
Di sebuah tempat istirahat yang memang ditujukan kepada pengendara mobil dalam perjalanan ke kota yang melewati jalan raya itu, Arini menikmati nasi rawon dan teh hangat. Dia sesekali menatap kemesraan teman baiknya dengan istrinya.
“Kalian manis sekali sih”
“Mbak bisa aja” Sahut Sabrina sambil menerima kembali suapan dari sang suami.
“Jangan panggil aku Mbak”
“Hehehe, maaf lupa, Arin”
Arini menyambut senyum tulus teman barunya. Dia juga mengelus lembut perutnya yang masih rata, berbeda dengan Sabrina.
“Kamu pengen sesuatu?”
Rafa memberikan segelas air putih kepada Sabrina dan menatap Arini yang terlihat tidak menikmati lagi makanan yang dia pilih.
“Ehm, nggak kok, Raf. Ini masih banyak nasinya”
“Perasaan tadi kamu makannya lahap banget”
“Eh iya, Arin pengen sesuatu kah? Mungkin kamu dah mulai ngidam”
“Ngidam ya?” Ujar Arini sambil arah kedua matanya menatap perutnya yang masih ia elus dengan lembut.
“Iya”
“Aku … mau dipeluk sama Arfan … hiks hiks hiks” Tiba-tiba saja Arini menangis tersedu-sedu dan membuat pasangan suami istri di depannya terkejut.
“Arin”
Sabrina langsung memeluk teman barunya itu. “Sabar. Hm, apa kita balik lagi ke kota?”
Hanya gelengan kepala Arini saja sebagai jawabannya. Dia masih menangis dalam pelukan Sabrina.
Tidak lama kemudian, Arini mulai tenang dan mengurai pelukannya. “Terima kasih, Sabrina”
“Sama-sama”
“Arin?” Panggil Rafa.
“Iya?”
“Kamu … sudah kasih kabar sama keluargamu?”
“Sudah kok. Aku minta tolong sama Steve”
“Syukurlah, setidaknya sekarang keluargamu tahu keadaanmu baik-baik saja”
“Ayo habiskan makanannya, kita harus melanjutkan perjalanan”
“Iya, Mas” Jawab Sabrina yang masih memeluk Arini.
“Raf?”
“Hm?” Sahut Rafa saat mendengar panggilan teman baiknya dulu. Sungguh, dia sangat bahagia karena Arini telah memaafkannya sebab luka yang telah dia berikan kepada nya akibat obsesinya di masa lalu.
__ADS_1
“Aku pengen rujak mangga muda, sekarang”
“Oh, oke”
“Rafa, sekarang”
“Sekarang?”
Rafa tidak sadar dengan ucapan terakhir Arini yang menginginkan rujak buah di waktu dan tempat yang salah menurutnya.
“Iya, hiks”
Mungkin karena kehamilan Arini, dia mudah menangis dan mulai menginginkan sesuatu atau biasa disebut ngidam.
“Eh eh, jangan nangis. Oke oke, kita lanjut perjalanan sekarang ya, mungkin di jalan nanti ada yang jual rujak”
“Mas, aku pengen rujak juga”
Saat Arini mengatakan keinginannya itu, Sabrina juga membayangkan bagaimana rasanya rujak mangga muda, hampir saja mulut nya keluar air liur.
“Kamu juga, Sayang?” Rafa memastikan lagi perkataan istrinya. Entah kenapa, dia merasa seperti memiliki dua istri saja, dan keduanya dalam keadaan hamil.
“Mau beli rujak mangga muda?”
Ada seseorang yang duduk di samping mereka dan bertanya kepada para wanita dengan mata berbinar setelah mendengar rujak mangga muda.
“Iya” Jawab serempat para ibu hamil itu.
“Bapak tahu yang jual rujak mangga muda di sekitar sini?” Tanya Rafa.
