Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Hai, Steve!


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


Arfan terkejut dengan ekspresi istri pertamanya yang kelewat biasa saja. Dia pikir, akan ada lempar piring, gelas, atau benda yang lain. Tapi, kenapa ekspetasi nya jauh sekali dari kenyataan.


"Kamu ... kamu tidak marah?"


"Siapa maduku, Mas?"


Istri Arfan mengulang pertanyaan yang sama. "Sepertinya dia memang marah yang bersifat cantik, dan tetap tenang," ucap laki-laki itu dalam hati sambil melihat dengan dalam kedua mata Arini.


"Kamu sudah tahu sebelumnya kan?"


"Aku pikir, dua kali pertanyaan ku tadi, bisa kamu jawab dengan satu kata, Mas"


"Sonya"


"Baiklah. Satu hal yang aku pinta ke kamu, Mas. Aku mohon, jangan biarkan perempuan itu tinggal satu atap denganku dan kamu"


Setelah mengucapkan syarat tersebut, Arini langsung pergi ke kamarnya di lantai satu. Dia menutup pintu kamar nya.


"Hiks ... hiks ... hiks ... Kuatkan hati hamba, Ya Allah. hiks ... hiks ...." Arini menangis di balik pintu kamarnya. Dia memegang dengan kuat dadanya.


Di ruang santai, Arfan masih berdiri dengan kaku. Dia melihat ke arah pintu kamar tamu yang tertutup, "dia nangis?," tanyanya saat terdengar suara orang menangis.


"Ya Allah. Semoga pilihan ku untuk menikah lagi, akan memberikan kebahagian dalam keluarga ku. Amin"


*_____*


Arini tetap menjalankan kegiatan sehari-hari seperti biasanya. Dia berusaha ikhlas menerima takdir pernikahannya, yakni kehadiran orang ketiga sebagai istri kedua suaminya. Selama satu minggu itu, dia menyibukkan diri dengan beberapa acara yang menggunakan jasa dari Jasmine Cafe, salah satunya pelanggannya yakni Jacob.


"Semua sudah beres kan," ucapnya dengan bahasa isyarat kepada teman baiknya, Nada.


Sebenarnya, mereka bisa dibilang sebagai teman baik. Tapi, Arini tidak pernah menceritakan kesedihannya kepada Nada. Dia cukup tahu diri, bagaimana kehidupan temannya itu. Jadi, dia tidak ingin membebankan masalah nya kepada Nada. Sepertinya, Farah bisa menjadi pilihan teman curhatnya. Terkadang, mereka bertiga saling bercerita dan tertawa bersama di Jasmine Cafe.


Nada menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Kling


"Kalian sudah siap?," tanya Vano.


"Pagi banget datang"


"Pagi? Jam 9 yang panas seperti ini bukan termasuk kategori pagi deh"


"Yah, aku iyain aja. Bentar, aku mau chat Mas Arfan biar langsung ke rumah Jacob saja. Aku ke sana bareng kalian. Oke"


"Assalamualaikum, Mas"


"Kamu langsung ke rumah Jac aja ya"


"Aku sama teman ku di cafe"


"Iya"


"Waalaikumsalam"


"Udah?," tanya Vano saat dia selesai mengangkut sisa barang yang belum di bawa.


"Iya, kalian baru beres rapat?"


"Kok tau?"


"Hmmm, tadi Mas Arfan nanyain kamu ke mana, baru selesai meeting langsung ngilang"


"Tenang saja, aku ga ada kerjaan kok sampek waktu tidak diketahui"


"Oke sip"


Nada membantu membereskan beberapa meja yang sudah ditinggalkan oleh pelanggan.

__ADS_1


"Hai." Vano menyapa perempuan berhijab di depannya yang sedang menunduk di depan meja. Dia lupa, kawan.


"Ya ampun, ogeb banget sih gue," dia menepuk pelan keningnya.


Vano menepuk pundak sebelah kanan Nada.


Perempuan cantik itu tidak terkejut. Vano bingung.


Vano menulis di buku catatan kecil yang dia ambil di balik jas bewarna navy.


kamu tidak terkejut?


Nada menggelengkan kepalanya sebanyak dua kali.


anda yang antar saya waktu itu ya?


Tanya Nada dengan tulisan di buku nya.


Vano menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


aku tampan ya


Tulis Vano.


sangat


Balas Nada.


Ya ampun, berasa dunia milik kalian berdua ya.


"Kalian ngapain senyum-senyum gitu?," tanya Arini ketika melihat teman baiknya dan sekretaris suaminya.


