
Arini masih membalas dengan erat pelukan suaminya. Dia tidak menyangka jika pelukan ini akan terjadi dalam hidupnya setelah pernikahan dengan sahabatnya sendiri. Sungguh, Arini bersyukur semuanya baik-baik saja. Dia berharap, semoga tidak ada lagi orang lain yang akan menggangu kehidupan rumah tangganya, Amin.
"Ehem, Mas pengen banget peluk kamu terus sampai malam kalau bisa. Tapi, Mas pengen mandi nih" Ujar Arfan saat merasakan pelukan istrinya yang semakin erat. Sepertinya, ibu hamil ini sangat ingin dia peluk.
"Hehehe, iya Mas. Yaudah, sana mandi. Kamu bau acem"
"Eh? Bau? Perasaan tadi sebelum keluar dari rumah sakit, aku mandi lho" Arfan mencium bau tubuhnya sendiri.
Dengan gerakan gemas, Arfan mencubit kedua pipi istrinya yang chubby.
"Ish, sakit. Nih, aku balas ya" Arini justru semakin menarik pipi suaminya hingga terlihat merah.
"Aw, sakit. Aduh aduh, sepertinya anak Ayah atau Bunda pengen balas dendam ya"
"Maksudnya?"
Arini bingung dengan maksud ucapan Arfan.
"Kamu cubit aku seperti tersirat ungkapan gini, hahaha rasain kamu Mas, sakit kan? Sayangnya, lebih sakit hati aku dulu" Arfan meniru nada suara istrinya jika marah.
"Siapa yang bilang kayak gitu? Aku sudah bahagia seperti ini Mas, aku nggak mau ada dendam diantara kita berdua. Aku ikhlas"
Lagi-lagi, Arfan menghapus air matanya dengan cepat. Entah berapa kali dia menangis. Laki-laki itu sangat bersyukur, Allah telah memilihkan jodoh yang tepat dalam hidupnya. Takdir manusia memang tidak ada yang tahu, pikir Arfan dalam hatinya.
"Kok diam sih?" Tanya Arini saat melihat suaminya hanya diam.
"Nggak kok, yaudah aku mandi dulu ya"
Sebelum Arfan melangkahkan kakinya dari posisinya di sofa, Arini menarik lengan suaminya.
"Iya, Sayang?"
Senyuman yang sangat manis, batin Arini.
"Sayang?" Panggil Arfan lagi saat Arini tidak menjawab pertanyaannya.
"Eh, ehem, a-aku ... ikutmandisamamas"
__ADS_1
"Apa?" Arfan bingung dengan ucapan istrinya yang tanpa jeda.
Arini menundukkan kepalanya dan mengulang kembali ucapannya. "Aku ikut mandi sama Mas"
Tidak ada balasan dari Arfan, ibu hamil itu mengangkat kepalanya dan menatap suaminya.
"Mas?"
"Tadi kamu bilang apa?"
"Ish, dasar"
Tanpa membalas ucapan Arfan, perempuan cantik itu langsung menarik tangan Arfan masuk ke dalam kamar mandi.
Pasangan suami istri melakukan ritual mandi bersama dengan kegiatan lainnya.
"Mas bantu gosok punggung kamu ya Sayang" Ujar Arfan sambil mempersiapkan busa sabun mandi di spon.
"I-iya, Mas. Hm, nanti gantian ya"
"Apanya?"
Arfan tersenyum jahil di belakang tubuh sang istri.
"Hm, Mas nggak mau punggung yang digosok"
"Terus yang mana mau aku gosok, Mas? Oh, bagian depan ya?"
Ternyata sifat polos Arini masih sama. Manis sekali, batin Arfan dengan masih melakukan tugasnya untuk menggosk bagian belakang tubuh sang istri.
"Iya, tapi tepatnya di bagian bawah perut Sayang"
Sunyi. Hanya terdengar suara percikan air karena Arfan masih menggosok punggung Arini.
"Sayang? Mau ya? Hm, Mas sudah lama banget lho nggak dapat perhatian dari kamu"
"Pe-perhatian?" Arini gugup. Kini, dia tahu apa yang sebenarnya suaminya inginkan.
__ADS_1
"Iya, Sayang"
Arini dapat merasakan nafas suaminya tepat di lehernya.
"M-mas?"
"Iya?"
Sayangnya, tangan Arfan berhenti dan berpindah tempat di bagian depan tubuh Arini.
"Mau ya? Mas janji pelan-pelan kok, kan ada anak Ayah dan Bunda di sini" Dengan lembut Arfan mengusap perut besar istrinya.
"Ta-tapi?" Arini masih ragu.
"Sayang?"
Arini tahu jika suaminya sudah tidak bisa menahan lagi h*srat dalam dirinya.
"Tentu boleh, Sayang" Balas Arini dengan tegas.
Tanpa Arfan duga, istrinya membalikkan badan dan langsung memeluk erat tubuhnya. Dan saat itu juga, tubuh Arfan merasakan panas dingin secara bersamaan.
"Aku mencintai kamu, Mas Arfan"
"I love you too, Sayang"
Arfan langsung melaksanakan kewajiban sebagai suami untuk istri yang sangat dia inginkan sejak dirinya tahu jika dia sangat mencintai Arini.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Maafkan aku baru up
Love u all
__ADS_1
🌼🌼🌼