
POV ARFAN
Tok tok tok
“Masuk”
“Sayang”
Aku terkejut dua kali di waktu yang sama. Di pintu itu, Arini berdiri dan tersenyum kepada ku atau mungkin ayahnya. Dalam hatiku, aku terkejut karena bukan Sonya yang kini duduk di sampingku setelah dia mencium tangan Ayah. Namun aku juga tidak menyangka, Arini memanggilku dengan panggilan ‘sayang’. Manis sekali.
“Mas?” Aku melihat ke arahnya yang ingin mencium tanganku.
“Tumben kamu kesini?” Tanyaku saat dia sedang menyiapkan makan siang untuk kami bertiga.
“Aku kangen kamu, Mas”
Lagi. Aku terkejut dengan ucapan Arini. Entah kenapa, hatiku sangat bahagia. Selama pernikahan kami ini, Arini menjalani perannya sebagai istri yang baik. Tapi, dia tidak pernah mengungkapkan bagaimana perasaanya. Dia kangen padaku, kalimat itu membuat suasana hatiku di sore hari menjadi baik.
Sejak rencana perjodohan dari kedua orang tua kami, aku membatasi diriku untuk tidak terlalu dekat dengannya. Kenapa? Karena aku tidak bisa hidup bersama orang yang aku cintai, Sonya. Dan saat ini, aku sudah menikah dengan wanita yang aku cintai dan juga sahabatku sendiri. Ketika keluarga kami tahu perihal pernikahan keduaku, Arini masih tetap menerimaku sebagai suaminya dan menjalani tugasnya meski aku telah menyakiti hatinya. Aku tahu jika pernikahan keduaku telah melukai hatinya. Tapi, aku harus bertanggung jawab atas perbuatan ku kepada Sonya dengan cara menikahinya. Sebenarnya, ada sedikit keraguan dalam hatiku jika bayi yang ada dalam kandungan Sonya bukan anakku. Aku yakinkan jika aku tidak pernah melakukan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah.
“Mas mau lauk apa?” Suara Arini berhasil membuatku berhenti sejenak dari pikiran tentang kehidupan rumah tanggaku bersama Arini dan … Sonya.
“Ayam sama cah kangkung saja”
Dengan telaten, aku melihat Arini yang menyiapkan makan siangku setelah dia mengambilkan lauk-pauk dan nasi untuk ayahnya.
“Arfan, pimpin doa dulu ya” Ujar Ayah.
Aku menganggukkan kepala dan memulai doa untuk makan di waktu sore. Arini tahu saja jika setelah aku pergi dari kantornya, aku belum makan siang. Apa jangan-jangan perutku berbunyi ketika tadi siang aku bercinta dengannya?
“Tidak mungkin”
“Tidak mungkin kenapa, Mas?”
Ternyata Arini bisa mendengar ucapan ku meski suaraku sangat pelan.
“Tidak apa-apa”
Kami menikmati makanan yang Arini beli di restoran masakan Padang dengan nikmat.
“Alhamdulillah”
“Mas?”
“Iya?” Tanyaku setelah meletakkan piring.
“Aku kantin dulu ya”
“Kamu laper lagi, Nak?” Giliran Ayah yang bertanya kepada putrinya sambil tersenyum kecil.
“Arin pengen beli jus, Ayah”
“Oh, Ayah titip jus alpukat ya”
“Siap, Ayah. Mas mau beli titip jus buah juga?”
__ADS_1
“Boleh, jus sirsat”
“Wah, kita samaan. Aku pengen beli jus sirsat juga”
“Ini” Aku memberikan satu lembar uang merah kepadanya.
“Terima kasih”
Ceklek
Pintu ditutup dari luar.
“Arfan ke kamar mandi dulu sebentar, Ayah”
“Silahkan”
Dengan langkah perlahan, aku masuk kedalam kamar mandi.
Tut tut tut
Aku berusaha menelepon Vano. Aku taku Arini bertemu Sonya di gedung kantor ini, Sekarang, aku harus berpikir untuk babak kedua sebelum terjadi peperangan antara Arini dan Sonya, Ayah juga.
📞📞📞
“Aman?” Tanyaku langsung saat panggilan ke lima.
“Salam dulu, Pak”
“Huft. Assalamualaikum”
“Bagaimana situasi aman terkendali?”
“Bos tenang saja. Si B menikmati makanan dan minuman sambil menonton televisi”
“Syukurlah, sekarang anak si B juga datang ke kantor”
“Anaknya si B? Mbak Arin?”
“Heh, panggil Nona Muda kepada istriku. Jangan sebut nama atau merk dalam misi kita ini.”
“Ma-maaf, Bos. Tadi, saya sempat bertemu dengan Nona Muda di kantin. Nona Muda ingin saya panggil dia, Mbak Arin saja. Begitu, Bos”
“Terserah. Jangan sebut merk, aduh. Oh ya, rencana babak kedua karena kedatangan istriku harus kita pikirkan baik-baik”
“Siap, Bos”
“Jadi rencananya ... Kamu bawa si B keluar dari kantor ini setelah si C kembali dari kantin. Mengerti?”
"Eh, kok pendek sekali rencananya, Bos? Beda sama rencana babak satu yang panjang dan rinci?"
"Biar cepet kelar. Seharian aku senam jantung terus. Pokoknya, kamu cari apapun alasan biar si B pergi dari sini. Paham?"
“Laksanakan, Bos”
“Oke. Assalamualaikum”
__ADS_1
“Waalaikumsalam”
📞📞📞
Untung saja aku memilik sekretaris yang cepat dang tanggap. Aku merapikan penampilanku dan menyiram toilet agar Ayah percaya kalau aku selesai buang air kecil.
Ceklek
“Astaghfirullah, Ayah”
Aku terkejut melihat Ayah yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi dengan kedua tangganya yang dimasukkan dalam saku celananya. Hari ini aku benar-benar senam jantung.
“Siapa si B dan si C?”
Gawat. Ayah mendengar pembicaraanku dengan Vano. Ayo berpikir, alasan apa yang bagus untuk menutupi semua sandiwara ini. Aku lelah. Rasanya, aku ingin sekali mengatakan fakta mengenai alasan pernikahan keduaku. Tapi, aku tidak siap jika Arini pergi dari hidupku. Tidak akan pernah siap. Karena aku yakin, Ayah pasti marah besar begitu Papa dan Mama.
“Oh ehm itu …”
“Ayah? Mas?”
Suara Arini yang baru masuk ke dalam ruangan berhasil membuat ku menghela nafas lega, syukurlah.
“Jus alpukat ada, Sayang?”
Mumpung Ayah sibuk dengan pesanan minumannya, aku mengirim teks pesan kepada Vano untuk segera membawa Sonya pergi dari sini.
“Ini, Ayah. Dan ini jus sirsatnya, Mas”
Arini memberikanku segelas jus bewarna putih.
“Terima kasih”
“Sama-sama, Mas”
Aku sekilas melihat notifikasi di handphone, Vano berhasil membuat alasan kepada Sonya agar dia pergi dari kantor ini.
“Alhamdullilah”
“Seger ya, Mas?”
“Iya”
Satu jawaban itu mewakilkan semua kegundahan hati ku hari ini karena kedatangan Ayah, Arini dan Sonya. Entah sampai kapan, aku harus menyembunyikan semua ini. Apakah Arini akan tetap selalu berada di sampingku saat dia tahu kebenarannya nanti? Harus. Arini harus menjadi istriku selamanya.
POV ARFAN END
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Love u all
🌼🌼🌼
__ADS_1