“Wah” lagi-lagi, Arini dan Sabrina kompak berteriak bersama. Dan berhasil membuat para pengunjung restoran langsung melihat ke arah mereka. Dua wanita hamil itu bertepuk tangan bersama dan langsung menarik tangan Rafa.
“Terima kasih atas informasinya, Pak” Ucap Rafa sebelum dia benar-benar dibawa pergi istri dan teman baiknya.
“Sama-sama, Pak. Akur ya istri-istrinya” Goda bapak itu yang tersenyum geli ke arah Rafa.
“Eh, istri saya cuma satu, Pak. MANG”
Sepertinya klarifikasi perihal dua istri tidak didengar oleh orang yang telah memberitahukan mereka lokasi penjual rujak. Rafa berteriak cukup keras untuk memanggil Mang Asep yang terlihat masih menikmati kopi hitam.
“MANG ASEP” Teriak Rafa saat supirnya masih tidak berpindah posisi duduk.
Setelah dua kali mendengar namanya dipanggil, Mang Asep langsung menghabiskan kopi hitam sekali tegukan dan berlari menuju mobil dimana Rafa dan dua wanita berjilbab sedang mengomeli laki-laki tampan itu. “Ada apa ya?” Lirih nya.
“Iya, Den?”
“Kita lanjut perjalanan sekarang, Mang. Mereka pengen rujak mangga muda”
“Oke, Den”
Di dalam mobil, Arini dan Sabrina semakin mendesak Rafa untuk segera beli rujak mangga muda.
“Aden seperti punya dua istri yang hamil semuanya, hahahah” Ujar Mang Asep sambil tetap berkonsentrasi mengemudian mobilnya.
“Huft, saya dua kali mendengar perkataan itu lho, Mang”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Hm. Sabar ya, Sayang, Arin”
“Buruan, Raf”
“Cepet dong, Sayang”
Dan ocehan para ibu hamil usai setelah mereka melihat papan nama toko rujak buah di pinggir jalan. Dan Rafa bisa bernafas lega karena keinginan anaknya dan anak Arini bisa terwujud.
“Capek ya, Den kalau punya dua istri” Ungkap Mang Asep yang duduk di samping Rafa sambil menikmati kopi hitam dengan gelas kecil.
“Satu istri aja pusing, Mang” Rafa sesekali tersenyum melihat istrinya memilih buah-buahan, begitupun dengan Arini.
“Suaminya Mbak Arini kemana, Den? Maaf ya Den saya tanya”
“Hm, aku juga ga tau, Mang. Sepertinya Arini ada masalah dengan suaminya. Arini pengen ikut kami berdua”
“Kasihan Mbak Arini, biasanya ibu hamil muda pengen deket terus sama suaminya”
“Iya, Mang”
Para wanita itu akhirnya telah mendapatkan rujak buah yang tidak berisi buah mangga saja.
“Mas Rafa mau?” Tawar Sabrina kepada suaminya.
“Nggak, Sayang. Kamu makan aja sepuasnya”
“Terima kasih”
“Makasih, Raf” Arini sangat bahagia karena keinginannya bisa terkabul, meski bukan suaminya sendiri yang berusaha mengabulkan ngidam yang sedang dia rasakan. "Aku kangen kamu, Mas" Ucap nya dalam hati.
“Sama-sama”
Sebenarnya, Rafa sedikit kurang nyaman karena tatapan pembeli yang melihat ke arahnya dengan senyuman yang menurutnya aneh.
“Wah dua istri”
“Mantap tuh, istrinya bening-bening”
“Kayaknya istri-istrinya ngidam deh”
Begitulah bisik-bisik para pembeli mengenai dirinya yang dikira memiliki dua istri. "Satu istri aja ribet, apalagi dua. Haduh" Untung saja Arini teman baiknya. Ingin sekali dia bertemu si Arfan dan memberikan sebuah pelajaran kepadanya.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Maaf baru bisa up lagi hari ini 😉
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Love u all
🌼🌼🌼
__ADS_1