Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 37


__ADS_3

"Kasihan sekali cucuku ini," ucap Suni sembari memeluk Renjun. "Sayang, nanti oma ajak kamu ke toko mainan setelah ini. Kamu bisa pilih apa saja yang kamu mau. Jangan sedih lagi, ya!" sambungnya.


Mata Renjun langsung berbinar mendengar ucapan sang nenek. Ia bahkan sampai lupa tentang lobster yang tadi membuatnya sedih. "Yes! Aku mau beli dinosaurus yang besar!" katanya dengan semangat.


"Oh, Renjun suka dinosaurus, ya?" tanya Sandi.


Renjun mengangguk. "Iya, aku suka sekali dinosaurus," jawabnya.


Acara makan malam yang sempat terganggu akhirnya bisa berlangsung dengan hangat. Renjun sudah tidak rewel lagi dengan permintaannya. Ia menyantap spaghetti dengan lahap sembari mengingat bahwa sang nenek nantinya akan mengajaknya membeli makanan.


"Memangnya Renjun pernah sampai alergi begitu karena udang?" tanya Suni sembari menikmati makanannya.


"Sudah pernah beberapa kali, Ma. Bahkan waktu masih bayi juga pernah," jawab Arjun.


"Masih bayi? Kok bisa? Memangnya kalian beri Renjun makan udang sejak bayi?" tanya Suni kaget sembari membulatkan matanya.


"Tidak, Ma. Itu karena Rima yang makan udang terus men yusui Renjun," kata Arjun.

__ADS_1


"Ah, begitu, ya," gumam Suni. "Kok jadi seperti kebetulan sekali," ucapnya.


"Kebetulan bagaimana, Ma?" tanya Arjun penasaran.


Suni menoleh ke arah suaminya. Pandangan mata mereka bertemu. "Papamu ini juga punya alergi sea food. Kalau makan kerang-kerangan atau udang juga langsung merah-merah dan sampai parahnya bisa sesak napas juga," katanya.


"Oh, Papa punya alergi juga," kata Arjun.


Sandi dan Rima saling bertatapan. Keduanya hanya bisa diam sembari mendengarkan percakapan itu.


"Rima, maaf, ya, tadi Mama sempat kesal sama kamu. Soalnya Mama tidak tahu kalau cucu kesayangan Mama ini punya alergi," kata Suni.


Rima menyunggingkan senyuman kikuknya. "Iya, Ma, tidak apa-apa," ucapnya.


Selesai acara makan malam, Suni menepati janjinya untuk mengajak Renjun ke toko mainan. Seperti seorang anak raja, Renjun begitu dimanjakan oleh nenek dan kakeknya. Rima dan Arjun bahkan hanya bisa melihat saja dari kejauhan.


"Kayaknya anak kita sangat bahagia," kata Arjun.

__ADS_1


"Renjun seperti tidak pernah dibelikan mainan saja. Aku rasa kamarnya nanti bakalan jadi toko mainan," ucap Rima.


Arjun tertawa kecil. "Biarkan saja. Mama sepertinya sedang meluapkan kebahagiaan selama dua tahun yang tidak diperolehnya. Dia senang sekali bisa melihat cucunya," kata Arjun.


Rima menoleh suaminya dan memandangi wajahnya. Terkadang ia tidak tega untuk terus membohongi lelaki tulus dan baik hati itu. Ingin ia berkata jujur namun belum sanggup untuk kehilangan lelaki itu.


"Aku tidak menyangka kalau Papa bakalan sehangat itu dengan anak kita. Meskipun dia hanya ayah tiriku, tapi dia bisa bersikap seperti seorang kakek yang sangat baik pada Renjun," ucap Arjun ketika melihat Sandi tengah menggendong Renjun di atas pundaknya sembari berlari kecil di area toko mainan itu. Renjun dan orang tua Arjun tampak terlihat bahagia.


Ingin rasanya Rima menitihkan air mata. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia justru sedih melihat anaknya bersama Sandi. Ia tak ingin mengakui bahwa anak yang dilahirkannya merupakan benih dari lelaki yang tak lain adalah mertuanya sendiri.


"Mas, aku ingin pindah rumah," lirih Rima.


Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah Arjun kembali memudar. Istrinya kembali meminta sesuatu yang sulit untuk ia wujudkan.


***


__ADS_1


__ADS_2