Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Ada Rahasia Lain


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


Setelah mematikan televisi, Arfan menempati ranjang di sebelah istrinya. Cukup lama dia tidur terlentang sambil menatap langit-langit di kamarnya, Arfan mengambil guling yang berada di tengah-tengah mereka dan membuangnya. Malang sekali nasibmu, guling, hiks hiks hiks.


Suasana di kamar itu menjadi hening. Hanya suara dentingan jam dinding yang berada di atas televisi. Arfan memejamkan matanya dengan tangannya yang memeluk guling hidup dengan erat. Siapa? Arini adalah jawabannya. Tanpa Arfan sadari, Arini masih belum tidur.


Saat pelukan hangat melingkari pinggang Arini, dia menahan nafas karena terkejut dan canggung. Pertama kali, Arfan memeluk dirinya saat mereka tidur bersama di satu ranjang. Yah, walaupun dulu pernah tidur di kamar yang sama, tapi tidak ada adegan pelukan.


*_____*


Hari ini adalah hari libur bagi para pegawai perkantoran dan mungkin beberapa toko. Namun, Jasmine Cafe tidak libur. Arini tetap membuka cafenya, namun tutup lebih awal dari hari-hari kerja biasanya. Dia duduk di meja kerjanya di ruangan khusus untuk dia bekerja, seperti membaca laporan keuangan.


Ring ring ring


"Assalamualaikum, Mas?"


"Hmmm, ga sibuk sih."


"Jalan-jalan? Kapan? Kemana?"


"Mau"


"Iya, Wassalamualaikum"


Arini meletakkan handphonenya setelah menerima panggilan telepon dari suami. Dia tersenyum bahagia karena nanti dirinya dan Arfan akan jalan-jalan berdua. [Bahagia sekali ya, Arini].


POV ARINI


Aku menyandarkan kepalaku di kursi kerja di ruangan ku. Aku kembali mengingat perbincangan ku dengan Ayah dan Bunda beberapa hari yang lalu. Mereka menanyakan alasan pernikahan kedua Mas Arfan. Aku masih merasa bersalah karena kebohongan yang aku buat. Aku membuat alasan jika Sonya adalah cinta masa lalu suamiku. Meski aku tidak tahu, apa alasan Mas Arfan menikahi Sonya. Ternyata, Papa dan Mama juga pernah bertanya, tapi Mas Arfan juga menjawab hal yang sama seperti aku katakan kepada kedua orang tuaku.


Huft. Sebenarnya, hubunganku dengan Mas Arfan semakin baik dalam beberapa hari ini. Aku pernah ingin bertanya, alasan Mas Arfan menikahi wanita itu. Tapi, aku tidak mempunyai keberanian. Aku takut Mas Arfan marah padaku dan hubungan baik kami akan rusak seperti awal pernikahan.


Hmmm, ba'da dhuhur Mas Arfan akan mengajakku jalan-jalan berdua di mall yang dekat dengan cafe ku ini. Aku bahagia sekali. Namun, ada sudut hatiku yang masih sakit karena sikap Mas Arfan yang tidak berubah saat kami selesai berhubungan suami istri. Meski kita melakukan 'itu' di kamar yang terletak di lantai dua, Mas Arfan lebih memilih keluar kamar dan tidur di kamar tamu. Sakit sekali hatiku.


Sejujurnya, sejak Mas Arfan mengambil mahkota berharga ku hingga saat ini, aku sesekali datang ke teman ku, Steve. Kejadian dua tahun lalu, masih membekas dengan rapi dalam ingatanku. Dan itu membuat ku sering tidak nyaman tidur berdua bersama Mas Arfan. Untung saja dia tidak menyadari kegelisahan ku saat kami tidur.


POV ARINI END


Sebuah mobil mewah terlihat di depan Jasmine Cafe, dan Arini langsung keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri pemilik mobil yang menyandarkan tubuhnya di mobil itu. Tampan sekali, pikir Arini saat berada tepat di hadapan suaminya.


"Kita berangkat," ujar Arfan setelah memastikan seat belt terpasang dengan baik pada nya dan Arini.


