan terlalu diambil hati ucapan Mama kalau tidak membuatmu nyaman. Aku mendukung apapun keputusanmu," kata Arjun.
Rima menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatasi gelombang emosi yang melanda dirinya. "Iya, Mas. Terima kasih," katanya.
"Mama mengatakan hal itu untuk kebaikan kamu juga, bukan hanya karena Renjun. Dia sangat menyayangimu, Sayang," kata Arjun lagi. Ia meraih tangan istrinya dan mengenggamnya. "Mama menyayangimu setulus aku menyayangimu, Rima. Percayalah."
Rima tersentuh oleh kata-kata suaminya. Dia tahu bahwa Arjun adalah orang yang setia dan penuh kasih sayang. Tetapi dalam hatinya, dia merasa semakin terjebak dalam kebohongan yang rumit.
Arjun mencium kening Rima dengan lembut. "Aku mencintaimu, Rima. Kita akan menghadapi semua cobaan ini bersama-sama. Jangan ragu untuk berbagi apa pun yang ada di pikiranmu."
Rima tersenyum pahit, berjuang dengan beban rahasia yang terus menghantuinya. Dia menggenggam tangan Arjun erat-erat, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tetapi di balik senyumnya, hatinya terus berteriak dengan pertanyaan yang tidak terjawab.
"It's okay. Aku baik-baik saja, Mas," kilahnya.
Namun, meskipun mereka mencoba mempertahankan kehidupan keluarga yang normal, Rima tidak bisa menyingkirkan rasa bersalah dan kecemasan yang merayap di hatinya. Setiap hari, ketika Arjun tidak melihat, dia berusaha menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Dia harus mencari cara untuk mengakhiri hubungan terlarangnya dengan Sandi tanpa menghancurkan kehidupan mereka.
Dalam diam, Rima berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menemukan jalan keluar.
__ADS_1
***