
### Bab sebelumnya ...
"Ehem, kan kita sering ke sana pas mau malem-malem, Mas"
"Ya iyalah, kalo kita ke sana pagi-pagi bukan matahari terbenam. Tapi, matahari terbit"
Arfan mulai menikmati obrolan nya dengan sahabat sekaligus istrinya, sekarang.
"Heheheh, iya juga sih. Tapi aku ga kapok lo ke sana"
"Tapi, Ayah sering marah padaku"
"Lho? Kenapa Ayah marah sama kamu sih, Mas?"
"Karena putri kesayangannya sakit, dan aku adalah orang yang bersama mu saat di pantai," dengan gemas Arfan mencubit pelan pipi istrinya.
"Ishhh, sakit tau, Mas." Arini mengelus pipinya yang terasa sakit.
"Hahahaha." Arfan tertawa lagi sebab ekspresi wajah Arini yang sangat lucu karena cubitannya.
Perbincangan mereka terus berlanjut. Sangat jarang mereka berdua bisa saling berbincang seperti itu. Terakhir kali dan pertama kali setelah pernikahan mereka, yakni ketika awal pernikahan karena kedatangan Jacob dan keluarganya. [Baca Bab 5].
Tanpa mereka sadari ada tatapan mata penuh kebencian melihat kebersamaan Arfan dan Arini.
"Jahat kamu, Mas. Sejak pernikahan kita, kamu ga pernah bicara santai seperti itu kepada ku," geram seorang wanita yang melihat dengan Arfan dan istrinya yang duduk dekat kaca, sehingga orang dari luar restoran dapat melihatnya.
"Aku tidak akan membiarkan kedudukan ku sebagai istri mu hilang begitu saja. Ada bayi yang harus aku perjuangkan," Sonya mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
"Yahhh, meski ayah bayi ini bukan kamu. Tapi, harus kamu yang tanggung jawab, Mas."
Sonya masih melihat dengan kesal kebersamaan suaminya dan madunya.
"Jadi, benar wanita itu maduku? Kampungan"
Sonya tidak menyangka, sahabat suaminya sendiri yang menjadi madunya.
*_____*
Dengan amarah yang masih ada dalam hati dan pikiran, Sonya langsung pergi meninggalkan makanan nya yang masih setengah yang dia habiskan. "Selamat bertempur, Maduku," ada senyuman licik di bibir yang sedang hamil satu bulan itu.
Sedangkan di restoran lain, Arfan dan Arini menikmati makanan yang mereka pesan, dengan sambil berbincang dan bercanda bersama.
"Aku berharap semua ini akan selalu ada dalam hubungan kita, Mas," harap Arini saat melihat senyuman manis di bibir suaminya.
"Semoga kamu akan selalu menjadi istriku, Arin. Aku bahagia bersamamu. Entah kapan perasaan ini hadir dalam hatiku. Walaupun, aku sangat takut jika kamu pergi saat kamu tahu alasan aku menikahi Sonya." Arfan juga berbicara dalam hatinya saat melihat istri pertama nya menikmati sushi, makanan kesukaan sahabatnya, dulu.
__ADS_1
***
Sudah dua bulan, kehidupan pernikahan Arini dan Arfan menjadi lebih manis dan harmonis. Yahhh, meski ada sakit hati karena suaminya masih saja meninggalkannya sendiri di kamar setelah Arfan meminta jatah. Arini tetap berusaha menerima semua nya dengan hati yang ikhlas. Setidaknya, dirinya masih merasa nyaman tinggal di apartemen bersama Arfan, tidak seperti awal pernikahan dulu.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Arini berhenti melamun.
"Masuk"
Nada tersenyum manis ke arah teman baiknya. Walaupun mereka hanya berteman baik yang tidak terlalu jauh untuk saling bercerita mengenai kehidupan mereka masing-masing, entah itu berita sedih atau senang. Mereka masih tertutup mengenai hal privasi kehidupan mereka.
"Nada? Ada apa?," tanya Arini dengan gerakan tangan untuk mengungkapan pertanyaannya pada Nada.
ada yang cari kamu di luar
Nada membalas dengan tulisan di buku catatan yang sangat rapi, sehingga mudah dibaca.
"Siapa?"
Perempuan berhijab biru laut yang masih berdiri di dekat pintu, hanya menggelengkan kepala saja, karena dia tidak tahu.
