Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 81


__ADS_3

Rima duduk dengan tatapan kosong di ruangan yang tenang, dihadapkan pada seorang psikiater yang duduk di depannya. Suasana terasa tegang, mencerminkan beban berat yang ada di dalam ruangan tersebut. Dinding-dinding putih yang bersih mencerminkan cahaya lembut dari lampu ruangan, menciptakan atmosfer yang tenang namun tegang.


"Ibu Rima, saya di sini untuk membantu. Saya ingin memahami apa yang sedang Anda alami. Bicaralah kepada saya, mari kita cari solusi bersama," kata sang psikiater bernama Tika yang ditugaskan untuk menangani kasus Rima.


Rima, dengan tatapan kosong yang mendalam, diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, seolah-olah ia terpisah dari dunia luar.


Tika memperhatikan keadaan Rima. "Ibu Rima, saya tahu bahwa Anda telah mengakui kejahatan yang Anda lakukan. Namun, penting bagi kita untuk memahami alasan di balik tindakan itu dan mencari jalan untuk memperbaiki diri Anda." Ia terus berusaha untuk memancing Rima agar mau bicara. Ia sudah tiga puluh menit berada di sana.


Rima tetap diam, matanya kosong dan tanpa ekspresi. Ia tampak tenggelam dalam kehampaan yang sulit dijelaskan.


"Ibu Rima, apa yang sedang Anda rasakan sekarang? Apakah Anda merasa lega setelah mengakui tindakan Anda?"


Tika terus berusaha menggali informasi. Meski kesal, ia berusaha sabar menghadapi wanita yang tampak depresi itu.


Rima tetap tidak menjawab. Tatapannya yang kosong terus menatap ke kekosongan, seolah-olah melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.

__ADS_1


Tika memasang wajah memelas. "Ibu Rima, Anda tidak perlu melalui ini sendirian. Ada bantuan yang tersedia untuk Anda. Kita dapat mencari cara untuk membantu Anda mendapatkan dukungan yang Anda butuhkan. Kami bisa mengupayakan kebebasan Anda."


Rima, dengan tenang, menggelengkan kepalanya. Suara lembutnya terdengar tetapi jelas dalam ketidakhadirannya. "Saya tidak ingin bantuan. Saya pantas menerima hukuman atas tindakan saya. Biarkan saya tinggal di penjara. Saya tidak ingin dibebaskan," katanya.


Tika melebarkan mata, terkejut mendengar ucapan Rima. "Ingatlah, Anda sekarang sedang hamil, Ibu Rima."


Biasanya tersangka akan merasa senang jika kemungkinan bisa lolos dari hukuman. Namun, Rima berbeda. Ia menolak untuk dibebaskan dari tuntutan hukumannya.


Rima tersenyum kecil. "Apa boleh aku menggugurkannya?"


"Saya tidak mengharapkannya ada."


"Dia tidak punya salah apa-apa, Ibu!" Tika memotong ucapan Rima. "Dia tidak bisa memilih untuk tumbuh di rahim yang mana. Apakah Anda tega untuk menyakiti calon bayi yang sama sekali tidak berdosa?"


"Lalu harus bagaimana? Hidupku sudah hancur. Kalau dia lahir nanti akan dihujat karena memiliki ibu sepertiku," katanya.

__ADS_1


Tika menggeleng. "Seburuk-buruknya seorang ibu di mata orang, dia akan selalu terlihat seperti malaikat di mata anak-anaknya."


Tika mengambil tangan Rima dan menggenggamnya. "Anda harus semangat. Demi diri sendiri, juga untuk calon anak Anda," bujuknya. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan Anda," sambungnya.


Rima melepaskan tangan itu. "Saya tetap ingin tinggal di sini," katanya dengan kekeh.


"Anda akan kesulitan jika ditempatkan di sel biasa. Apalagi Anda sedang hamil. Apa yang terjadi juga tidak sepenuhnya kesalahan Anda," kata Tika.


Rima terdiam. Tika memahami bahwa wanita yang kini ada di hadapannya seperti tengah ingin menghukum dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi.


"Rima, penting untuk dipahami bahwa kehidupan Anda juga berharga. Anda memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menciptakan masa depan yang lebih baik, terutama untuk anak yang Anda kandung. Mengapa Anda menolak bantuan untuk membebaskan diri dari beban ini?"


Rima masih diam, matanya tetap kosong, tetapi ada keraguan yang samar muncul di dalamnya. Ia tampak terjebak dalam keputusasaan yang mendalam.


"Saya akan tetap di sini untuk mendengarkan dan membantu Anda jika Anda siap untuk menerima bantuan. Jangan biarkan masa depan Anda terkunci dalam kegelapan yang Anda alami saat ini. Anda pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hidup Anda."

__ADS_1


__ADS_2