Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Jangan Ambil


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


Arini memandang ke arah Jef yang asyik membuka hadiah dari teman-teman Papa dan Mama nya, termasuk dirinya. "Mas Arfan kok belum datang ya," tanyanya dalam hati.


"Syukurlah," ujar Steve sambil melihat ke arah yang sama seperti Arini.


"Oh ya, aku kepo sesuatu," tanya wanita berhijab dusty pink dengan memicingkan kedua matanya menatap teman sekaligus ... dokternya.


"Kepo apa?"


"Udah ada yang pas ga di hati kamu?"


Steve malah tertawa sebab pertanyaan dari teman dan pasiennya. Arini juga tersenyum geli karena pertanyaannya tidak dijawab.


Tidak jauh dari mereka duduk, ada sepasang mata yang menatap tajam dengan kedua tangannya yang mengepal begitu kuat. "Siapa laki-laki itu?"


"Om Alpan, yah tu na?"


Arfan terkejut karena pertanyaan tiba-tiba Jef yang berada di depannya.


"Hadiah? Ada kok. Taraaa"


Jef berteriak sambil berlari ke Mamanya, "Mama, da yah Om Alpan"


"Hati-hati, Sayang"


"Acaranya dah selesai, bro. Lo dateng telat eh bukan mending ga usah dateng aja. Kirim online aja hadiahnya," gerutu Jacob sambil menatap kesal ke arah sahabatnya.


Dan orang yang dimarahi tidak peduli. Dia lebih peduli dengan pemandangan istrinya yang tertawa dengan laki-laki yang tidak pernah ia kenal. "Aku kenal semua teman-teman nya, tapi ... laki-laki itu ... siapa dia?," gumamnya dengan suara yang pelan. Namun, masih dapat didengar oleh Jacob.


"Siapa yang lo maksud?," tanyanya dengan tatapan matanya melihat ke arah Arini dan dokter istrinya dulu.


*_____*


Arfan tidak mempedulikan pertanyaan sahabatnya, melainkan langsung berjalan dengan cepat menuju Arini berada.


"Pulang," tanpa mengatakan apapun, laki-laki itu menarik tangan Kinan dengan paksa.


Kinan terkejut dan hampir saja terjatuh. " Ya Allah, Mas? Kapan Mas datang? Awwww, tanganku sakit, Mas"


Tanpa mereka duga, Steve menghalau langkah mereka dengan memegang kuat bahu Arfan.


"Lepas," tatapan tajam Arfan menghunus langsung ke arah Steve.


"Santai, Bro. Kasihan istri lo kesakitan gitu"


"Bukan urusan lo"

__ADS_1


Arfan langsung mengendarai mobilnya tanpa berbicara sekalipun, begitu pula terhadap tuan rumah yakni Jacob saat mereka meninggalkan kediaman rumah Jef.


"Mas? Kapan Mas datang?," tanya Arini sambil mengelus pergelangan tangannya yang merah.


Tidak ada jawaban dari yang bersangkutan. Laki-laki itu fokus menyetir, namun genggaman di kemudi mobil sangat erat.


Setelah mobil berada di posisi yang benar di tempat parkir apartemen, Arfan langsung menarik lagi dengan paksa tangan Arini yang baru saja keluar dari mobil.


"Mas? Kamu kenapa sih? Ya Allah, pelan-pelan, Mas"


Brak


Pintu apartemen di buka dengan kasar oleh Arfan.


"Masuk"


Mereka berdua di kamar tamu yang ditempati Arini. Arfan menjatuhkan tubuh istrinya di atas ranjang. Setelah itu, dia membuka kancing kemeja yang ia kenakan.


"Mas ... kamu mau ngapain?," tanya Arini sambil berusaha bangun dari posisi terlentang akibat suaminya.


"Wajah kamu kenapa kayak gitu, Sayang? Jangan takut, aku ga gigit kok," setelah selesai dengan urusan baju, Arfan lanjut melepas ikat pinggangnya.


Arini menggelengkan kepalanya. Dia takut. Tatapan mata suaminya membuat dia merasa dalam bahaya. Walaupun, dia tahu bahaya yang ia maksud adalah kewajibannya kepada suami.


