Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Dilarang Senyum


__ADS_3

Arini menggenggam dengan erat tangan suaminya nya yang bebas dari apapun, maksudnya bebas dari bawaan mereka khususnya milik Arini. Sesuai keinginan bumil, akhirnya mereka jalan kaki menuju taman di kompleks perumahan.


"Sayang?," panggil Arfan setelah mengusap keringat di dahinya dengan menggunakan punggung tangan istrinya yang saling menautkan jari dengan dirinya.


"Hm?," Arini hanya menjawab suaminya dengan bergumam, karena dirinya asyik melihat sekitar kompleks.


"Kamu seneng kan?"


"Seneng banget," Jawab Arini dengan kedua matanya yang menyipit, dan itu terlihat sangat cantik di mata Arfan.


"Alhamdulillah"


"Kenapa, Mas?," tanya Arini tanpa melihat ke arah suaminya.


"Ya gapapa, kan Mas seneng kalau istri Mas yang cantik ini seneng," sahut Arfan sambil menggoda sang istri dengan mencolek dagunya.


"Ish, Mas. Malu tau"


Wajah Arini merah merona dan memukul pelan lengan laki-laki disampingnya.


"Eh, Mas Arfan mau kemana pagi-pagi begini?"


Seorang wanita cantik dengan mengenakan pakaian khusus olahraga tiba-tiba saja sudah berada tepat disamping Arfan. Tentu saja Arini melotot tajam ke arah wanita itu.


"Dasar wanita centil, dia bilang apa barusan? Mas? Haisss cuma aku yang boleh panggil Mas Arfan," gerutu Arini sambil merangkul dengan mesra dan erat suaminya.


"Oh ... Bu Ajeng, ini mau nemenin istri saya jalan-jalan pagi," jawab Arfan sambil tersenyum sebagai bentuk kesopanan dan ramah, begitulah pikir Arfan.


Sayangnya senyuman Arfan membawa petaka untuk dirinya sendiri dan kebahagiaan bagi yang melihat senyumannya.

__ADS_1


Ajeng membalas dengan senyuman yang sangat manis dan menatap penuh minat ke arah laki-laki tampan yang ternyata sudah memiliki istri, sayang sekali. Hahahah.


"Oh my god, your smile is so amazing" sahut Ajeng.


"ehem, terimakasih atas pujiannya Bu"


"Eh? Jangan panggil Bu, saya masih single loh Mas"


"Ba-baik Mbak"


"Gimana panggil nama aja, Ajeng gitu "


Sedangkan wanita lain di sebelah Arfan menunjukkan ekspresi berbeda.


"Ish, dasar wanita g*tel," Arini berbicara pelan sambil menatap tajam ke arah wanita itu.


"Sayang? Halo?," panggil Arfan kepada sang istri.


"Kamu kenapa?," Arfan mengusap dengan pelan lembut pipi istrinya.


Cup


Tiba-tiba Arfan memberikan ciuman di pipi Arini. Tentu saja wajah Arini menjadi merah merona.


"Ehem, nggak apa-apa. Ayo buruan jalan Mas, keburu panas disini" sahut Arini.


"Eh Bu Arini? Apa kabar?"


Ajeng menyapa wanita yang berdiri tepat di sebelah kiri Arfan.

__ADS_1


"Good" jawab Arini ketus.


"Syukurlah. Kebetulan saya mau ke taman juga, kita kesana bareng gimana?" tanya Ajeng dengan tatapan matanya fokus tertuju kepada laki-laki tampan, siapa lagi kalau bukan Arfan.


"Wah boleh ba .... Awwww" Arfan menghentikan ucapannya karena dirinya merasakan sakit luar biasa di perutnya.


"Sa ... sayang sakit banget tau, hiks "


Laki-laki itu mengusap pelan bagian perutnya yang masih terasa sakit, dia yakin pasti ada bekas merah cantik disana.


"Nggak apa-apa, anak kamu pengen cubit ayahnya. Ayo jalan Mas. Maaf ya BU Ajeng, kami pergi duluan" Arini mengucap kata Bu dengan nada berbeda agar Ajeng tau jika dia memang pantas dipanggil Bu.


Arini menarik paksa tangan suaminya dan berjalan cepat menuju taman.


"Ehem, kami duluan Bu Ajeng" Ucap Arfan meski dirinya sudah berada cukup jauh dimana Ajeng masih berdiri sambil tersenyum sopan menurutnya, tapi tidak dengan istrinya.


"Ish, nggak usah senyum-senyum gitu Mas. Awas kalau Mas senyum kayak gitu lagi selain sama Adek"


Arini menatap tajam suaminya saat dirinya yakin telah menjauh dari Ajeng.


"Loh? Tadi Mas cuma senyum tanda kesopanan kok Sayang"


"Nggak boleh"


Akhirnya Arini berjalan duluan dan meninggalkan Arfan yang kebingungan kenapa dirinya tidak boleh senyum. "kan senyum itu ibadah," ucapnya sambil tetap mengusap bagian perutnya yang masih terasa sakit.


"Hem, sakit banget cubitan kamu Sayang"


❤️❤️❤️

__ADS_1


Maafkan baru up 😊😊😊


__ADS_2