Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Jalan-jalan


__ADS_3

🤣🤣🤣


Hy teman-teman, maaf baru bisa up setelah sekian abad ya ✌️✌️✌️


😇😇😇


Sinar matahari pagi memang sangat baik untuk tubuh, oleh karena Arfan mengajak istrinya jalan-jalan pagi menuju taman yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


"Ya Allah, Sayang. Ini seriusan bawa tas ini?" Tanya Arfan untuk kesekian kalinya.


Sungguh, Arfan tidak menyangka jika jalan-jalan pagi ke taman harus membawa tas yang biasa digunakan untuk perjalanan jauh.


"Iya, Mas. Biar kita di sana nggak beli-beli lagi, kan lebih hemat kalau bawa dari rumah"


Arini masih sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam sebuah tas berukuran sedang bewarna merah muda. Entah sudah berapa jenis barang yang wanita hamil itu masukkan, mulai dari snack camilan, minuman, dan barang-barang kecil yang lainnya.


"Ya Allah, Sayang. Kalau cuma beli air mineral, tissu, sama snack ini, aku mampu kok" Arfan mengambil salah satu barang di dalam tas yang sudah dia pegang.


"Iya ya, aku tahu kamu mampu Mas, ta-tapi emang aku salah ya kalau kita bawa aja dari rumah ... hiks ... kan daripada barang-barang nya lama nggak di pakai ... hiks ... kan ... hiks ... lebih baik kita pakai aja buat jalan-jalan sekarang ..."


"Huft, cup cup istri Mas kok malah nangis sih"

__ADS_1


Cup


Arfan mencium sekilas bibir sang istri yang masih mengeluarkan air mata dan dia hapus segera pula dari pipinya.


"Yaudah, kamu lanjutin lagi aja beres-beres nya ya, aku tunggu di ruang tengah. Dan panggil aku kalau sudah selesai, ingat kamu nggak boleh bawa barang yang berat-berat. Cup"


Arfan mencium lagi bibir Arini yang terasa sangat manis, menurut laki-laki itu.


"Makasih Mas"


Dengan penuh semangat, Arini membuka kembali kulkas dan lemari.


Kasus penculikan di kota X terjadi lagi. ....


Arfan masih fokus mendengarkan pembawa berita sedang menjelaskan sebuah topik berita mengenai kasus penculikan di kota itu.


"Huft, makin nggak aman nih jadinya," gumam Arfan sambil tetap fokus melihat dan mendengar tayangan berita di televisi.


"Mas, ayo berangkat sekarang"


Tiba-tiba, Arini sudah berdiri tepat disampingnya dengan tas berukuran sedang di bahu kanannya.

__ADS_1


"Ya Allah, Sayang. Kok kamu angkat sih tasnya, sini biar Mas aja yang bawa"


"Eh? Nggak apa-apa Mas, tas yg ini nggak berat kok. Mas bawa yang tas itu aja, tuh," ucap Arini sambil menunjuk ke arah pintu rumah dengan dagunya sambil tersenyum manis tentunya.


Arfan terkejut melihat tas berukuran sedang di dekat pintu rumahnya. Dia tidak menyangka jika ajakannya untuk jalan-jalan di taman komplek rumahnya seperti pergi ke luat kota saja.


"Sa-sayang, i-itu hm maksudnya kita beneran harus bawa tas itu?," tunjuk Arfan.


"Iya, Mas. Yuk berangkat, keburu panas nih. Kita jalan kaki kan ke taman?"


Sungguh pertanyaan istrinya itu hampir saja membuatnya terkejut setengah mati. Bagaimana mungkin dirinya jalan kaki sambil membawa tas itu, apa kabar dengan tangannya nanti.


"Kita naik sepeda aja, gimana?," Arfan berusaha menyelamatkan anggota tubuhnya dari pegal-pegal nanti.


"Naik sepeda? Loh kan kita mau jalan-jalan Mas, ya harus jalan kaki dong"


Arini langsung berjalan duluan menuju depan rumahnya, dia tidak peduli bagaimana ekspresi wajah suaminya itu.


"Huft, sabar. Demi calon anak sendiri," gumam Arfan sebelum melangkahkan kakinya menghadapi medan perang, pikirnya.


🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2