Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Kak Ratih


__ADS_3

### Bab sebelumnya …


“Nanti sore kita pulang ke rumah Papa. Hmmm, Kak Ratih pulang,” lanjut Arfan setelah wanita di sampingnya hanya diam.


“Kak Ratih?” tanya Arini dengan wajahnya yang sangat bahagia.


“Iya, ki …”


Tanpa menunggu jawaban selain kata iya dari Arfan, wanita itu langsung berlari menuju tangga,” Berangkat sekarang aja, Mas”


Arfan tersenyum geli melihat Arini yang akan bertemu dengan kakak perempuannya. “Hah, semoga Mama ga cerita tentang pernikahan keduaku. Habis aku”


“Mas, buruan ganti baju,” teriakan Arini di depan pintu kamarnya berhasil membuat Arfan terkejut.


“Iya”


*_____*


Di dalam mobil, hanya terdengar suara dari penyiar radio saja. Sejak mobil dinyalakan, Arini membisu dan langsung memalingkan wajahnya ke arah luar. Entah, apa yang sedang wanita itu pikirkan.


“Hmmm, mau mampir ke supermarket?” tanya Arfan saat dia harus menghentikan laju mobil karena lampu merah.


“Buat apa?”


“Buah tangan?”


“Emangnya di tangan ada buahnya sekarang?”


“Arin”


“Apa?”


“Kamu ga tau artinya buah tangan?”


Dengan wajahnya yang terlihat bingung, Arini menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Lucu,” ujar Arfan dalam hatinya sambil tersenyum. Dia melepas kendali rem di kakinya. Mobil kembali berjalan.


“Oleh-oleh, misalnya buah atau kue gitu”


“Oh. Hmmm, bentar.” Arini melihat ke depan seperti sedang mencari sesuatu.


Perempuan itu terus melihat ke kanan, kiri, depan dan belakang. Mungkin saja yang dia cari telah terlewati. “BERHENTI”


Teriakan Arini yang tiba-tiba membuat laki-laki yang sedang memegang kemudi mobil langsung menginjak rem mendadak. “ARIN,” tanpa sengaja Arfan membentak istri pertamanya.


“Ma-maaf,” cicit Arini sambil menundukkan kepalanya.


“Huft, gapapa. Untung saja, jalanan sedang sepi. Ada apa?” tanya Arfan dengan suara yang lembut. Dia tidak ingin membentak istri sekaligus sahabatnya, lagi.


“I-itu a-ada to-ko ku-kue enak,” ucap Arini dengan terbata-bata.


Arfan melihat ke arah samping istrinya. Benar ada toko kue yang cukup terkenal di kota. “Kita beli kue di situ”

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah Papa Anggara, Arini diam saja bahkan sejak mereka pergi ke toko kue dan Arfan yang memilih kuenya. Laki-laki itu tahu, istrinya masih marah atau takut kepadanya. “Maaf,” ucap Arfan saat mereka berdua berjalan ke dalam rumah.


“Hm”


“Arin,” panggil laki-laki itu sambil menarik dengan pelan pergelangan tangan istrinya. “Senyum”


“Mahal senyumku,” Arini melepas genggaman suaminya dan berjalan lebih dulu ke dalam rumah mertuanya.


“Kok makin imut sih,” ucap Arfan sambil berlari mengejar sang istri.


“Assalamualaikum”


“Calam,” bukan orang dewasa yang menjawab salam dari Arfan dan Arini. “TATAK ANTIK,” teriakan itu membuat Arini terkejut sambil menghentikan langkah kakinya.


“Ya ampun, kamu dah besar sih, Sayang.” Arini mencium dengan gemas bocah laki-laki tampan dengan rambut yang berwarna hitam legam.


“Atu becal?,” tanya anak kecil itu sambil memiringkan sedikit kepalanya.


“Iya, kamu kok tambah gendut sih,” giliran Arfan mencium keponakan laki-lakinya yang baru berusia 3 tahun.


