Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Rindu


__ADS_3

Dengan malu-malu, Nada ingin bersalaman dengan Sonya. Sayangnya, wanita hamil muda itu tidak menjawab salam dari Nada.


“Nona” Tatapan tajam Vano berhasil membuat Sonya mengulurkan tangan kanannya. Dia bingung, kenapa dirinya begitu mudah mematuhi sekretaris suaminya ini.


“Sonya” Dengan kesal, Sonya menyambut jabat tangan wanita berhijab di depannya. “Kok bisa sih aku nurut sama dia” Ujarnya dalam hati sambil menatap ke arah Vano.


Nada menatap kekasih yang duduk di sampingnya.


“Oh iya” Vano baru ingat dan dia segera menulis nama Sonya di buku yang selalu Nada bawa.


Mbak hamil ya?


Tulis Nada di buku catatannya dan meletakkannya di atas meja.


“Kok kamu tahu?” Tanya Sonya dan dia tidak sabar menunggu jawaban dari Nada yang sejak tadi hanya terus tersenyum menatapnya.


Akhirnya, Vano menjadi perantara antara perbincangan kekasih hatinya dan Sonya.


***


Di sebuah apartemen, Arfan berusaha mencari keberadaan istrinya dan masih belum dia temukan.


“Kamu kemana sih, Arin?”


Arfan menelepon satpam di gedung apartemen, mungkin mereka tahu apakah istrinya memang sudah meninggalkan apartemen atau belum.


“Halo?”


“Iya, istri saya. Arini”


“Unit 5A”


“Jam 7?”


“Terima kasih”


Ternyata, Arin sudah keluar dari apartemen dengan mengendarai mobilnya sendiri sejak dua jam yang lalu.


“Apa Arin ke rumah Papa atau Ayah ya?”


Sebenarnya, Arfan ragu untuk menanyakan apakah Arini di rumah mereka atau tidak kepada Papa Anggara dan Ayah Andika. Dia tidak ingin keluarganya panik.


“Telpon … ga … telpon … ga. Telpon aja”


Tut tut tut


📞📞📞


“Halo, Pa?”


“Kebiasaan. Salam dulu”


“Eh iya, Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam. Apa?”


“Hm, itu …”


“Kapan kamu main ke rumah sama menantu kesayangan Papa, huh?”


“Fix, Arini ga di rumah Papa” Ujarnya dalam hati sambil memikirkan cara bagaimana menutup dengan cara halus panggilan itu dengan cepat.


“Nanti, Pa. Udah dulu ya, Arfan ada meeting”


“Iya, ingat jangan janji-janji terus”


“Siap laksanakan, Pa. Salam ya buat Mama”


“Iya. Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”

__ADS_1


📞📞📞


Panggilan berakhir dengan Papa Anggara. Kini, Arfan berusaha menormalkan detak jantungnya untuk menghubungi ayah mertuanya. “Semoga bukan Ayah yang jawab”


Ring ring ring


Belum selesai mencari nama kontak Ayah Andika, Arfan mendapat panggilan video dari ayah mertuanya.


“Aduh, gawat” Arfan menarik dan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Harapannya telah pupus. Sebab bukan panggilan suara yang dia harapkan jika memang Ayah Andika akan menghubunginya, tapi panggilan video. Dengan berjalan cepat menuju balkon di kamarnya, Arfan kembali berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Semoga Ayah mertuanya tidak curiga jika putrinya pergi tanpa jejak.


📞📞📞


“Assalamualaikum, Ayah”


“Waalaikumsalam. Arin mana?”


“Kenapa Arin tidak di rumah Ayah aja sih” Arfan berharap istri pertamanya di rumah milik Arini saja, namun tidak.


“Oh itu … Arin di kamar mandi, Ayah. Hm, Ayah dan Ibu sehat?”


“Alhamdulillah”


“Kapan kalian main-main ke sini?” Giliran Bunda Rina yang mengambil alih handphone.


“Masih belum tahu, Bunda. Kami usahakan bisa ke sana ya”


“Ya udah, titip salam ya buat putri cantik Bunda”


“Pasti, Bunda”


“Ayah mau kemana?” Bunda mengalihkan tatapannya ke samping dan tidak melihat ke arah kamera.


“Ada apa, Bunda?”


