Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Aku Datang, Suamiku


__ADS_3

Ceklek


Sepi dan sunyi. Ruangan itu tidak ada siapapun, hanya terdengar suara monitor yang berada tidak jauh dari pintu kamar.


“Sepertinya suami Mbak Arin sendirian di kamar ya?” Ujar Asih.


Arini berdiri mematung saat dia melihat suaminya terbaring di ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang di hampir seluruh tubuhnya.


“Hm, kita duduk di sofa ya, Mbak” Ujar Abim saat dirinya tahu jika Arini butuh waktu sendiri hanya bersama suaminya.


Abim menggandeng tangan istrinya untuk duduk di sofa yang tidak terlihat dari ranjang pasien.


“A-aku datang, Suamiku … hiks” Arini duduk di kursi samping ranjang. Dia membekap mulut dengan kedua tangannya.


Hanya terdengar suara tangis Arini dan monitor yang menampilkan grafik detak jantung Arfan.


“M-mas, bangun. Ini a-aku, Mas. Ya Allah” Dengan tangan yang gemetar, Arini memberanikan diri menyentuh tangan suaminya yang terasa dingin dan pucat.


Arini mencium telapak tangan suaminya dengan air mata yang terus berjatuhan dan membasahi kedua pipinya.


Ceklek


Suara pintu kamar yang dibuka dari luar tidak membuat Arini memalingkan wajahnya. Dia terus menatap suaminya dengan doa yang terucap dari mulutnya. Sedangkan, Abim dan Asih terkejut melihat beberapa orang masuk ke dalam kamar. “Siapa mereka, Mas?” Tanya Asih dengan tangannya yang memeluk erat suaminya.


“Ma-maaf, kami …”


“ARIN”


Belum selesai Abim berbicara, seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik modis berteriak memanggil Arini. Dengan langkah perlahan, Mama Risa berjalan menuju seorang wanita berjilbab yang tengah duduk di samping putranya. Dia yakin jika perempuan itu adalah menantu yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


“A-arin” Bunda Rina juga ikut berjalan ke arah putrinya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan anak semata wayangnya secepat ini.


Dua wanita paruh baya itu langsung memeluk erat Arini. Mereka menangis bersama.


“Ma-mama? Bunda?” Lirih Arini terkejut dirinya dipeluk oleh dua orang sekaligus di samping kanan dan kiri.


“Arin, Bunda bahagia kamu pulang, Nak” Bunda Risa masih menangis dan menatap putrinya yang terlihat sangat cantik.


“Mama bahagia kamu kembali, Nak” Tidak seperti besannya, Mama Rina mulai merasa tenang dan mencium kening menantu perempuannya.


“Maafin, Arin … hiks” Arini menangis karena dia merasa sangat bersalah dan berdosa.


“Shut, gapapa, Sayang. Seharusnya Mama yang minta maaf karena anak Mama telah menyakit hati kamu”


Mama Risa sangat bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Arini dan melihat sendiri keadaan menantunya yang baik-baik saja.


“Arin” Suara panggilan Ayah Andika membuat Arini menoleh ke belakang dan melihat laki-laki yang telah menjadi cinta pertamanya sedang merentangkan kedua tangannya.


Semua orang di sana terkejut saat melihat tubuh Arini yang berisi dan perutnya yang terlihat besar, meski Arini menggunakan gamis panjang dan lebar.


“Putri Ayah pulang … hiks” Ayah Andika mencium lama kening putrinya.


“Papa bahagia, putri menantu Ayah pulang” Ujar Papa Anggara sambil mengelus kepala Arin.


“A-arin, ka-kamu ha-hamil, Nak?” Mama Risa langsung berdiri di samping putrinya dan berusaha melihat dengan jelas bagian tubuh Arini yang besar.


“Alhamdulillah, Ma”


“Alhamdulillah”

__ADS_1


Semua orang di sana mengucap syukur dan tersenyum bahagia. Bunda Rina langsung memeluk lagi putrinya. “Kenapa putri Bunda cantik ini ga pernah cerita, hm?” Bunda Rina mencubit gemas pipi kanan Arini yang chubby.


“Maaf, Bunda”


“Ayo duduk dulu”


Untung saja Papa Anggara memesan kamar VIP dengan ruangan yang sangat luas. Abim dan Asih mencium tangan para orang tua setelah mereka berkumpul bersama di ruang santai yang tidak terlalu jauh dari ranjang pasien.


“Kalian yang menemani menantu Papa ke sini ya?” Tanya Papa Anggara saat melihat Abim dan Asih yang duduk berdampingan.


“Iya, Pak. Perkenalkan, saya Abim dan istri saya, Asih”


“Terima kasih ya” Mama Rina tersenyum lembut ke arah laki-laki dan perempuan yang dia pikir masih sangat muda.


“Sama-sama, Pak, Bu”


“Ma, Pa? Ba-bagaimana keadaan Mas Arfan?” Akhirnya Arini mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi dia pendam.


“Alhamdulillah, operasi Arfan berjalan dengan lancar” Jawab Papa Anggara saat dia tahu jika istrinya kembali sedih karena putra mereka masih belum sadar sejak tadi pagi, selesai Arfan menjalani operasi di bagian kepala dan kaki sebelah kanan.


“Alhamdulillah” Arini cukup senang jika operasi suaminya baik-baik saja.


“Ba-bagaimana Mas Arfan bisa kecelakaan, Pa?”


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat

__ADS_1


Love u all


🌼🌼🌼


__ADS_2