“Atu ndak ndut … hiks … hiks … atu anteng”


Suara anak kecil yang menangis dengan kencang berhasil membuat ruang tamu yang sebelumnya sepi menjadi ramai karena orang tua anak itu datang.


“Kebiasaan deh godain anak kakak terus, bikin sendiri sana,” perintah Kak Ratih yang langsung mengambil alih sang putra dalam gendongannya, “Cup cup cup, anak Mimi ganteng. Om jahat ya.” Kak Ratih mengusap pipi putranya yang tembem karena menangis.


“Kamu tuh ya,” sahut Hans, suami Kak Ratih.


“Alhamdulillah sehat, kalian kok jahat banget sih sama Kakak. Kalian ga undang Kakak”


“Kak Ratih kan di luar negeri, kebetulan pas acara disana badai salju. Gapapa, Kak”


Arini memeluk dengan erat kakak perempuan suaminya, yang sudah dianggap kakaknya sendiri.


“Iya juga ya. Oh ya, selamat menempuh kehidupan pernikahan yang dulunya kalian bersahabat, Arin, Dek.” Kak Ratih membalas pelukan adik iparnya.


“Dek? Aku? Kak, kan aku udah nikah. Ganti dong panggilannya,” ujar Arfan dengan nada suaranya yang manja.


“Tidak akan pernah. Bagi Kakak, kamu tetap adek yang paling kakak sayang. Sini peluk”


Arfan langsung memeluk kakak perempuannya. Setidaknya saat ini, kakaknya masih belum tahu tentang pernikahan keduanya. “Semoga, kakak tetap sayang aku,” ucapnya dalam hati.


“Yuk ke taman belakang, kita lagi bikin sate.” Hans mengajak mereka ke taman belakang sambil menggendong putranya, James.


Mereka semua menuju taman belakang. Disana, Papa Anggara dan Mama Rina sedang duduk santai di kursi sambil melihat cahaya senja, matahari terbenam.


“Assalamualaikum, Pa, Ma”


Arini menyalami ayah dan ibu mertuanya bergantian.


“Waalaikumsalam”

__ADS_1


“Pa, Ma”


“Tuman, ga salam dulu,” sahut Mama Rina saat mengulurkan tangan kanannya kepada putranya.


“Kan udah tadi”


“Kapan?”


“Barusan Arini yang salam kan?”


Cubitan maut di lengan kekar Arfan berhasil membuatnya meringis kesakitan, “Aw, sakit. Doyan banget sih nyiksa anak”


“Lebih parah kamu,” ujar Papa Anggra.


“Maksud Papa apa?”


“Kamu lupa atau pura lupa-lupa hah?”


Arfan mulai memahami maksud papanya. Ternyata, kedua orang tuanya masih belum menerima pernikahan keduanya.


“Ada apa, Pa?,” tanya Kak Ratih saat melihat wajah sang ayah yang terlihat memendam kemarahan kepada adiknya.


“Tanya aja sendiri sama adikmu itu”


Papa Anggra langsung bangun dari posisi duduknya dan berjalan menuju pemanggangan daging.


“Ma?” Kak Ratih mendesak mamanya untuk menjawab pertanyaan yang tidak dijawab oleh papanya.


Suasana menjadi hening. Hanya celotehan James yang membuat semua orang tersenyum geli.


“Pi, atu au tu,” tunjuk James pada daging sapi yang masih berwarna merah dan terlihat segar.


“Dimasak dulu ya dagingnya”


Tanpa Arini sadari, perempuan itu mengelus perutnya yang datar. “Cara bicara James seperti Jef ya, Mas?” tanyanya pada laki-laki yang duduk tepat di sampingnya.


“Iya”


“Mas?”


“Hem?”


“Ka-kamu ben-bentar … la-lagi ... pu-punya a-anak kan?”


Pertanyaan Arini itu berhasil membuat semua orang di sana menatap dia dan Arfan, bergantian.


🌼🌼🌼


Jangan bosan menunggu up novel ini ya ...



...

__ADS_1



...


__ADS_2