Arini turun sendirian ke lantai bawah, karena Nada sholat dhuhur di lantai atas dekat ruangannya. Untung saja, dia sudah sholat lebih awal. Jangan menunda sholat, begitulah nasihat Ayah Andika kepadanya.
"Oh itu ... hmmm, ada di ruang private nomer dua, Mbak"
Ruang private?
Ya, di Jasmine Cafe memang terdapat 3 ruang private yang terdapat sekat agar pelanggan bisa menikmati sajian cafe dengan tenang.
"Oke"
Entah kenapa, perasaan Arini tidak tenang. "Ya Allah, ada apa? Semoga semuanya baik-baik saja."
Sebelum menarik pintu di ruang private nomer 2, Arini menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan. "Bismillah"
"Assa ... lamualaikum"
Arini terkejut dengan seseorang yang mencari dan menunggunya di ruangan yang cukup tertutup itu.
"Hai, Maduku"
Senyuman manis Sonya dengan lambaian tangannya yang terlihat sangat anggun kepada Arini yang masih terkejut atas kehadirannya.
"Ngapain kamu berdiri terus? Duduk lah!"
__ADS_1
Ucapan Sonya, membuat Arini segera duduk berhadapan dengan istri kedua suaminya. Sungguh dia tidak menyangka, perempuan di depannya itu berani menemuinya.
"Sehat?"
Arini hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Oke. Hmmm, mau pesan minum dulu?," tawar Sonya sambil sesekali mengelus perutnya yang terlihat buncit sebab kehamilannya 3 bulan.
Dan tindakan Sonya itu, tidak luput dari penglihatan Arini. Dia sangat terkejut, untuk kedua kalinya, di waktu yang berdekatan. "Ini tidak mungkin," perempuan dengan gamis sederhana menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Wah kamu dah tahu ya, kalo aku hamil. Ya mau bagaimana lagi, perutku memang terlihat buncit karena kehamilan ku 3 bulan. Jadi, ga bisa aku sembunyikan" ungkap Sonya langsung tanpa menunggu Arini menatapnya, karena sejak kedatangan Arini di ruang private itu, dia terus menundukkan kepalanya saja.
Sonya tersenyum licik karena air mata Arini yang jatuh saat madunya telah mengangkat wajahnya.
"Jangan sedih begitu dong. Kamu itu seharusnya bahagia, karena bentar lagi kamu punya anak ... dari rahim ku dan benih suami kita, iya kan?"
POV ARINI
Ya Allah, kenyataan apalagi ini. Saat aku mendengar Sonya mengatakan 'suami kita', berhasil membuat hatiku sangat sakit. Jadi, ini lah alasan Mas Arfan menikahi Sonya. Sejak wanita itu mengatakan usia kehamilannya, aku menghitung. Kalau tidak salah, 3 bulan yang lalu Mas Arfan pernah ke luar negeri karena urusan pekerjaan, dan waktu itu Sonya juga berada di negara yang sama seperti Mas Arfan, begitulah kabar dari media berita yang aku tonton.
Astaghfirullah, kenapa, kenapa Mas Arfan melakukan perbuatan yang sangat dibenci Allah. Zina. Mereka berbuat zina di negara itu. Aku selalu senang, saat Mas Arfan selau melaksanakan sholat lima waktu dan mengaji, walaupun jarang. Tapi, perbuatan zina sungguh membuat ku tidak percaya. Dulu, Mas Arfan adalah sahabatku yang selalu membuat ku kagum karena kepintarannya dan perilakunya yang baik. Kini, dia adalah suamiku, yang masih baik dan itu kekaguman ku hilang begitu saja karena ucapan Sonya atas kehamilan dirinya dengan Mas Arfan. Ya Allah, aku mohon, ampunilah dosa-dosa suamiku, dan ... dan Sonya.
Hiks ... hiks ... hiks ...
Mas Arfan berbohong padaku jika dia dinas di luar negeri. Kenapa kamu membohongiku, Mas.
"Hei, Madu. Sudahlah, jangan terlalu sedih begitu. Tersenyum lah!. Karena ada anggota baru di keluarga kecil kita. Ada kamu, aku, Mas Arfan dan anak ku. Ups salah, bukan. Tapi, anak ku dan Mas Arfan"
Sungguh, aku ingin sekali menampar wanita ini. Ucapan nya sangat melukai hatiku. Aku harus bagaimana.
POV ARINI END
❤️❤️❤️ Macan
Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️
Dukung aku :]
Follow, Like dan comment ya ....
Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.
Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA
############################################
__ADS_1