
### Bab sebelumnya ...
Terlihat Chika sudah sibuk dengan menulis pesanan pelanggan, Arini tertawa. "Pak? Kamu dipanggil Pak? Ya ampun, cieee dah tua"
"Arin diem deh." Steve kesal dan masih malu.
"Oke oke. Oh ya, kamu suka ya sama Chika?"
Tidak ada jawaban.
"Kalo kamu serius, temui langsung orang tuanya. Tapi, Chika tidak seperti kamu atau aku. Apa kamu masih mau perjuangin dia?"
"Maksud kamu,?" tanya Steve.
"Huft, kamu pasti tahu."
Setelah Steve berpikir, dia tahu maksud dari temannya ini.
"Cinta tidak memandang kepada siapa penerima maupun pengirim hati. Iya kan?"
Arini langsung berhenti tersenyum.
"Kenapa muka kamu jadi masam gitu,?" tanya Steve.
"Gapapa kok"
"Beneran?"
"Iya"
Steve melihat jam mahal di pergelangan tangannya. "Aku harus balik"
"Oke, hati-hati di jalan ya"
"Aku bungkus aja deh kuenya," Steve langsung menuju ke kasir dengan sebuah piring kecil ditangannya.
Namun, Arini masih tetap tidak berpindah posisi. Dia masih duduk di tempat yang sama dan melihat ke arah jendela. Di luar sudah mulai gelap. "Gelap ... seperti hatiku. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan kamu, Mas," lirihnya dengan air matanya yang mulai berjatuhan.
*_____*
Arini masuk ke dalam apartemen yang gelap. "Kenapa semuanya gelap sih, hatiku, dan ... sekarang ... apartemen ini. Huft," gerutu Arini saat menghidupkan lampu untuk ruang tamu.
Perempuan itu langsung duduk dan memejamkan matanya. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh sesuatu yang dia rasa bukan sofa. "A-apa ini?," tangan Arini meraba sesuatu yang ia pegang dengan kedua matanya yang masih tertutup.
Tiba-tiba, tangannya di pegang dengan cukup kuat. "Awww," Arini terkejut dan langsung membuka matanya. "Mas?"
"Tangan kamu kok nakal sih, hem?," tanya Arfan yang menatap dengan intens istrinya.
Saat dia melihat di meja, ada sebuah buket bunga tulip yang indah. "Bunga dari siapa?," wajah laki-laki itu menjadi sedikit kesal.
"Bunga? Kan dari kamu," jawab Arini dengan raut wajahnya yang lebih kesal.
"Dari aku? Kapan? Dalam rangka apa?,"
"Lho kok? Aku kira dari kamu, Mas"
Arfan menghembuskan dengan kasar nafasnya. "Kamu tahu sendiri, aku ga bisa romantis kayak gitu,"
__ADS_1
"kecuali sama Sonya," sambung Arini dengan suaranya yang pelan, namun masih bisa didengar suaminya,
"Kamu bilang apa barusan?," tanyanya sambil mendekatkan diri kepada sang istri.
"Ga ada, udah ah aku mandi dulu,"
Arini langsung berdiri dari posisi duduknya dan pergi begitu saja ke kamar nya di lantai 2, dan tidak lupa buket bunga juga dibawanya.
"Ngapain dibawa bunganya?,"
Tidak ada jawaban. Seketika itu juga, ruangan menjadi sepi. Arfan memang pulang lebih awal, sebab dia merasa tidak enak badan. Jadi, dia langsung istirahat sebentar di sofa dan tidak menghidupkan lampu.
***
Di kamar, Arini bingung siapa pengirim bunga ini. Entah kenapa dia merasa hal buruk karena si bunga. Perasaan nya sekarang, seperti saat dia bertemu dengan Sonya tadi siang.
Ting
Suara pesan di handphone Arini.
📩📩📩
+62859089xxxx
ternyata kamu suka ya sama bunga tulip, seperti dulu
bunga cantik untuk sahabatku
📩📩📩
Arini bingung, siapa gerangan pengirim pesan tersebut. Dan, bunga tulip?. "Apa bunga tulip ini yang dia maksud?," tanyanya sambil melihat bunga itu di atas ranjang. "bunga cantik untuk sahabatku?," dia mengucapkan lagi kalimat di akhir pesan dari pengirim tidak dikenal.
