
### Bab sebelumnya ...
Suara pintu kamar terkunci dari dalam. Arfan langsung masuk lagi ke dalam ruangan itu, untuk menuntaskan mainan kesayangannya. Sepertinya, mainannya itu sangat menginginkan teman baru.
"Sil banget sih. Gue mandi 2 kali kan jadinya. Ngapain sih dia pakek baju kurang bahan kayak gitu." Arfan berbicara pada tembok teman-teman.
"Tapi, dia se*y banget sumpah"
Hampir 1 jam di dalam kamar mandi. Arfan keluar dan langsung bertanya kepada pelaku yang berhasil membuat mainan kecilnya bangun dan mencari teman baru.
"Ngapain sih pakek baju begitu hah? Lo mau goda gue?"
"Eh ga kok, Mas. Mas tahu sendiri kan sejak dulu aku selalu tidur pakai baju tipis kayak gini."
"Ganti"
"Pakek baju gamis? Panas, Mas." suara Arini seperti seorang istri yang merajuk kepada suaminya.
"Yaudah, tutup seluruh badanmu dengan selimut!"
Akhirnya, perdebatan tentang baju tidur Arini selesai. Mereka tidur di ranjang yang sama. Arfan tidak tega menyuruh seorang wanita untuk tidur di sofa atau lantai, dia ingat bahwa dia memiliki seorang ibu dan kakak perempuan.
*_____*
**POV Arfan **
Lima bulan sudah pernikahanku dengan sahabatku. Selama itu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa mencintai dia. Hahhh, sulit bagiku untuk menyebut namanya lagi sejak perjodohan itu. Aku ingin memintanya pergi saja, dan aku bisa bahagia dan hidup bersama kekasihku, Sonya.
Saat ini aku sedang duduk di sebuah cafe, tepatnya Jasmine cafe. Perempuan itu tidak tahu keberadaan ku. Aku melihat senyuman manis nya yang tidak pernah aku lihat lagi. Sebenarnya, pagi tadi aku baru pulang dari luar negeri kurang lebih 2 minggu. Sejujurnya, aku rindu dengan masa-masa persahabatan ku dengan dia. Entah kenapa, aku merasa aura kecantikan dia semakin membuat hatiku sedikit bergetar. Tapi, aku selalu membuah jauh-jauh pikiran dan hatiku mengenai diriku yang mulai menyukainya lebih dari sahabat.
"Maaf lama, Mas," aku tahu suara itu. Ya, kekasihku, Sonya. Kita bertemu di cafe ini, sebab tidak jauh dari apartemenku. Aku masih sedikit lelah akibat perjalanan bisnisku sekaligus pertemuanku dengan Sonya di luar negeri.
"Its ok. Ada apa, Sayang?"
"Sayang?"
"Iya?," entah kenapa perasaan ku tidak nyaman. Apa karena aku takut ketahuan perempuan itu? Entahlah.
"Kamu cinta aku kan, Mas?"
__ADS_1
"Selalu, Sayang." Aku genggam erat tangan kekasihku. Aku hanya menyentuh tangannya saja seperti ini, tidak lebih. Bahkan berciuman, kami tidak pernah melakukannya. Namun aku bersyukur, Sonya memahaminya. Yahhh, terkadang pacarku ini sering memintaku untuk menciumnya. Dan aku selalu menolaknya.
"Hmmm, aku ham-hamil"
Ungkapan itu membuat genggaman ku di tangannya terlepas begitu saja. Aku terdiam cukup lama. "Siapa ayahnya?"
"Kamu tega, Mas. Ini, anak kamu"
"Bagaimana bisa? Tidak mungkin. Kamu tahu sendiri kan, aku tidak pernah menyentuhmu, Sonya"
"Hah, kamu lupa ya kejadian malam itu?"
Malam itu?
Aku berusaha mengingatnya. Dan aku ingat. Malam itu, tepatnya 1 minggu yang lalu ketika aku dan Sonya di luar negeri. Aku juga masih bingung, bagaimana bisa aku tidur seranjang dengannya. Malam nya aku tidak minum-minuman yang membuat ku tidak sadar. Hanya satu yang aku ingat, aku hanya minum jus jeruk saja. Dan setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Paginya, aku bangun dengan memeluk erat tubuh Sonya. Apakah aku berbuat zina? Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan.
