Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Makan Malam Minggu


__ADS_3

Arini mengendarai kendaraannya dengan pelan. Tanpa sengaja, matanya menatap kotak hadiah dari Sonya. Dia menepikan mobil di dekat sebuah taman.


“Aku tidak yakin jika hadiah ini akan berkesan untukku”


Perlahan dia membuka kado itu dan mengambil sebuah pulpen. “Hm, pen nya biasa aja sih. Nama ku juga ga ada. Oh ya tombol ini”


Wanita itu menekan sebuah tombol kecil dan mulai terdengar suara yang sangat ia kenal.


“Sampai kapan lo menyembunyikan ini semua, huh?”


“Entah”


“Cepat atau lambat, Arin pasti tahu. Saran gue, mending lo jujur daripada dia tahu dari orang lain”


“Gue takut”


“Huh?”


“Gue ga mau dia pergi, tapi hati gue ga cinta sama dia. Dia … just sahabat gue. Hanya itu”


Jantung Arini berdetak dengan kencang saat mendengar secara langsung pengakuan suaminya.


“Lo egois, Ar. Lo ga cinta, tapi lo ga mau Arin pergi dan mencari kebahagiaan nya sendiri”


“Huft, gue bakal jujur satu hal sama lo. Hm, adik kecil gue mau bangun pas gue sama Arin aja. Yah, gue tau Sonya istri gue juga. Tapi, Sonya ga bisa buat adik kecil gue bangun, Bro”


“Anj*ng, tega lo. Terus, lo cuma jadiin Arin pemuas nafsu lo gitu. Gue yakin, Arin tahu ini. Sahabat sekaligus istri lo bakal pergi jauh”


“Tuh kan lo …”


Arini tidak bisa mendengar pembicaraan Arfan dan Jacob. “Kenapa … hiks … hiks ... kamu tega sama aku, Mas”


Ring ring ring


Nama Arfan terlihat di layar handphonenya. Arini tidak peduli, dia langsung mengendarai mobilnya dengan hatinya yang kacau. Dia terus menginjak gas mobilnya. Kemana mobilnya membawanya pergi, Arini tetap memegang kemudi setir mobilnya tanpa melihat berada dimana dia sekarang.


Tanpa Arini sadari, ada sebuah mobil hitam yang selalu mengikutinya sejak dia keluar dari apartemen. “Akhirnya kita bertemu lagi, Arin” Senyuman kecil terlihat di wajah pengendara mobil itu.


Hampir dua jam perjalanan, pepohonan dan jalan yang sedikit gelap berhasil membuat Arini menginjak rem mobil dengan cepat dan membuat mobil berhenti mendadak. Kepala gadis itu membentur kemudi setir dengan cukup keras. Dia pingsan dengan bekas air mata di wajahnya yang cantik.


Brak brak brak


Suara di luar mobil, tidak membuat Arini membuka kedua matanya.


“ARIN … ARIN … BANGUN”

__ADS_1


***


Sedangkan di sebuah restoran mewah, Arfan masih menunggu dengan tenang di sebuah kursi yang sudah istri pertamanya pesan. Tadi, dia sudah menghubungi Arini tapi tidak diangkat. Untung saja Arini mengirimkan pesan kepadanya singkat jika Arini masih di jalan menuju ke tempat itu.


“Maaf lama ya, Sayang”


Suara perempuan yang ia kenal siapa pemiliknya, Arfan melihat Sonya sudah duduk di sampingnya.


“Mana Arini?”


“Eh, Madu belum datang? Hm, padahal Madu sudah berangkat lho sejak … satu jam yang lalu” Ujar Sonya setelah melihat jam mewah di pergelangan tangannya.


“Huh?”


Arfan terkejut dan panik dalam waktu dan kepada orang yang sama.


“Ada apa, Sayang?”


“Bukannya kalian berangkat bareng?” Tanya Arfan sambil berusaha menghubungi istri pertamanya.


“Oh itu, aku ga mau berangkat bareng. Jadi ya, Madu berangkat duluan karena aku belu siap-siap”


Sonya menatap kesal suaminya yang tidak peduli dengan penjelasannya.


Arfan tidak menghiraukan ucapan perempuan di sampingnya. Dia masih berusaha menelpon dan mengirim pesan kepada Arini. Entah kenapa, dia merasa sangat takut.


“SAYANG” Teriak Sonya saat melihat suaminya pergi dan meninggalkannya dia sendiri.


“Sial. Pelayan, pesan makanan”


Sonya memesan makanan dan minuman, karena di lapar. “Anak Mama makan aja ya, Sayang. Jangan pedulikan Papa kamu itu”


Tanpa terasa, setetes air mata Sonya jatuh dari kedua matanya yang cantik. “Ma-mama akan selalu sayang sama kamu, Nak” Dengan gerakan pelan, wanita itu mengelus pelan perutnya yang mulai terlihat buncit. Dia tetap menikmati makan malam meski dengan suasana hatinya yang kacau. Entah apa yang telah wanita itu sembunyikan.


“Selamat malam, Nona” Vano berdiri tepat di depan istri kedua bosnya. Dia heran, kenapa dia mendapat tugas di malam minggu untuk menemani wanita hamil muda di restoran mewah.


“Kamu? Ngapain kamu ke sini? Kemana suamiku?” Tanya Sonya saat melihat sekretaris suaminya yang sudah duduk di depannya.


“Saya mendapat tugas untuk menemani Nona makan malam”


“A-apa?”


Sonya berusaha menelpon suaminya, tapi hanya operator yang menjawabnya.


“Pelayan” Panggil Vano

__ADS_1


Vano menyebutkan makanan dan minuman untuk porsi dua orang.


“Aku udah makan”


“Bukan buat Nona, tapi kekasih saya”


“Oh”


“Mama, mereka mirip ya” Ujar seorang anak laki-laki yang melihat ke arah Vano dan Sonya.


“Maafkan putra saya. Ayo, Sayang. Mari”


Ibu dan anak itu pergi meninggalkan Sonya dan laki-laki di depannya dengan tatapan bingung.


“Emangnya kita mirip ya?” Tanya Vano sambil melihat ke handphone miliknya.


“Ak …”


Belum selesai Sonya menjawab, Vano berlari menuju pintu restoran.


“Duduk di sini ya” Ucap Vano dengan gerakan tangannya kepada seorang wanita cantik yang mengenakan gamis dan jilbab dengan warna sama.


Nada tersenyum manis ke arah laki-laki yang belum lama telah dia terima ungkapan cintanya.


“Aku udah pesan makanan dan minumnya yang sama dengan ku”


Sonya menatap aneh sepasang kekasih di depannya.


“Siapa?” Tanya Sonya sambil terus melihat ke arah perempuan di samping Vano.


“Kekasih hati saya, dan insyallah kekasih halal saya. Amin” Jawab Vano dengan senyuman manis kepada Nada.


Dengan malu-malu, Nada ingin bersalaman dengan Sonya. Sayangnya, wanita hamil muda itu tidak menjawab salam dari Nada.


“Nona” Tatapan tajam Vano berhasil membuat Sonya mengulurkan tangan kanannya. Dia bingung, kenapa dirinya bisa begitu mudah mematuhi sekretaris suaminya ini.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2