Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Gadis yang Manis


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


POV ARINI


Ya Allah, kenyataan apalagi ini. Saat aku mendengar Sonya mengatakan 'suami kita', berhasil membuat hatiku sangat sakit. Jadi, ini lah alasan Mas Arfan menikahi Sonya. Sejak wanita itu mengatakan usia kehamilannya, aku menghitung. Kalau tidak salah, 3 bulan yang lalu Mas Arfan pernah ke luar negeri karena urusan pekerjaan, dan waktu itu Sonya juga berada di negara yang sama seperti Mas Arfan, begitulah kabar dari media berita yang aku tonton.


Astaghfirullah, kenapa, kenapa Mas Arfan melakukan perbuatan yang sangat dibenci Allah. Zina. Mereka berbuat zina di negara itu. Aku selalu senang, saat Mas Arfan selau melaksanakan sholat lima waktu dan mengaji, walaupun jarang. Tapi, perbuatan zina sungguh membuat ku tidak percaya. Dulu, Mas Arfan adalah sahabatku yang selalu membuat ku kagum karena kepintarannya dan perilakunya yang baik. Kini, dia adalah suamiku, yang masih baik dan itu kekaguman ku hilang begitu saja karena ucapan Sonya atas kehamilan dirinya dengan Mas Arfan. Ya Allah, aku mohon, ampunilah dosa-dosa suamiku, dan ... dan Sonya.


Hiks ... hiks ... hiks ...


Mas Arfan berbohong padaku jika dia dinas di luar negeri. Kenapa kamu membohongiku, Mas.


"Hei, Madu. Sudahlah, jangan terlalu sedih begitu. Tersenyum lah!. Karena ada anggota baru di keluarga kecil kita. Ada kamu, aku, Mas Arfan dan anak ku. Ups salah, bukan. Tapi, anak ku dan Mas Arfan"


Sungguh, aku ingin sekali menampar wanita ini. Ucapan nya sangat melukai hatiku. Aku harus bagaimana.


POV ARINI END


*_____*


Warna jingga terlihat indah di balik kaca. namun tidak dengan suasana hati Arini. Perempuan itu hanya diam dan melamun sambil mengarahkan kursi kerjanya menghadap jendela kaca. Sejak kedatangan Sonya di cafenya, dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Hati dan pikirannya tidak baik-baik saja. Semuanya buruk.


"Kenapa semua ini harus terjadi dalam hidupku? Kenapa? hiks ... hiks ...," lagi. Arini meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya.


"Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan hati untuk menjalani dan menerima ini semua"


Tok tok tok


Arini segera menghapus bekas air matanya di pipi nya.


"Masuk"


Pintu terbuka.


"Hai, Arini!"


"Hai, Steve! Eh, kan lupa. Assalamualaikum, Steve"


"Hahaha iya, waalaikumsalam"


"Tumben ke sini? Hmmm, kita ngobrol di bawah aja ya?"


"Oke"


Dua cangkir teh hangat dan dua potong cheese cake menjadi pendamping perbincangan Arini dan Steve. Mereka duduk berdua di dekat jendela cafe, sehingga terlihat cahaya matahari sore memancar dengan indah ke arah mereka.


"Bagaimana kabarmu?," tanya Steve sambil menikmati teh hangat yang sangat ia suka setiap berkunjung ke cafe ini.


"Alhamdulillah baik, kamu?"


"Alhamdulillah"


Setelah itu, mereka terdiam.


"Are you okay?"


"Aku baik, Steve"


"Hmmm, kamu tidur dengan nyenyak kan semalam"


"Pasti dong," Arini tersenyum, tidak dengan hatinya.


"Aku yakin menyembunyikan sesuatu dariku? Aku tahu itu, matamu yang menjawab pertanyaan ku barusan."

__ADS_1


"Ada apa, Arin?"


Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia berusaha untuk tidak menangis di depan temannya, sekaligus ... dokternya. Dia tidak ingin menceritakan bagaimana kehidupan pernikahannya yang sempat bahagia, dulu sebelum Sonya mengatakan kebenaran mengenai pernikahan suaminya dengan wanita yang sedang hamil itu.


"I'm okay, Steve."


"Huft, baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Tapi, kamu harus ingat. Aku akan selalu ada untukmu. Oke?"


