Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 43


__ADS_3

Setelah berurusan dengan rasa bersalah dan ketidakpuasan, Rima memutuskan untuk mengenakan kembali pakaian yang berserakan di lantai. Wajahnya masih mencerminkan kegelisahan dan ketidakpastian atas keputusannya. Ia mencoba merapikan rambutnya yang berantakan dan merias wajahnya yang terlihat kusut.


Saat itu, Sandi keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk di sekitar pinggangnya. Air masih terlihat menetes dari tubuhnya yang masih basah. Ia mendekati Rima dengan langkah perlahan dan memeluknya erat.


"Jangan pulang, Rima. Tinggallah di sini bersamaku," bisik Sandi dengan nada merayu.


Rima mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Sandi, "Pa, aku harus pulang sekarang. Mas Arjun dan Renjun pasti sudah menunggu di rumah."


"Kita pulang bareng saja, ini sudah malam," ajak Sandi.


Rima menggeleng. "Nanti orang rumah curiga. Aku naik taksi saja," ucapnya.


"Kamu tidak mandi dulu?" tanya Sandi.


"Tidak," jawab Rima singkat.

__ADS_1


Mereka berdua saling menatap, penuh dengan rasa yang sulit diungkapkan. Kemudian, Rima mengambil langkah perlahan meninggalkan ruangan. Sandi menyaksikan kepergian Rima dengan hati yang terluka.


Saat pintu ditutup, Sandi duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa hubungan terlarang ini tidak tidak berlanjut, tetapi rasa cintanya tetap membara.


Ia merasa bingung dan terjebak dalam perasaan yang saling bertentangan. Sandi menyadari bahwa ia harus mencari jalan keluar yang lebih baik, baik untuk dirinya maupun untuk Rima dan keluarganya.


Sementara itu, Rima berjalan keluar dari rumah dengan hati yang berat. Ia merasa terbebani oleh rahasia yang harus ia simpan dan pertentangan batin yang terus melanda. Hati nuraninya berteriak agar ia mengakhiri hubungan terlarang itu, tetapi godaan dan emosi yang melibatkan Sandi terkadang membuatnya goyah.


Saat tiba di rumahnya, Rima disambut oleh Arjun yang sedang duduk di ruang tengah. Arjun menatap istrinya dengan kekhawatiran, "Kamu terlambat pulang, Rima. Apa yang terjadi?"


Arjun meraih tangan Rima dengan penuh perhatian, "Kamu tahu kan, kita harus saling berbagi dan saling mendukung dalam setiap hal. Jika ada masalah, katakan padaku."


Rima merasa terenyuh oleh kebaikan Arjun, tetapi rasa bersalah semakin menyiksa dirinya. Ia ingin mengungkapkan semuanya, tetapi ketakutannya akan melukai Arjun dan menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka membuatnya enggan.


Rima menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa, Mas. Hanya sedikit urusan kantor, kok. Biasalah, kalau akhir bulan begini kerjaan numpuk," kilahnya.

__ADS_1


Arjun terlihat bernapas lega. Ia menepuk kepala istrinya dengan lembut. "Lain kali kabari aku kalau ada urusan," pintanya.


"Aku sudah titip pesan sama Yunita, kan. Memangnya dia tidak menyampaikan padamu?" tanya Rima.


"Iya, dia sampaikan kok. Tapi, aku belum puas kalau bukan kamu sendiri yang mengabariku," kata Arjun.


"Iya deh, Mas. Besok-besok aku akan mengabarimu. Aku mau mandi dulu, ya, capek banget soalnya," pamit Rima. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah meletakkan barang-barangnya.


***


Malam itu, Rima berbaring di ranjang mereka dengan pikiran yang kacau. Ia merasakan kekosongan dan kebingungan yang begitu dalam. Ia tahu bahwa harus ada perubahan dalam hidupnya, tetapi ia belum menemukan cara untuk melakukannya.


Sementara itu, Sandi duduk di apartemennya, merenungkan tentang apa yang telah terjadi. Ia menyadari bahwa cintanya terhadap Rima adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Ia merasa perlu melakukan segala upaya untuk menjaga hubungan terlarang ini.


***

__ADS_1



__ADS_2