Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Pergi ke Rumah Mertua


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


“Aku harap kamu tidak menyembunyikan sesuatu lagi padaku, iyakan?,”


Tubuh Arfan menjadi kaku. Wajahnya menegang. Arini melihat ekspresi suaminya.


“Tidak ya?”


“Aku ingin kamu jujur sama aku, Mas?,” ucapnya dalam hati.


“Sepertinya kamu tertular demam ku tadi malam, sebaiknya giliran kamu untuk istirahat.” Arfan berjalan menghampiri Arini yang berdiri tidak jauh dari ranjang.


“Jangan sentuh aku, Mas. Jujur, a-aku masih ingat bagaimana rasa sakit hatiku saat kamu pertama kali menyentuhku. Kamu memaksa aku untuk memberikan hakmu. Dan setelah itu, kamu pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di kamar. Kamu pikir aku pel*cur, HAH”


Arini berteriak lagi tepat di hadapan laki-laki itu.


“Kamu bilang aku bukan pel*cur … hiks … hiks, tapi tindakanmu yang membenarkannya, Mas”


Setelah mengutarakan perasaan sesak dalam hatinya, Arini keluar dari kamar.


*_____*


Arfan hanya menatap pintu kamar yang tertutup setelah sang pelaku menutupnya dengan cukup keras.


“Kenapa semua ini terjadi … ARGHHH”


Dia tidak menyangka. Istrinya yang merawatnya dengan lembut semalam saat dirinya sakit, maka paginya akan terjadi hal ini. Kenapa seperti ini, begitulah pikirnya. Bagaimana bisa istri cantiknya dan lemah lembut itu berani berteriak kepadanya.


POV ARFAN


Jujur, aku tidak menyangka Arin berkata seperti itu. Jadi, selama ini dia memendam semua sakit hatinya padaku. Aku pikir, dia baik-baik saja. Kenapa? Karena dia tidak pernah marah atau membantahku. Ternyata, dia sangat rapi untuk menyembunyikan kesedihannya. Dulu, dia adalah sahabatku. Tapi, tidak saat ini.


Mungkin saat persahabatan kita masih baik-baik saja, aku masih bisa membujuknya dengan coklat atau es krim ketika dia marah padaku atau sebaliknya. Namun, kemarahan Arin sekarang dengan status nya yang berbeda, yakni istriku. Ya Allah.


Setelah aku menenangkan pikiranku, aku keluar dari kamar. Dengan maksud, aku ingin membicarakan semua ini. Bicara? Apa berarti aku harus bilang pada Arin jika pernikahan ku dengan Sonya karena bayi? Hingga detik ini, tidak ada yang tahu hal itu, kecuali Jacob dan Vano. Beruntung Papa tidak menemukan kebenaran dibalik pernikahan keduaku. Sungguh, aku tidak sanggup membayangkannya. Aku tidak mau Arin pergi dari hidupku. Tidak akan pernah.


Di lantai bawah, suasana rumah sepi. Tidak ada siapa pun. Di kamar Arin yang dulu … juga kosong. Dimana dia berada. Aku bingung dan … panik. Aku berpikir.


Jangan-jangan Arin … pulang.

__ADS_1


Pulang? Iya, pulang ke rumah orang tuanya.


Ya ampun. Aku harus siap mendapat hadiah dari ayah mertuaku, sama ketika pernikahan keduaku terbongkar. Aku segera pergi menuju rumah mertua yang tidak jauh dari rumah Papa dan Mama. Semoga mereka semua tidak berada dalam satu tempat yang sama. Semoga.


Meski keadaan tubuhku belum benar-benar sehat, dia tetap menyusul istrinya. Harus. Dia mengendarai mobilnya dengan supaya selamat sampai tujuan, begitulah petuah dari Mama.


Sesampainya di rumah Ayah Andika, suasananya lumayan sepi dan sunyi. Satpam tadi bilang kalau Ayah dan Bunda ada di rumah. Sebelum tanganku mengetuk pintu berwarna putih di depanku sekarang, aku berusaha mengatur nafas agar terlihat normal karena aku sedikit berlari dari mobil menuju teras rumah.


Tok tok tok


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


Bunda Rina. Wajah beliau yang sangat teduh setiap aku pandang, membuat hatiku terasa sakit karena telah membuat putri tercintanya menangis dan aku adalah tersangka dalam pertengkaran di rumah tanggaku sendiri. Hingga detik ini, aku tidak menyangka. Kebahagiaan beberapa minggu ini, hilang begitu saja. Semalam, aku tidur sambil memeluk Arin. Dan itu membuat hatiku menghangat dan nyaman. Pertama kali selama pernikahanku dengan istri pertama, aku tidur bersama di satu ranjang. Tidur. Ya, tidur seperti pasangan pengantin yang normal.


“Eh, Nak Arfan. Pagi-pagi kesini ada apa? Yuk masuk dulu”


Pertanyaan itu membuat aku berpikir. Berarti Bunda tidak menunggu kedatanganku karena Arin tidak pulang ke rumah orang tuanya. Lalu, dimana dia sekarang?


Aku duduk di sofa yang berseberangan dengan Ayah yang asyik membaca koran pagi. Ada secangkir kopi hangat di meja, punya Ayah mungkin. Dulu awal pernikahan dan beberapa minggu terakhir ini, Arin juga menyiapkan kopi hangat kesukaanku.


Aku tahu jika Ayah pasti marah kepadaku.


“Waalaikumsalam. Ada apa kamu kemari?,”


“Hmmm itu …”


Aku belum sempat memikirkan alasan yang bagus untuk kedatanganku pagi-pagi begini ke rumah ini. Ya Allah.


“Oh itu … mampir aja, Ayah. Kebetulan, saya ada keperluan di daerah sini,” jawaban yang bagus.


“Minum dulu, Nak.” Bunda meletakkan kopi hangat di meja.


“Terimakasih, Bunda,” untung saja aku sudah sarapan bubur buatan Arin.


“Kata Arin, kamu sakit ya? Udah sembuh?,” ternyata Arin memberi tahu orang tuanya.


“Alhamdulillah, Bunda”

__ADS_1


Sungguh, aku harus pergi dari sini. Aku harus mencari keberadaan Arin, sebelum Ayah dan Bunda tahu putri mereka pergi dari rumah dan meninggalkan suaminya yang baru saja sembuh.


“Hmmm … kalau begitu Arfan pulang dulu, Bunda. Ta-takut Arin bingung cari Arfan”


“Seharusnya kamu istirahat jangan kemana-mana dulu”


“Hehehe, iya Bunda. Ta-tadi, memang ada urusan mendadak”


Aku langsung mengambil tangan kanan Bunda dan Ayah, menciumnya bergantian.


“Ayah harap kamu tidak mengecewakan putri Ayah lagi,” ucapan Ayah membuat aku berdiri kaku di depannya.


Aku masih diam.


“Jawab,” desak Ayah yang berhasil menyadarkan ku.


“Ayah,” usapan lembut Bunda di lengan Ayah membuat tatapan matanya yang tadi tajam, perlahan kembali normal.


“In-insya Allah”


Entah berapa kali aku gugup berbicara.


“Arfan pamit dulu. Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


POV END


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA

__ADS_1


__ADS_2