“Bunda mau nemenin Ayah dulu ya beli martabak manis, entah kenapa akhir-akhir ini kita suka beli makan pas malam begini. Bunda matikan ya telponnya. Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


📞📞📞


“Kenapa perasaanku tidak enak begini ya? Kamu kemana sih, Arin?”


Ting


Suara notifikasi pesan masuk terdengar di handphone miliknya.


📩Vano


**Bos, si B sudah saya antar pulang**.


Arfan lega karena istri keduanya baik-baik saja. Dia merasa kehilangan di kamar itu.


📩Bos Ar


**Cari istriku**


Balas sekaligus pesan perintah kepada sekretarisnya.


📩Vano


**Istri yang mana, Bos**?


📩Bos Ar


**Arin**


Dengan kesal Arfan mengetik nama istri pertamanya.


📩Vano


**Siap, Bos**.

__ADS_1


“Pulanglah, Arin. Aku rindu kamu”


Tanpa sadar, Arfan merindukan istri pertamanya.


***


Di sebuah rumah sakit yang cukup jauh dari kota, seorang wanita berhijab terbaring di ranjang rawat setelah dokter memberinya infus dan selesai pemeriksaan awal.


“Bagaimana keadaan teman saya, Dok?” Tanya laki-laki tampan dengan balutan jaket warna hitam.


“Pasien mengalami benturan ringan di kepala. Tetapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, …”


“Ada apa, Dok?”


“Saya memang bukan dokter spesialis, tapi saya menduga jika pasien tengah hamil. Jadi, sebaiknya pasien bisa langsung konsultasi dengan dokter kandungan”


“A-apa?”


“Kalau begitu, saya permisi. Anda bisa tanyakan kepada perawat untuk konsultasi kepada dokter kandungan di rumah sakit ini. Mari”


Setelah dokter umum itu meninggalkan kamar rawat, Rafa berjalan dan berdiri di samping ranjang.


“Kamu harus cepat sadar, Arin. A-aku ingin minta maaf”


Rafa menangis saat dirinya mengingat masa lalunya.


#Flashback On


“Le-lepas … pergi” Teriak Arini sambil berusaha melepas tangannya.


“Kamu jangan marah dong, Sayang”


“Raf, aku mohon … lepaskan aku”


“Tidak akan pernah. Kamu harus menjadi milikku seutuhnya dan selamanya” Ujar Rafa sambil berusaha membuka blouse yang dikenakan teman baiknya.


“Hiks … hiks … lepas … hiks”


Arini berusaha mencari apapun agar dia bisa terlepas dari laki-laki yang sudah mulai membuka celananya. Namun, hanya kegelapan yang Arini lihat. Wanita itu berusaha tetap sadar sebab obat yang tanpa dia sadar telah masuk ke dalam tubuhnya.


“Arin, lihat aku. Semuanya baik-baik saja. Setelah ini, kita hidup bahagia. Ada kamu, aku dan … anak-anak kita nanti. Huft, aku sangat menantikan hari itu datang” Senyuman licik terlihat sangat menakutkan di mata Arini.


Rafa berhasil mengambil ciuman di leher Arini yang putih dan mulus.


“Hah, salah kamu sih menolah ajakan aku untuk kita segera menikah. Jadi, aku harus ambil jalan cepat seperti ini”


Arini berusaha menghindar dari ciuman Rafa di bibirnya.


“Le-lepaskan a-aku, Raf … hiks”


“Kamu sudah tahu jawabannya, Sayang” Rafa berhasil mengambil ciuman pertamanya di bibir Arini. Dia tahu, dirinya juga adalah laki-laki pertama yang mencium wanita yang berada di bawah tubuhnya.


"Le-lepas ... hiks ... le-lepas ... hiks"


Arini hanya menangis saat hanya pakaian dalam saja yang melekat di tubuhnya.


BUG


Suara pukulan di bagian kepala Rafa adalah ingatan terakhirnya saat wanita yang telah menjadi teman baiknya di kampus itu pingsan.


#Flashback Off


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Maaf kalau aku lama up ya, aku berusaha semoga tidak lama up-nya ❤️


Teman-teman bisa baca karya novel ku yang lain AYAH UNTUK ARLAN ❤️ CINTA PERTAMA (TAMAT)

__ADS_1


Love u all, Macan


🌼🌼🌼


__ADS_2