Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Drama Romantis


__ADS_3

“Huft, beneran bukan kamu pengirim bunga tulip dan gulali? Oh ya gulali, wait”


Setelah menyelesaikan kalimat pertanyaan, dia segera berlari menuju ruang kerjanya untuk menyelamatkan gulali dari orang asing supaya tidak dimakan semut. Dia sangat suka makan gulali dan jenis makanan manis lainnya.


“Alhamdulillah, selamat.” Ucap syukur saat Arini berhasil menemukan gulali miliknya dalam keadaan baik-baik saja dan segera kembali ke lantai bawah karena temannya tadi ia tinggal pergi begitu saja.


“Apaan?” Tanya Steve saat teman baiknya itu duduk kembali di tempat semua sebelum tadi pergi meninggalkan dirinya sendiri.


“Gulali. Ada orang asing yang selalu mengirimiku bunga tulip dan sekarang, gulali ini.” Jawab Arini setelah membuka penutup gulali dan menikmatinya sendiri tanpa memberikan penawaran.


“Eh, kalo kamu ga tau siapa pengirimnya. Kenapa kamu makan, huh?”


Gerakan super cepat tangan Steve untuk merebut gulali yang sudah hampir tinggal setengah, cepat juga Arini makan makanan manis itu.


“Gulali ku. Kembalikan!”


Kini, mereka berdua saling berebut makanan berbahan dasar gula itu dengan penuh dramatis. Jika dilihat dari pintu luar ruangan, Arini seperti akan memeluk Steve yang membelakangi pintu. Dan drama itu berhasil membuat para penonton panas dingin di sana.


“Mbak Arin kok sweet gitu sih sama Mas Bule Dikit itu? Kan kasihan Mas Serem diduakan” Ujar Chika yang berada di baris paling depan penonton.


“Sepertinya mereka sedang saling memperebutkan permen pinky itu deh. Eh tunggu, kenapa kamu sebut dia Mas Bule Dikit, huh? Dan, siapa Mas Serem?” Sahut pegawai laki-laki yang masih dengan senantiasa memegang sapu.


“Coba kamu perhatikan baik-baik, muka Mas Bule Dikit masih ada wajah tampan milik orang lokal kayak kita. Ga full bule. Dan Mas Serem itu ya suaminya Mbak Arin”


“Oh” Jawaban singkat, padat, dan jelas dari pegawai bertopi merah itu.


“Bukan begitu ceritanya, Mas Tamvan pasti lagi main rebut siapa cepat dia dapat sama Mbak Arin. Iya kan?” Pegawai perempuan berambut pendek tidak mau kalah untuk memberikan hasil pemikirannya atas kejadian di dalam ruangan itu.


“Yahhhh” Mereka semua kompak mengatakan hal yang sama saat drama telah selesai.


Para penonton itu membubarkan diri saat mendengar lonceng pintu cafe berbunyi, yang menandakan jika ada pelanggan.


“Hah hah hah, kamu nyebelin banget sih, Steve.” Arini berusaha menormalkan kembali pernafasannya.


“So sorry.” Sedangkan, Steve hanya menunjukkan senyuman jahil dan memberikan sebotol minuman dingin yang ia ambil di lemari pendingin kepada wanita di depannya.


“Hah. Jadi, beneran bukan kamu yang kasih bunga dan gulali?” Tanya Arini lagi yang sebenarnya dia sudah tahu pasti jawabannya yakni tidak.


“Bukan aku. Tapi, buket bunga apa itu?”


“Bunga tulip putih”


“Bunga tulip putih?”


“Iya”


“Iya?”


“Ish, kamu kenapa mengulang ucapan ku, huh? Sudahlah, aku balik ke ruang kerjaku dulu”


Suara pintu terdengar jika Arini telah keluar dari ruangan itu. Dan Steve masih tetap pada posisinya. Namun, laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu yang berhasil membuat keningnya berkerut. Sepertinya pikirannya berat ya, Mas Bule Dikit. Wkwkw.


“Bunga tulip putih? Apa jangan-jangan laki-laki itu? Tapi, bukannya dia sudah …”


Steve keluar dari cafe dan menghubungi seseorang sambil mengenakan kacamata hitam kesukaannya, silau katanya.

__ADS_1


“Kamu cari tahu laki-laki itu. Cepat”


Perintah Steve pada seseorang yang sedang ia hubungi.


