Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 52


__ADS_3

Jonathan berdiri di lorong apartemennya dengan rasa cemas yang melingkupinya. Sesuatu terasa tidak beres, dan dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kehadirannya di sana hanya untuk memastikan kebenaran, meskipun dia berharap dirinya salah.


Sembari menunggu di sana, ia mengambil sebatang rokok dari sakunya lalu menyulutnya dengan pemantik dan menghisapnya.


"Pak Jonathan?" sapa Bimo.


Petugas kebersihan itu tengah menenteng ember dan alat pel saat melintas di dekat Jonathan.


"Oh. Kamu, Bim. Masih kerja?" tanya Jonathan.


"Iya, Pak," jawab Bimo. "Pak Jonathan ngapain di sini? Kayaknya sekarang punya hobi baru nongkrong di lorong apartemen," selorohnya.


"Hahaha ...." Jonathan tertawa dengan ucapan Bimo. "Lagi pengin aja di sini, merokok sambil berharap ada cewek cantik datang. Siapa tahu jodoh," jawabnya asal.


"Kalau mau ketemu cewek cantik di klab malam kan banyak, Pak. Di sini jarang orang lewat," tutur Bimo.


"Mau merokok, Bim?" Jonathan menawarkan rokok miliknya yang masih baru.


"Tidak, Pak, terima kasih. Kalau saya gabung merokok sama Bapak nanti malah lupa kerja. Sudah, saya permisi dulu mau kerja. Takut dipecat," ujar Bimo.

__ADS_1


"Hahaha ... Kalau kamu dipecat dari sini, pindah saja jadi cleaning service di kantorku. Tanpa wawancara, nanti kamu langsung aku terima," rayu Jonathan.


"Tidak, Pak. Terima kasih. Di sini sudah enak banyak teman. Tapi mungkin kalau apartemen ini bangkrut, baru saya berpikir untuk melamar kerja ke kantor Bapak."


"Hahaha ... Ya sudah sana kerja yang rajin, siapa tahu cepat naik jabatan!"


"Siap, Pak. Permisi, selamat bersantai," ucap Bimo seraya pergi meninggalkan tempat Jonathan berdiri.


Jonathan melanjutkan aktivitas merokoknya. Tatapan matanya kembali mengarah pada pintu apartemen milik Sandi.


Tak lama kemudian, Jonathan melihat sosok seorang wanita keluar dari apartemen yang dimiliki oleh Sandi. Hati Jonathan berdegup kencang saat dia menyadari bahwa wanita itu adalah Rima, istri Arjun. Rasanya seolah dunia seketika berhenti berputar. Rokok Jonathan sampai jatuh ke lantai.


"Iya, kebetulan sekali. Anda dari mana, Ibu Rima?" tanya Jonathan basa-basi.


"Ah, itu, aku baru dari tempat teman sebentar," kilah Rima.


"Dari tempat teman? Teman apa ayah mertua?" sindir Jonathan.


Rima mematung mendengar ucapan Jonathan. Ia langsung ketakutan jika lelaki itu akan mengadukan dirinya kepada Arjun.

__ADS_1


"Bukankah unit apartemen itu milik Sandi, ayah mertuamu?" tanya Jonathan.


Rima terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi yang rumit ini. "Jonathan, aku... aku hanya main ke tempat teman. Ini tidak ada hubungannya dengan ayah mertuaku," jawab Rima dengan suara yang gemetar.


Jonathan tidak terima dengan penjelasan Rima. "Apa teman yang dimaksud adalah ayah mertuamu sendiri? Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" kata Jonathan dengan nada tajam.


Rima tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dia tahu bahwa rahasia terlarang mereka berdua harus tetap tersembunyi. Dalam kepanikan, Rima buru-buru berlalu dari hadapan Jonathan, meninggalkannya dalam kebimbangan dan kebingungan.


"Em, Maaf, ya. Aku harus segera pergi. Aku ada urusan!" kata Rima seraya pergi secepat kilat dari sana.


Jonathan masih berdiri di lorong apartemen, melihat Rima pergi dengan perasaan campur aduk. Dia bingung apakah sebaiknya dia menghadap Arjun dan memberitahunya tentang apa yang baru saja dia saksikan. Hatinya terkoyak antara kesetiaan pada persahabatan mereka dan keinginannya untuk mengungkapkan kebenaran kepada Arjun.


Setelah berpikir sejenak, Jonathan mengambil keputusan sulit. Dia memilih untuk memberi Arjun kesempatan untuk mengetahui kebenaran sendiri. Dia tidak ingin menjadi penyebab keretakan dalam hubungan mereka, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan kebohongan terus berlanjut.


Jonathan menghela nafas dalam-dalam dan mencari kembali keberanian yang ada. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya pada diri sendiri.


***


__ADS_1


__ADS_2