"Mas? Nikahi aku"
Lagi. Ucapan Sonya membuat ku kembali terdiam. Aku memang harus tanggung jawab. Poligami? Kata itu mengingatku tentang kontrak pernikahanku dengan sahabatku. Dia meminta syarat untuk tidak poligami. Jika aku melanggarnya, apakah dia akan meminta cerai dengan ku. Dan hati kecil ku terasa sakit untuk melepas dia. Ada apa dengan diriku.
***
Kantor KUA, aku duduk bersanding dengan Sonya. Ya, akhirnya aku akan menikahi pacarku sebagai bukti tanggung jawab ku kepada anak yang tidak berdosa. Anak? Sebenarnya, aku ragu jika anak itu adalah anak ku. Tapi, aku yakin jika Sonya tidak akan pernah mengkhianati ku kan? Semoga iya. Bismillah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sonya Sans binti Sans Diego dengan seperangkat alat sholat, dibayar tunai"
Akhirnya, aku kembali mengucapkan janji nikah itu untuk kedua kalinya.
Ya Allah, semoga pilihan ku ini akan selalu membawaku dalam kebahagiaan. Amin.
Sonya, istri keduaku mencium punggung tangan kananku. Dan aku mencium keningnya sambil membaca doa agar keluarga kami selalu berada dalam ridho-Nya.
Rangga masih menatap tajam ke arahku. "Selamat atas pernikahan ... kedua" kata terakhir tersebut, dia ucap dengan pelan.
"Thanks, Bro," aku membalasnya dengan senyuman.
"Selamat, Bos," sekretaris ku, Vano, membawa sebuah bunga. Manis sekali.
"Thanks, Van"
__ADS_1
Aku melihat ke sampingku. Sonya, dia tersenyum.
Tiba-tiba saja, aku ingat dengan senyuman istri pertamaku. Apakah dia tetap tersenyum seperti hari-hari sebelumnya jika dia tahu tentang pernikahan keduaku.
END POV Arfan
Malam ini adalah malam pertama Arfan dan Sonya. Namun, bukan malam pertama seperti pengantin baru lainnya. Arfan meninggalkan sendiri istri keduanya di sebuah hotel yang dia booking tadi siang setelah akad nikah mereka.
"Aku harus pergi sekarang," ujar Arfan sambil mengenakan pakaian formal.
"Mas? Jangan pergi. Aku mohon. Kamu ga lupa kan, Mas? Malam ini, malam pertama kita." Sonya berusaha menahan lengan suaminya.
"Aku ada acara makan malam dengan klien penting. Kita bisa melakukannya kapan saja. Lagi pulan, ini bukan lagi malam pertama bagi kita kan?"
Sonya melemas genggaman tangannya.
"Lebih baik kamu istirahat saja. Oke," sambung Arfan setelah mencium kening Sonya.
"Aku pergi. Assalamualaikum"
Istri kedua Arfan tidak menjawab salam nya. Wanita itu hanya diam dan melihat ke arah pintu yang sudah tertutup dari luar. Itu pertanda jika Arfan telah pergi.
Sedangkan di mobil. Arfan menyandarkan kepalanya di kemudi mobi. Dia merasa sangat berat di kepala dan ... hatinya.
"Semuanya baik-baik saja kan?," tanyanya pada dirinya sendiri.
Ada keraguan setelah dia berhasil menikahi Sonya sebagai bukti tanggung jawabnya. Arfan melihat sebuah foto di dompetnya, yang selalu dia simpan sejak dulu.
"Arin, aku berharap kamu masih mau menjadi sahabat ku meski suatu hari nanti, kita berpisah karena pernikahan keduaku." Arfan mengelus bagian wajah istrinya di foto pernikahan nya dengan sahabatnya sendiri. Entah siapa yang meletakkan foto pernikahan pertamanya itu. Tapi, laki-laki itu tidak pernah mengeluarkan atau mengganti foto itu.
❤️❤️❤️ Macan
Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️
Dukung aku :]
Follow, Like dan comment ya ....
Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.
__ADS_1
Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA
############################################