"Iya"


Saat Steve mulai bercerita tentang rencananya untuk membuka sebuah klinik milik nya sendiri yang kebetulan tidak terlalu jauh dari Jasmine Cafe. "Permisi, Mbak"


"Iya, Chika?"


"Hmmm itu, ada kiriman bunga buat Mbak"


"Bunga? Untukku?"


Chika menganggukkan kepalanya saja, sesekali dia melirik ke arah laki-laki tampan yang duduk berhadapan dengan atasannya.


"Steve aku pergi dulu ya sebentar"


"Oke"


Setelah, Arini pergi ke tempat kasir. "Pak nya mau pesan sesuatu lagi?," tanya Chika.


"Pak? Me?"


"Iya. Pak?"


"Aku masih belum terlalu tua untuk mendapat panggilan Pak," ucap Chika sambil membungkukkan sedikit badannya.


"Ouh, maaf atas kesalahan saya, Om"


"Maaf?" Gadis itu bingung.


"Panggil aku Steve saja.


"Tapi kan, Anda pelanggan. Jadi, saya harus bersikap hormat kepada Anda"


"Huft, oke."


Entah ada apa dengan Steve, kenapa laki-laki itu mempermasalahkan tentang panggilan untuk dirinya. Biasanya, dia acuh tentang itu saat berkunjung ke suatu tempat.


"Ada pesanan lain, Pak?," tanya Chika lagi.


Steve terkekeh geli dengan panggilan itu. "Kamu suka strawberry?," bukan menjawab melainkan bertanya.


"Eh, itu ... iya. Saya suka"


"Sip, strawberry cake dua. Satu untuk mu"


Tangan Chika berhenti. "Buat saya?"


"Iya," senyuman maut Steve membuat pelanggan wanita di sana melirik kesal ke arah pegawai cafe yang sangat beruntung.


"Ba-baiklah. Harap ditunggu ya, Pak. Dan ... hmmm ... terimakasih"


"Sama-sama"


Sambil menunggu Arini yang duduk kembali di hadapannya atau pesanannya yang datang, Steve memainkan handphonenya. "Gadis yang manis"


"Siapa yang manis?"

__ADS_1


Steve tahu itu suara siapa, jadi dia langsung menjawab. "Chika"


"Saya?," ternyata ada suara lain yang terdengar di telinga Steve.


Laki-laki itu langsung melihat siapa pemilik suara yang bertanya tadi. Ada Arini dan ... Chika.


"Maksud Bapak manis tadi, bapak panggil saya buat segera antar strawberry cake yang manis ya,? tanya Chika setelah meletakkan pesanan Steve.


"Oh ... ehm ... itu," Steve bingung dan malu, dia langsung memberi kode yakni lirikan ke arah Arini.


Arini memang sangat peka ya. "Chika bisa langsung kembali kerja ya"


"Iya, Mbak. Silahkan dinikmati, Pak"


Terlihat Chika sudah sibuk dengan menulis pesanan pelanggan, Arini tertawa. "Pak? Kamu dipanggil Pak? Ya ampun, cieee dah tua"


"Arin diem deh." Steve kesal dan masih malu.


"Oke oke. Oh ya, kamu suka ya sama Chika?"


Tidak ada jawaban.


"Kalo kamu serius, temui langsung orang tuanya. Tapi, Chika tidak seperti kamu atau aku. Apa kamu masih mau perjuangin dia?"


"Maksud kamu,?" tanya Steve.


"Huft, kamu pasti tahu."


Setelah Steve berpikir, dia tahu maksud dari temannya ini.


"Cinta tidak memandang kepada siapa penerima maupun pemilik hati. Iya kan?"


Arini langsung berhenti tersenyum.


"Kenapa muka kamu jadi masam gitu,?" tanya Steve.


"Gapapa kok"


"Beneran?"


"Iya"


Steve melihat jam mahal di pergelangan tangannya. "Aku harus balik"


"Oke, hati-hati di jalan ya"


"Aku bungkus aja deh kuenya," Steve langsung menuju ke kasir dengan sebuah piring kecil ditangannya.


Namun, Arini masih tetap tidak berpindah posisi. Dia masih duduk di tempat yang sama dan melihat ke arah jendela. Di luar sudah mulai gelap. "Gelap ... seperti hatiku. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan kamu, Mas," lirihnya dengan air matanya yang mulai berjatuhan.


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA


############################################

__ADS_1


__ADS_2