Mereka berdua kompak menggelengkan kepala.


"Kalian so sweet banget sih. Yuk berangkat"


***


Arini mencari keberadaan suaminya. "Mana ya Mas Arfan"


"Dor"


Perempuan yang mengenakan hijab dan gamis bewarna biru berhasil membuat Arini terkejut. "Astaghfirullah. Farah. Kaget banget ak ... Ya ampun bidadari jatuh dari mana nih"


Arini terkejut melihat penampilan Farah yang tertutup dan terlihat lebih cantik.


"Ya ampun, bidadari. Siapa? Aku? Kamu tuh ya, pinter banget buat aku ada di atas langit"


"Hahaha," dua wanita muslimah itu tertawa bersama.


Tawa berhenti sebab sebab suara bariton yang memanggil Arini. "Hai, Arini"


"Hai, Steve"


Arini dan laki-laki yang ia panggil, Steve, saling tersenyum.


"Eh kok hai sih, Assalamualaikum, Steve"


"Waalaikumsalam, Arin"


Senyuman di wajah mereka membuat Farah heran. Apakah mereka saling kenal?


"Kamu kenal Steve, Arini?"


"Iya"


Steve masih memandang Arini dengan senyuman tampan dan mautnya.


"Eh, kamu kok disini, Steve? Terakhir kali kamu bilang dulu, kamu stay di amrik"

__ADS_1


"Aku dah lama sih di kota, dapat undangan dari salah satu keluarga pasien ku"


"Jacob atau Farah, pasien mu?"


"Aku, Arini," jawab Farah.


"Farah? Kamu ..."


Arini tidak melanjutkan ucapannya. Dia pikir, tidak baik membicarakan hal yang cukup sensitif di tengah jalan seperti ini.


"Nanti aku bakal cerita ke kamu, Arini"


Acara berlangsung dengan khidmat dan lancar. Jef sangat bahagia memiliki teman baru dan ikut membantu Papa dan Mama nya berbagi hadiah kepada tamu undangan. Walaupun Jef tidak menerima hadiah dari para tamu, bocah laki-laki itu tetap bahagia dan tersenyum.


"Kamu masih jadi dokter psikologi di klinik Permata Indah?"


"Hmmm, masih kok. Tapi, ada rencana sih, aku mau buka praktik sendiri."


"Wah, semoga rencananya jadi kenyataan"


"Amin"


"Arin?"


"Iya?"


"Kamu sudah lama tidak konsultasi lagi. Semuanya baik-baik saja kan?"


"Baik. Selalu baik"


Arini memandang ke arah Jef yang asyik membuka hadiah dari teman-teman Papa dan Mama nya, termasuk dirinya. "Mas Arfan kok belum datang ya," tanyanya dalam hati.


"Syukurlah," ujar Steve sambil melihat ke arah yang sama seperti Arini.


"Oh ya, aku kepo sesuatu," tanya wanita berhijab dusty pink dengan memicingkan kedua matanya menatap teman sekaligus ... dokternya.


"Kepo apa?"


"Udah ada yang pas ga di hati kamu?"


Steve malah tertawa sebab pertanyaan dari teman dan pasiennya. Arini juga tersenyum geli karena pertanyaannya tidak dijawab.


Tidak jauh dari mereka duduk, ada sepasang mata yang menatap tajam dengan kedua tangannya yang mengepal begitu kuat. "Siapa laki-laki itu?"


"Om Alpan, yah tu na?"


Arfan terkejut karena pertanyaan tiba-tiba Jef yang berada di depannya.


"Hadiah? Ada kok. Taraaa"


Jef berteriak sambil berlari ke Mamanya, "Mama, da yah Om Alpan"


"Hati-hati, Sayang"


"Acaranya dah selesai, bro. Lo dateng telat eh bukan mending ga usah dateng aja. Kirim online aja hadiahnya," gerutu Jacob sambil menatap kesal ke arah sahabatnya.


Dan orang yang menjadi sasaran kemarahan Jacob, tidak peduli. Dia lebih peduli dengan pemandangan istrinya yang tertawa dengan laki-laki yang tidak pernah ia kenal. "Aku kenal semua teman-teman nya, tapi ... laki-laki itu ... siapa dia?," gumamnya dengan suara yang pelan. Namun, masih dapat didengar oleh Jacob.


"Siapa yang lo maksud?," tanyanya dengan tatapan matanya melihat ke arah Arini dan dokter istrinya dulu.


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.

__ADS_1


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA


############################################


__ADS_2