
"Aku dengar kamu minta pindah rumah kepada Arjun, hm? Kamu mau mencoba menghindar dariku, ya?" tanya Sandi. Ia membalikkan tubuh Rima sehingga menghadap padanya.
Diangkatnya dagu Rima agar pandangan matanya mengarah kepadanya. Wanita itu masih terisak dengan tatapan yang memelas. Namun, ia tak akan lagi mengalah kepadanya. Sudah sangat lama ia bersabar untuk Rima dan kesabarannya tak disambut baik oleh wanita itu.
Paras cantik Rima selalu bisa menggetarkan hatinya. Betapa ia ingin menguasai wanita itu untuk dirinya sendiri.
"Kamu jangan macam-macam denganku, Rima. Kalau kamu masih ingin bertahan di rumah ini, turuti semua keinginanku. Aku akan membiarkanmu tetap berstatus sebagai memantu dari keluarga ini tanpa masalah sedikitpun. Tapi, kalau kamu memang ingin mengakhiri semuanya, biar kita bongkar saja rahasia tentang Renjun. Aku yakin mereka tak akan segan untuk menendangmu keluar dari rumah ini."
Sandi memberikan penawaran yang sangat sulit untuk Rima. Ancaman lelaki itu sungguh membuatnya ketakutan.
"Papa mau apa dariku?" tanya Rima dengan berlinang air mata.
Sandi menyeringai. Ia menyelipkan helaian rambut Rima yang berantakan ke belakang telinga. "Kamu pasti sudah tahu apa yang aku mau," ucapnya.
Air mata yang mengalir di pipi Rima semakin deras. Tetapi, hal itu tidak menyurutkan Sandi untuk menekan wanita itu.
"Aku punya apartemen di daerah XXX. Aku mau kamu datang ke sana setiap akhir pekan. Rahasiamu akan aman selama kamu mau melakukan apa yang akan aku mau," kata Sandi.
Rima terlihat semakin tersudut dan tidak punya pilihan lain.
"Pengasuh Renjun itu juga sepertinya sangat curiga kepadaku. Aku akan lebih menjaga sikap jika sedang di rumah agar tidak membuat orang lain curiga, termasuk Yunita. Tapi, kalau memang kamu tetap tidak mau diajak kompromi, aku rasa kita lebih baik diusir berdua dari rumah ini," lanjut Sandi.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat perhatian Sandindan Rima teralihkan.
"Sayang, buka pintunya. Kenapa dikunci?"
Terdengar suara Arjun dari luar. Rima melebarkan mata akibat terkejut. Debaran jantungnya juga kian cepat.
"Pa, please, pergi dari sini. Mas Arjun sudah pulang," pinta Rima.
"Aku ingin mendengar keputusanmu dulu baru setelah itu aku pergi," mata Sandi.
Sandi menggeleng. "Kalau kamu tidak mau menjawabnya, aku akan tetap di sini."
Sorot mata Sandi menunjukkan kesungguhan. Sementata, di luar sana Arjun masih mengetuk pintu dan meminta Rima membukanya.
"Pergi sekarang, aku akan melakukan apa yang Papa mau!" kata Rima terpaksa.
Sandi menyeringai senang. Ia membuka pintu penghubung ke kamar Renjun yang tersambung dengan kamar Rima. Sebelum pergi, ia sempat memeluk tubuh Rima serta memagut bibir wanita itu beberapa saat.
"Sayang ... Rima ...."
__ADS_1
Rima menghapus air matanya. Ia juga mengelap bibir yang baru saja dinodai oleh lelaki itu. Sembari menata perasaan, ia berjalan menghampiri pintu dan membukakannya untuk Arjun. Ia mengulaskan senyum saat melihat Arjun berdiri di depan pintu.
"Kamu sudah pulang, Mas," ucap Rima dengan ekspresi bahagia yang dipaksakannya.
Arjun mengerutkan dahi melihat istrinya. "Kenapa pintunya dikunci, Sayang?" tanyanya.
Rima memeluk tubuh Arjun seolah ingin mengalihkan topik itu. "Aku tadi sedang mandi, Mas. Maaf, ya," rayunya.
Rima lantas menuntun sang suami untuk masuk ke dalam kamar.
"Matamu kok sembab. Kamu habis menangis, ya?" tanya Arjun.
"Ah, memangnya kelihatan, ya?" tanya Rima sembari mengusap sisa-sisa air mata yang masih kentara di pipinya.
"Ada masalah apa?" telisik Arjun. Ia merasa terkadang istrinya bersikap aneh dan membuatnya curiga.
"Masalah apa, sih?" Rima tertawa kecil untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. "Aku tadi berendam sambil nonton film yang mengharukan, Mas. Makanya tadi nangis," kilahnya.
***
__ADS_1