Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 38


__ADS_3

Suara gemericik air dari shower mandi mengucur membasahi tubuh Rima. Rasanya menyegarkan setelah seharian berjibaku dengan aktivitas pekerjaan yang melelahkan.


Usai membasuh tubuh, Rima lantas menyahut bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang masih basah. Sembari bersenandung, ia menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia poleskan beberapa produk skincare pada wajahnya lalu menanggalkan bathrobe dan menggantinya dengan baju tidur.


"Mas Arjun sudah pulang apa belum, ya?" gumamnya pada diri sendiri.


Arjun mengatakan bahwa dirinya akan lembur di kantor dan kemungkinan akan pulang larut malam. Sementara, ia sudah pulang ke rumah sejak sore.


Srek!


Rima membuka pintu kamar mandi memasuki ruang kamar yang masih terlihat sepi. Pertanda sang suami belum pulang.


"Ah!" jerit Rima.


Jantung Rima rasanya mau lepas. Debarannya sangat cepat membuat napasnya tersengal-sengal. Seketika tubuh Rima mematung menatap sosok seorang lelaki tengah berdiri di pintu kamarnya yang tertutup sembari melipat tangan dan melayangkan pandangan yang menyiratkan rasa tidak suka.


"Pa ... Papa," ucapnya dengan setengah gemetar. Ia sudah merasakan firasat yang kurang baik melihat kehadiran lelaki itu di sana.


"Kenapa kaget begitu? Sudah biasa melihatku setiap hari, kan?" kata Sandi.


"Ada perlu apa, Pa?" tanya Rima yang kembali mulai ketakutan.

__ADS_1


"Papa ingin bicara berdua denganmu," jawab Sandi.


"Kalai begitu, kita bicara di luar saja, Pa."


"Kita bicara di sini saja!" tegas Sandi.


Sandi dengan sengaja mengunci pintu yang ada di belakangnya.


Rima menelan ludah. Ia gemetaran apalagi ketika Sandi mulai melangkah mendekat ke arahnya. Dengan sigap ia berlari menuju ke arah pintu penghubung kamar Renjun.


Brak!


Belum sempat membuka pintu, Sandi sudah lebih dulu menahan pintu itu agar tidak terbuka.


"Pa, tolong jangan ganggu aku," pinta Rima.


"Siapa yang mau mengganggumu? Papa ini sayang sekali padamu," kata Sandi seraya merengkuh pinggang Rima dan memeluknya.


"Pa ...." Rima merengek. Tubuhnya gemetaran karena ketakutan. Air matanya meleleh sembari terisak. Ia merasa terpojok dan tak bisa mengelak dari kegilaan lelaki itu.


Sandi dengan tanpa peduli dengan perasaan Rima, tetap memeluknya seraya menghirup aroma tengkuk wanita yang sudah lama ia rindukan. "Kamu habisa mandi, ya? Wangi sekali," pujinya.

__ADS_1


Rima tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa menangis sesenggukan dengan perlakuan yang ayah mertuanya berikan.


"Pa, tolong keluar dari sini. Sebentar lagi mas Arjun pulang," rengek Rima dengan nada yang masih gemetar.


"Kenapa memangnya kalau dia pulang? Biar dia tahu sekalian kan, bagaimana hubungan kita?" tantang Sandi.


"Huhuhu ... Pa, please, jangan seperti itu, aku mohon," ucap Rima memelas.


"Aku sudah sangat tersiksa dengan kelakuanmu yang seperti ini. Sudah dua tahun tidak bertemu, setiap detik tak bisa aku melupakanmu, Rima. Kenapa kamu berusaha menjauh terus dariku?"


Batas kesabaran Sandi rasanya sudah habis. Ia tidak tahan lagi untuk bersabar dan mengalah dengan kelakuan Rima yang selalu menjauhinya. Ia ingin terus sedekat itu dengan menantunya.


"Pa, please jangan ganggu aku terus." Rima masih berusaha memohon belas kasihan dari Sandi.


Sandi semakin mengeratkan pelukannya. Dengan sengaja ia menggigit sedikit keras di area pundak Rima hingga meninggalkan bekas sampai membuat Rima menahan erangannya. Ia menciumi bekas luka yang ia buat sendiri.


"Sepertinya orang-orang akan mulai semakin curiga dengan kita. Apalagi mereka sudah tahu kalau aku dan Renjun punya alergi yang sama," kata Sandi dengan nada berbisik di telinga Rima.


***


__ADS_1


__ADS_2