"Mas? Bunga ini beneran bukan kamu yang ngirim?"
"Hmmm"
"Maaaasss?"
"Apaan sih?." Arfan memicingkan matanya dan melihat ke arah istri pertamanya sambil membalikkan tubuhnya menjadi terlentang.
"Bunga ini buk ..."
Arfan menghentikan ucapan wanita di depannya. "Iya, bukan aku. Ouh, aku tahu sekarang. Jangan-jangan laki-laki itu yang kirim bunganya ke kamu? Iya? Hah, aku sampek lupa sama keberadaan laki-laki itu," gerutu Arfan sambil berusaha melepas jas hitam dan kemeja bewarna putih.
"Laki-laki? siapa?"
"Coba kamu pikir sendiri aja, siapa laki-laki yang belum kamu kenalkan padaku"
Setelah bagian atas tubuhnya telanjang, Arfan langsung menarik selimut tebal. "Wohhh, dingin banget sih hari ini"
"Siapa ya? Apa jangan-jangan, Steve?," tanya Arini dalam hatinya.
Arini melihat ke arah ranjang. Ada gulungan selimut yang besar. "Mas Arfan tidur? Jam segini?"
Wanita itu melihat suaminya yang terlelap. "Oke 1 jam saja kamu tidur, Mas. Ntar lagi maghrib eh malah tidur."
"Huft, kamu capek banget ya, Mas. Bagaimana bisa aku melepas mu, Mas. Benar apa yang Steve bilang tadi. Cinta tidak dapat kita tebak siapa penerima dan pengirim hatinya. Tapi, kenapa kamu ga jujur sama aku, Mas"
__ADS_1
Sambil membuka jilbab, Arini melihat sekilas ke arah ranjang. "Kamu harus jujur sama aku, Mas. Nanti"
***
Adzan maghrib berkumandang. Arini segera membangunkan suaminya yang masih nyaman dengan mimpinya.
"Mas, bangun. Dah adzan maghrib," Arini menepuk pelan lengan suaminya. "Ya Allah, kok panas. Mas? Kamu demam ya," wanita itu segera mengambil kompres di dapur.
"Dah maghrib ya?," tanya Arfan dengan matanya yang mulai terbuka.
"Iya, aku kompres dulu ya, terus wudhu dan sholat. Walaupun sakit, harus tetap sholat lima waktu"
Arfan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia menikmati dingin dan hangat di kepalanya.
Setelah melaksanakan ibadah sholat maghrib berjamaah, Arfan kembali membaringkan tubuhnya. "Arin? Matiin dong AC nya, dingin"
"Iya, Mas"
Arini duduk di sisi ranjang yang kosong. "Aku buat bubur dulu ya, Mas?"
Di dapur, Arini memasak bubur dan membuat teh madu hangat.
***
Makan sudah, minum obat juga sudah. Arfan selalu mengeluh kedinginan. "Arin? Dingin"
"Aku udah matiin AC nya, Mas"
"Pengen peluk kamu"
Arini terkejut. "Pe-peluk?"
"Sini," tanpa menunggu persetujuan sang istri, Arfan langsung menarik pergelangan tangan Arini. "Hangat"
Arini sedikit kaku karena pelukan yang cukup erat. Dia tidak terbiasa dengan pelukan dari suaminya. "Arin, maafin aku," ujar Arfan dengan suara yang sangat pelan.
Wanita itu mendongakkan kepalanya dan menatap dengan dalam wajah suaminya. "Mas? Aku ingin sekali mengikhlaskan kamu untuk hidup berdua saja dengan Sonya, wanita yang kamu cintai. Ta-tapi, hati aku ga mau, Mas. Aku ga mau pergi jauh dari kamu. Bertahun-tahun, aku selalu ada di samping mu, begitupun kamu. Kecuali, ketika malam itu. Mungkin, hanya satu rahasia itu yang tidak pernah kamu tahu."
Arini membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya yang telanjang.
❤️❤️❤️ Macan
Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️
Dukung aku :]
Follow, Like dan comment ya ....
Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.
Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA
Nah, teman-teman bisa baca novel ku yang lain BERBAGI CINTA : MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA
Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian ya Like comment dan klik Favorit ❤️❤️❤️
__ADS_1
############################################