
"Sebentar lagi aku akan dipenjara karena telah membunuhnya. Tapi, aku merasa lega akhirnya dia sudah mati. Tidak akan ada lagi yang menggangguku," kata Rima.
"Mas," panggil Rima.
"Apa?"
"Aku akan tinggal di penjara. Aku tidak bisa untuk menjaga Renjun. Biarkan dia tinggal bersama Yunita. Atau kalau tidak, masukkan saja Renjun ke panti asuhan. Kamu tidak ada kewajiban untuk mengasuhnya. Dia bukan anak mandungmu, Mas," kata Rima.
Arjun hanya terdiam mendengar permintaan Rima.
"Kamu bisa mengirimkan surat perceraian jika sudah lengkap. Aku akan menandatanganinya. Namamu bisa rusak kalau masih menjadi suami dari wanita bejat sepertiku," kata Rima.
"Tata lagi hidupmu, Mas. Maaf aku sudah merusaknya. Aku yakin kamu bisa menemukan wanita lain yang lebih tepat dariku."
Air mata meleleh di pipi Rima. Bagaimanapun juga, ia merasa sedih untuk melepaskan lelaki yang sangat dicintainya.
"Rima!"
Terdengar seruan dari aran pintu yang membuat keduanya terkejut. Terlihat Suni berdiri di sana dengan wajah merah padam.
__ADS_1
"Mama?" lirih Arjun. Ia tak menyangka mamanya juga akan datang ke sana.
"Kamu! Setan apa yang merasuki sampai kamu tega membunuh ayah mertuamu sendiri, hah!" maki Suni seraya berjalan mendekat ke arah Rima.
"Kenapa kamu membunuh ayah mertuamu? Apa kamu sudah gila?"
Suni mencengkeram kerah baju Rima. Ia meluapkan emosinya mengetahui sang suami ternyata dibunuh oleh menantunya sendiri. Ia berusaha memukuli Rima sambil marah dan menangis.
"Ma, sudah, Ma, hentikan!" pinta Arjun seraya menjauhkan ibunya dari Rima.
Rima tetap diam. Ia menerima saja saat cakaran ibu mertua mengenai pipinya.
"Tenangkan diri Mama dulu, jangan emosi," kata Arjun mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang? Suamiku mati dibunuh istrimu! Kepalanya hancur! Istrimu itu psikopat, Arjun! Bisa-bisanya kamu punya istri seperti dia!"
Arjun yang berniat menengahi malah terkena omelan. "Pak Hasan, tolong ajak Mama keluar," pintanya kepada sang sopir yang masih menunggu di depan pintu.
Pak Hasan segera berlari menghampiri. "Nyonya, ayo kita keluar," katanya.
__ADS_1
"Arjun! Istrimu harus dihukum berat! Aku tidak sudi memiliki menantu psikopat seperti dia!" tegas Suni.
"Iya, Ma, iya!" kata Arjun.
Suasana kembali lengang setelah Suni keluar dari ruangan itu.
Rima tertawa kecil. Ia kembali memikirkan bahwa pahitnya kehidupan yang harus dijalani tak terlepas dari keinginan wanita itu untuk memiliki cucu.
"Seandainya aku tidak melahirkan Renjun, mungkin sudah lama aku akan diusir oleh Mama dari rumah itu. Mama bahkan pernah berniat mencarikan istri kedua untukmu demi mendapatkan cucu. Bagaimana kalau Mama tahu jika Renjun adalah anak suaminya? Mama pasti akan melaknatku," gumamnya.
"Apa kamu sekang ingin menyalahkan Mama?" tanya Arjun dengan nada tidak senang.
"Tidak, Mas. Tidak ada orang yang salah. Aku yang salah," kaganya sembari mengulaskan senyuman.
"Aku mau pergi," pamit Arjun.
Rima mengguk. "Pergilah, Mas. Kalau bisa jangan datang dan menemui aku lagi. Segala urusan di antara kita, biar diselesaikan oleh pengacara."
"Baiklah kalau itu maumu," kata Arjun. Lelaki itu tanpa ragu berbalik badan dan meninggalkan Rima.
__ADS_1
Suara langkah kaki Arjun terdengar dengan jelas di telinga Rima. Wanita itu memeluk lututnya ia mengatupkan kedua bibir agar tidak lagi menangis. Kini, Rima benar-benar yakin dengan keputusannya. Ia akan melepaskan lelaki yang selama ini diperjuangkannya.