Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Kritis


__ADS_3

Perlahan Arini membuka kelopak matanya. Dia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. “Ha … us” Lirihnya.


“Ayo minum dulu, Mbak” Sabrina segera membantu Arini minum air putih yang sudah tersedia di meja dekat ranjang.


Arini memejamkan matanya. Satu menit belum berlalu, mata Arini langsung terbuka lebar.


“M-mas Arfan … a-aku mau ke Mas Arfan”


Tanpa menunggu ucapan Sabrina yang kebetulan belum masuk ke dalam kamar mandi. Di ruangan itu hanya mereka berdua saja. Arini hampir saja mencabut selang infus di tangan kirinya. Untung Sabrina berlari ke arah Arini, dan menahan tangan Arini.


“Hentikan, Mbak. Jangan” Sabrina menggeleng kepalanya.


“LEPAS” Arini berteriak dan berusaha melepas genggaman tangan yang ingin menghalanginya untuk bertemu dengan suaminya.


“Mbak harus banyak istirahat dulu, Mbak. Kondisi Mbak lemah”


“AKU NGGAK PEDULI. LEPAS”


Brak


Suara pintu terbuka dari luar terdengar sangat keras. Ayah Andika sontak langsung berlari ke arah putrinya.


“Arin, jangan. Ya Allah, dengarkan Ayah” Ayah Andika berusaha menghalau tangan putrinya yang masih ingin melepas jarum di punggung tangannya.


“Lepas, Ayah. A-aku mau ketemu sama M-mas Ar-arfan … hiks” Tangis Arini pecah begitu saja saat tubuhnya dipeluk dengan erat oleh ayahnya.


“Suami kamu baik-baik saja. Tenang, ingat anak kamu”

__ADS_1


“M-mas Arfan sadar, Yah?” Tanya Arini dengan senyuman manis di bibirnya.


Ayah Andika hanya diam sambil menatap sedih putrinya. Laki-laki paruh baya itu seakan sulit untuk mengatakan kenyataan setelah Arini pingsan tadi. Ya, kondisi Arfan mendadak kritis dan detak jantungnya sempat berhenti.


“Ayah?” Panggil Arini saat ayahnya belum menjawab pertanyaannya.


“Suami kamu baik-baik saja. Sekarang, kamu harus istirahat dulu ya. Supaya kamu bisa merawat dan mendampingi Nak Arfan. Oke?” Bujuk Ayah Andika. Dia berusaha tetap tenang. Sesekali dia melihat istrinya yang menangis di samping perempuan yang telah mengantar anaknya ke rumah sakit.


“Putri kesayangan Bunda harus sehat selalu ya?” Usapan lembut Bunda Rina di kepala Arini berhasil membuatnya mulai memejamkan mata dan kembali terlelap.


Suasana di kamar itu sepi dan sunyi. Ayah Andika dan Bunda Rina duduk di sofa dan saling memeluk satu sama lain. Mereka tertidur setelah makan malam dan berbincang sebentar. Sementara, mertua Arini sedang kembali ke hotel untuk mengganti pakaian, karena sebelumnya orang tua Arini terlebih dahulu telah bersih-bersih diri.


Saat jarum jam menunjukkan pukul 10, Arini terbangun. Dia turun dari ranjang dengan pelan dan memegang penyangga infus agar dia tidak perlu melepas jarum di tangannya. Arini tidak ingin sesuatu buruk terjadi kepada bayinya.


“Kenapa kamarnya kosong?” Arini terbengong di dalam kamar rawat suaminya.


“Permisi, Mbak?”


“Ada yang bisa kami bantu, Bu?” Jawab perawat yang sedang berjaga.


“Suami saya kenapa nggak ada di kamar VIP nomer 5 ya?” Perasaan Arini tidak nyaman. Dia merasa telah terjadi sesuatu buruk saat dia pingsan.


“Sebentar ya, Bu. Hm, atas nama Arfan Anggara?”


“Benar”


“Pasien dipindah ke ruang ICU”

__ADS_1


Kaki Arini lemas seketika. Namun, dia tetap berusaha berdiri sambil memegang ujung meja sebagai penahan tubuhnya agar tidak jatuh.


“I … C … U?”


“Iya, Bu. Tadi pasien sempat kritis dan detak jantung berhenti, jadi pihak dokter memindahkan pasien sementara ke ruang ICU hingga pasien mulai stabil”


“Ya Allah … hiks, M-mas Arfan … hiks”


“Bu?”


“A-apa sa-saya boleh jenguk suami saya?”


“Maaf, karena jam besuk sudah selesai sekitar pukul 8 malam tadi, Ibu hanya bisa melihat pasien dari kaca pembatas saja”


Arini menganggukan kepalanya. Dia masih sangat bersyukur dapat melihat keadaan suaminya, meski tidak dapat dia sentuh secara langsung. Perawat tersebut membantu Arini menuju ruang ICU yang kebetulan suaminya di rawat di lantai yang sama seperti ruang VIP.


“M-mas … hiks … hiks” Arini kembali menangis sambil menyentuh permukaan kaca tepat di wajah suaminya. Dia mengusap kaca itu seakan-akan sedang berada di samping suaminya.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2