***


Di sebuah perusahaan ternama yakni Anggara Group, Arfan sibuk dengan ratusan lembaran yang harus dia baca dan tanda tangani. Pantas saja tulisannya jelek, tapi tanda tangannya sangat berkelas meski hanya coretan.


“Apa aku harus lembur hari ini?” Tanya laki-laki tampan itu dengan senyuman manis di bibirnya yang terlihat sejak kehadirannya di kantor.


“Iya, Pak”


“Baiklah, kamu saja yang lembur”


Vano mendengus kesal atas jawaban dari sang bos. “Kapan aku punya kekasih kalau begini terus, huh”


“Hentikan omelan mu dengan suara pelan, katakan saja.” Ucapan Arfan tiba-tiba berhasil membuat Vano terkejut.


“Saya tidak mengomel, Pak”


Ring ring ring


Nada dering handphone mengalihkan tatapan mata Arfan sejenak dari lembaran putih tercoret tinta hitam. “Sonya?”


📞📞📞


“Halo?”


“Kantor”


“Ga perlu”


“A-aku sayang kamu”


“Iya”


“Tapi …”


📞📞📞


Arfan belum selesai menyelesaikan ucapannya, istri keduanya mematikan sambungan telepon.


“Sial”


“Ada apa, Pak?” Tanya Vano sambil membetulkan kacamatanya yang melorot sebab hidungnya yang tidak mancung. Maklum, dia adalah warga lokal.


“Sonya akan ke kantor. Oh ya, bagaimana hasil penyelidikan tentang malam itu?”


“Ehem, begini. Saya sudah mencari CCTV di sekitar hotel itu, tapi kami hanya menemukan bukti jika memang … memang bos yang tidur satu kamar dengan Nyonya Sonya”


“Tidak mungkin, aku yakin tidak pernah menidurinya. Kamu tahu sendiri, bagaimana aku berusaha tidak menyentuh Sonya selama kita pacaran. Pasti ada yang sudah merencanakan semua ini. Aku yakin”


“Hmmm, kenapa bos ingin sekali menyangkal hal itu? Bukannya bos senang ya bisa mempunyai anak dari Nyonya Sonya yang bos cintai?” Dengan keberanian yang tinggi, Vano berhasil mengatakan isi hati dan pikirannya.


“Aku benci kebohongan dan pengkhianatan. Jadi, walaupun dia adalah orang yang aku cintai dan telah melakukan dua hal itu. Maka dia menjadi orang yang paling aku benci dan siap menerima hukuman dariku. Paham? Cepat cari bukti lainnya, aku yakin tidak pernah melakukan hal zina seperti itu”

__ADS_1


“Baik, Pak. Hmmm, saya boleh tanya lagi?”


“Kamu banyak tanya”


“Malu bertanya sesat di jalan, Pak. Kenapa sejak tadi Anda selalu tersenyum?”


“Senyum itu ibadah” Jawab Arfan sambil tersenyum geli karena ucapannya barusan. “Lebih baik kamu kembali ke ruangan, aku harus fokus,” lanjutnya.


“Siap, Pak”


Belum lima menit Vano keluar dari ruangan, dia membuka pintu dengan kasar dan mengejutkan Arfan yang sedang menikmati kopi hitam kesukaannya.


Brak


“Heh, kal …”


Vano langsung mengutarakan maksud kedatangannya tanpa menunggu sang bos selesai mengamuk. “I-itu ayah mertua, Bos”


Dan Arfan menyemburkan kembali minuman rasa kopi yang sudah ada di dalam mulutnya.


“A-apa? Terus?”


Laki-laki itu mendadak telat mikir.


“Aduh, Bos. Kan Nyonya Sonya mau kesini”


“Ya, gapapa. Ayah sudah tahu kalau aku memiliki istri dua”


“Huft, bukan itu permasalahannya. Tuan Andika tahu jika Nyonya Sonya hamil?”


Pertanyaan Vano berhasil membuat Arfan berdiri dan hampir saja menjatuhkan cangkir kopi yang sudah kosong.


“Awas, Pak. Cangkir mahal itu”


“Kenapa kamu mikirin si cangkir, huh? Sekarang aku harus bagaimana, aduh”


Arfan memijat kening nya sambil menyangga kepalanya dengan tangan yang lain.


“Bagaimana, Pak?”


“Oke, begini rencananya ..."


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼


...


__ADS_1


...


__ADS_2