
“Aku baik," Arini menghentikan sejenak ucapannya. "tapi itu sebelum Mas Arfan mengalami kecelakaan”
Steve hanya bisa tersenyum, berharap Arini tahu jika Arfan pasti baik-baik saja.
“Kamu harus tetap optimis. Aku yakin Arfan pasti baik-baik saja”
“Amin”
Tok tok tok
“Masuk” Ucap Steve kepada seseorang yang mengetuk pintu ruang rawat Arfan.
“Assalamualaikum. Maaf, Pak, Bu. Adek Sam nangis terus, sepertinya haus dan mau minum asi saja. Tadi, Adek Sam nggak mau pas saya kasih susu di botol”
Seorang wanita yang masih terlihat muda masuk ke dalam ruangan sambil menggendong bayi mungil.
"Waalaikumsalam"
“Terima kasih, Ani. Sini biar saya gendong saja”
Sonya merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima putranya dalam pelukannya.
“Kamu tunggu di kantin saja ya, boleh ajak Pak Karim. Nanti saya hubungi kamu, kalau kami sudah mau pulang” Steve memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada Ani, pengasuh putranya.
“Wah, terimakasih Pak, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Perempuan itu muda sekali” Ujar Arini setelah pintu ruang rawat suaminya ditutup dari luar oleh Ani.
“Dia anak pembantu di rumah, kira-kira masih SMA. Iya kan, Sayang?”
__ADS_1
“Iya, Mas. Kami juga membantu biaya sekolahnya, tapi Ani tidak mau menerima bantuan kami begitu saja. Jadi, dia ingin membalas budi kami dengan cara membantuku menjaga Sammy”
“Wah, nama yang bagus. Ya ampun, tampan dan lucu sekali Adek Sam”
Arini menatap dengan mata yang berbinar bayi lucu dalam gendongan Sonya yang sedang asyik menikmati sumber kehidupannya.
“Siapa dulu pemilik bibit unggul nya” Dengan bangga Steve menepuk dadanya.
Plak
“Apaan sih, Mas” Pukulan yang lumayan keras hinggap di lengan Steve.
“Aw, sakit tau. Kamu kok makin sadis banget sih”
“Kan kamu duluan yang mulai”
“Mulai apa? Oh, mulai pertempuran kita di ranjang ya” Goda Steve dengan senyuman manis di bibirnya.
“Jelek? Mana ada, Sayang. Aku itu …”
Hati Arini sangat bahagia melihat teman baiknya bisa membangun sebuah keluarga. Dia juga tidak menyangka, mantan madunya adalah wanita yang menjadi pendamping hidup Steve. Takdir memang tidak ada yang tau bagaimana awal dan akhirnya.
“InsyaAllah, anak aku sama Mas Arfan juga laki-laki. Wah, mereka bisa jadi sahabat baik juga nih”
“Benarkah? Wah, asyik. Kalau bisa, salah satu dari kita punya anak perempuan ya. Terus kita jadi besan deh”
Sonya tersenyum bahagia dengan keinginan untuk kedepannya.
“Wah, ide bagus tuh. Pokoknya, kita berdua harus lebih semangat olahraga di malam hari ya, Sayang. Hm, kalau bisa sih olahraga setiap waktu. Biar cepet jadi. Papi mau punya anak banyak lho”
Cubitan Sonya mendarat dengan manis dan mulus di paha Steve.
__ADS_1
“SAKIT”
Steve meringis kesakitan di pahanya. Dia tidak menyangka, cubitan maut istrinya sangat menyakitkan.
“Papi, dijaga dong bibirmu itu ish. Aku ga mau telinga Sam terkontaminasi dengan ucapanmu itu”
“Sam masih belum ngerti, Sayang”
“Pokoknya, kamu harus jaga bicara. Kalau nggak, siap-siap libur seminggu”
“Hahahahaha”
“Ha-us” Suara pelan terdengar dari ranjang pasien. Namun, tidak ada yang menyadarinya. Arini masih berusaha menghentikan tawanya akibat pertengkarang Steve dan Sonya yang sangat lucu.
“Ha-us”
Saat Arini berhasil berhenti tertawa, dia mendengar suara itu. Tatapan matanya langsung melihat ke arah ranjang pasien. Bibir Arfan sedikit bergerak meski kedua matanya masih belum terbuka.
“MAS”
“Arfan?” Panggil Jacob setelah dia membuka pintu tanpa menunggu perintah dari dalam. Cukup lama dia berdiri di depan pintu ruang rawat sahabatnya, namun hanya terdengar suara tawa Arini. Dan dia tidak menyangka, Arini berteriak sambil berlari menuju ranjang dimana Arfan masih terbaring.
“Ada apa, Mas?” Tanya Farah saat melihat suaminya hanya berdiri tepat di hadapannya setelah membuka pintu.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Love u all
__ADS_1
🌼🌼🌼