Suasana Mall sangat ramai. Karena keadaan, Arfan menggenggam tangan istrinya, seperti pasangan romantis dan keluarga harmonis. Dan yang dipegang tangannya, berdegup kencang jantungnya.

__ADS_1


"Kamu sakit? Tangan mu dingin," tanya Arfan merasakan keringat dingin pada tangan yang dia genggam.


"Ga kok, Mas. Aku ... se ... sehat," gugup Arini saat kedua mata suaminya menatap dirinya dengan dalam dan khawatir.


"Kita makan dulu"


Restoran makanan Jepang menjadi pilihan mereka berdua, setelah berputar-putar mencari tempat makan di lantai Mall khusus food court.


"Hmmm, aku mau ini aja, Mas"


"Ramen ini 2, es teh manis 2, dan sushi 1 porsi saja. Cukup," pinta Arfan sambil menunjuk di buku menu kepada pegawai yang bertugas.


"Baik, pembayarannya sekarang dan bisa dilakukan di bagian kasir. Terima kasih"


Sambil menunggu Arfan membayar, Arini membuka akun sosial medianya. "Hmmm, dah lama banget aku ga main sosmed," gumamnya.


"Main apa?," suara Arfan mengagetkan wanita itu, dan hampir saja handphone nya jatuh.


"Ya Allah, kaget banget aku, Mas," Arini mengelus pelan dadanya.


"Heheheh, maaf maaf," tawa Arfan membuat Arini terdiam. Lama sekali, dirinya tidak mendengar suara tawa itu.


"Inget ga, Mas?"


"Ga"


"Iya iya, inget apa?,"


"Pantai"


"Pantai?"


"Iya, kapan-kapan kita ke pantai yuk. Aku kangen lihat matahari terbenam."


"Hmmm"


"Maaaas?," panggil Arini dengan suara sedikit manja karena sang suami fokus dengan permainan di handphone.


"Boleh sih, atur aja waktunya."


"Dulu kita sering banget ke sana. Mungkin, bisa 3 kali atau lebih kita ke sana tiap minggu."


"Iya, dan gara-gara itu. Kamu jadi sering sakit"

__ADS_1


"Ehem, kan kita sering ke sana pas mau malem-malem, Mas"


"Ya iyalah, kalo kita ke sana pagi-pagi bukan matahari terbenam. Tapi, matahari terbit"


Arfan mulai menikmati obrolan nya dengan sahabat sekaligus istrinya, sekarang.


"Heheheh, iya juga sih. Tapi aku ga kapok lho ke sana"


"Tapi, Ayah sering marah padaku"


"Lho? Kenapa Ayah marah sama kamu, Mas?"


"Karena putri kesayangannya sakit, dan aku adalah orang yang bersama mu saat di pantai," dengan gemas Arfan mencubit pelan pipi istrinya.


"Ishhh, sakit tau, Mas." Arini mengelus pipinya yang terasa sakit.


"Hahahaha." Arfan tertawa lagi sebab ekspresi wajah Arini yang sangat lucu karena cubitannya.


Perbincangan mereka terus berlanjut. Sangat jarang mereka berdua bisa saling berbincang seperti itu. Terakhir kali dan pertama kali setelah pernikahan mereka, yakni ketika awal pernikahan karena kedatangan Jacob dan keluarganya. [Baca Bab 5].


Tanpa mereka sadari ada tatapan mata penuh kebencian melihat kebersamaan Arfan dan Arini.


"Jahat kamu, Mas. Sejak pernikahan kita, kamu ga pernah bicara santai seperti itu kepada ku," geram seorang wanita yang melihat dengan Arfan dan istrinya yang duduk dekat kaca, sehingga orang dari luar restoran dapat melihatnya.


"Aku tidak akan membiarkan kedudukan ku sebagai istri mu hilang begitu saja. Ada bayi yang harus aku perjuangkan," Sonya mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


"Yahhh, meski ayah bayi ini bukan kamu. Tapi, harus kamu yang tanggung jawab, Mas."


Sonya masih melihat dengan kesal kebersamaan suaminya dan madunya.


"Jadi, benar wanita itu maduku? Kampungan"


Sonya tidak menyangka, sahabat suaminya sendiri yang menjadi madunya.


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.

__ADS_1


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA


############################################


__ADS_2