"Senyum dong, tadi kamu sama laki-laki tersenyum manis sekali. SENYUM," bentakan di akhir kalimat Arfan, membuat Arini mundur perlahan.


"Kenapa? Kamu ga mau hah?"


Arfan naik ke atas ranjang dan langsung mengungkung istrinya di bawah tubuhnya yang besar. "Cup," lalu mencium kening Arini.


"Shuuut. Jangan nangis, Sayang." Arfan melepas dengan paksa jilbab Arini.


"Cantik sekali."


Ciuman Arfan sudah berpindah-pindah, dari mulai leher hingga dada Arini yang sudah setengah telanjang sebab pakaiannya yang sobek karena pelakunya adalah laki-laki di atas tubuh sang wanita.


"Hiks ... hiks ... jangan ... jangan ... hiks ... maaf ... maaf ... hiks"


"hey, jangan nangis dong. Relax, oke. Lihat aku," Arfan memegang wajah istrinya yang cantik dan manis. Dia tidak menyangka, sahabat kecilnya akan menjadi seorang perempuan seperti sekarang.


Arini menganggukkan kepalanya.


"Beri hak ku sekarang," ucap Arfan.


Perempuan itu langsung menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia ikhlas akan memberikan hak suaminya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Arini ingin sholat sunnah 2 rakaat dan berdoa dulu. Tapi, sekarang tidak mungkin akan seperti itu.


"Jangan ... sekarang ... Mas. Kita ..."

__ADS_1


Ucapan Arini terhenti karena ciuman dari sang suami. Awal yang pelan, namun lama waktu berlalu, ciuman mereka menjadi lebih panas dan menuntun lebih.


"Maaf, Sayang. Aku mau sekarang"


"Ahhh"


Des*ahan Arini keluar begitu saja saat Arfan berhasil mengambil satu-satunya yang dia jaga memang untuk suaminya. Dan sekarang dia memberikan hal itu untuk sahabat sekaligus suami, Arfan.


Di dalam pikiran Arini, dia selalu memikirkan hal yang sama. "Dia suamimu, halal baginya untuk menyentuhmu." Kalimat itu berulang kali dia ucapkan dalam hatinya.


***


Hampir 2 jam berlalu, Arfan masih belum menyelesaikan apa yang sudah sejak tadi dia kerjakan. "Ya ampun, nikmat," ujarnya saat dia berhasil mencapai puncak entah ke berapa.


"Aku mau lagi"


Laki-laki itu hanya memberi jeda waktu kurang lebih 5 menit, lalu melakukan lagi kegiatan olahraga malamnya bersama istrinya.


"Mas ... aku ... capek"


"Satu kali. Janji"


Tanpa mempedulikan wajah Arini yang pucat, Arfan memasukkan kembali 'mainan' nya untuk bertemu dengan 'teman baru' milik Arini. Sepertinya, 'mainan' nya sangat bahagia karena lama sekali untuk pergi dari rumah milik 'teman baru'.


Setelah benar-benar puas, Arfan langsung turun dari ranjang dan mengenakan celana pendeknya. Dia menuju kamar mandi. Terdengar suara air shower yang menandakan ia sedang mandi.


"Syukurlah," gumam Arini setelah dia sedikit sadar. Dia menaikkan selimut hangat untuk menutup tubuh nya yang polos.


Klik


Pintu kamar mandi terbuka. Dan tanpa Arini duga, Arfan langsung keluar dari kamar. Laki-laki itu meninggalkan Arini tidur sendirian di ranjang dan kamar yang masih gelap gulita. "Ya Allah, Mas Arfan ... hiks," lirih wanita dengan air matanya yang jatuh mengenai bantal dan selimut. "Tega kamu, Mas"


Arini tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur, melainkan hanya menahan air matanya yang terus jatuh mengenai pipi nya. Dia tidak menyangka, suaminya akan keluar dari kamar ini setelah berhasil berhubungan intim suami-istri. "Kuatkan hati hamba, Ya Allah". Dia terus menguatkan hatinya, jika kejadian tadi tidak sama seperti dua tahun lalu.


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA


############################################

__ADS_1


__ADS_2