Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Sembunyi Sementara


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


“Hmmm … kalau begitu Arfan pulang dulu, Bunda. Ta-takut Arin bingung cari Arfan”


“Seharusnya kamu istirahat jangan kemana-mana dulu”


“Hehehe, iya Bunda. Ta-tadi, memang ada urusan mendadak”


Aku langsung mengambil tangan kanan Bunda dan Ayah, menciumnya bergantian.


“Ayah harap kamu tidak mengecewakan putri Ayah lagi,” ucapan Ayah membuat aku berdiri kaku di depannya.


Aku masih diam.


“Jawab,” desak Ayah yang berhasil menyadarkan ku.


“Ayah,” usapan lembut Bunda di lengan Ayah membuat tatapan matanya yang tadi tajam, perlahan kembali normal.


“In-insya Allah”


Entah berapa kali aku gugup berbicara.


“Arfan pamit dulu. Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


POV ARFAN END


*_____*


Setelah keluar dari kawasan perumahan di mana keluarga Arfan dan Arini tinggal, laki-laki itu berhenti dipinggir jalan. Dia membenturkan kepalanya di kemudi.


“Kamu di mana, Arin?”


Hampir 30 menit laki-laki itu masih dalam posisi yang sama. Dia ingin memaki dirinya sendiri, tapi jika harus melakukannya, mungkin akan butuh waktu yang lama.


Ring ring ring


Suara berarti ada panggilan masuk di handphone, membuatnya menyudahi kegiatannya yakni melamun.


“Halo”


“Assalamualaikum dulu, Kak”


“Oh iya, Mam. Waalaikumsalam”


“Sehat? Tadi subuh Arin sms Mama, kamu demam”

__ADS_1


Ternyata Arin juga memberitahu kepada Mama Andin.


“Alhamdulillah. Sehat, Ma. Mama sehat? Papa?”


“Sehat semua kok. Oh ya, besok keluarga kakakmu pulang ke rumah, kamu mampir ya ajak Arin.”


“Iya, Ma”.” Berarti Arin juga ga pulang ke rumah Mama,” pikirnya.


“Kamu di mana sekarang?,”


“Oh … ehm … itu … di kamar, Ma. Tidur-tiduran aja, habis makan bubur sama minum obat”


“Syukurlah, untung saja kamu dah nikah sama Arin ya. Dulu, pas kamu sakit, orang pertama yang khawatir, siapa lagi kalau bukan Arin. Menantu Mama itu sangat perhatian sama kamu saat kalian masih bersahabat, apalagi sekarang kalian menikah. Hmmm, tambah plus-plus ya”


Arfan terkejut, jadi istrinya sudah menaruh perasaan lebih kepadanya sejak mereka bersahabat.


“Beneran, Ma?”


“Iya. Eh, udah dulu ya. Mama dipanggil Papa. Salam buat Arin. Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam, Ma. Salam juga buat Papa.”


Panggilan berakhir. Arfan masih tidak menyangka, jika Arin menyukainya atau mencintainya sejak dulu.


“Huft, pantas pernikahan kedua ku membuatnya sakit hati. Aku pikir semua akan baik-baik saja kalau Arin tidak mencintaiku.”


“Halo, Ar?”


Arfan langsung melihat siapa yang meneleponnya, tadi dia langsung mengangkat panggilan itu.


“Apa?”


“Aku pengen mangga muda, kamu belikan ya”


“Hah?”


“Bayi kita lagi pengen makan rujak, Sayang”


“Huft, oke aku belikan”


“Makasih, Sayang. Dah”


Tanpa menunggu lagi, dia mencari mangga muda untuk anaknya, mungkin. Dia masih belum menemukan bukti apapun perihal malam itu, malam saat dirinya melakukan zina dengan Sonya. “Aku akan cari lagi Arin nanti setelah dari apartemen Sonya”


***


Lain di tempat. Arin duduk di sofa dengan secangkir teh hangat yang dibuat ibunya Nada. Ya, Arin memutuskan pergi ke rumah Nada. Karena dia tahu, suaminya tidak akan menemukannya di tempat itu.

__ADS_1


POV ARINI


Hatiku sedikit lega karena aku berhasil mengutarakan semua isi hatiku kepada Arfan. Entah, laki-laki itu tahu atau tidak, bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Semoga dia tidak menyadarinya, karena aku akan merasa canggung saat dia ada di hadapanku.


“Diminum dulu, Nak,” ucapan Ibunya Nada, Asih.


“Terima kasih, Bu. Maaf saya merepotkan” jawabku sambil sedikit minum teh hangat itu.


“Ya Allah, tidak apa-apa, Nak Arin,” senyuman yang lembut Ibu Asih, mengingatkanku tentang Bunda. Huft, entah apa yang harus aku katakan pada Ayah dan Bunda tentang rumah tanggaku. Sudah cukup bagi ku karena telah menyakiti hati mereka perihal pernikahan kedua suamiku, tanpa izin dariku. Dan sekarang, aku pergi dari rumah yang aku tempat selama aku menikah dengan Mas Arfan.


Aku tahu, aku salah karena pergi dari rumah tanpa izin dari suami. Tapi, sungguh hatiku sudah cukup sabar untuk mencoba berkata baik-baik saja dalam pernikahanku. Bayi? Aku ingat hal itu lagi sekarang. Untung saja Bu Asih langsung pergi ke dapur, jadi aku tidak perlu malu untuk menangis. Kurang lebih 6 bulan lagi, Mas Arfan akan memiliki seorang anak, dan itu bukan dari rahimku. Sonya, nama wanita yang dulunya adalah kekasih Mas Arfan, dan sekarang sebagai istrinya sekaligus maduku. Ya Allah, entah berapa banyak jumlah kesabaran yang masih aku miliki. Semoga, Engkau selalu memberikan hamba kekuatan dan kemudahan untuk tetap menjalankan pernikahan ini. Yah, aku harap kata ‘cerai’ tidak akan pernah ada. Amin.


“Nak Arin mau ke cafe?,” tanya Bu Asih yang sibuk menggoreng berbagai camilan gorengan di dapur.


“Hmmm, masih belum tahu, Bu”


“Ya udah, kamu di sini saja gapapa. Sebentar lagi, Ibu mau ke warung buat antar gorengan ya. Hmmm, mungkin jam 10 nanti Ibu udah pulang”


“Iya, Bu. Terima kasih ya, Bu”


Dengan tulus aku mengucapkan terima kasih kepada Ibu Asih. Nada sudah berangkat ke cafe sejak jam 6 pagi tadi.


“Sama-sama”


***


Sekitar jam 12 siang, aku memutuskan untuk pulang ke apartemen. Aku tidak ingin menambah dosa karena keluar rumah tanpa izin suami. Walaupun aku sangat tidak ingin kembali ke sana.


Klik


Pintu apartemen sudah berhasil aku buka. Sepi. Satu kata itu pas untuk menggambarkan keadaan di dalam apartemen ini. Apakah Mas Arfan istirahat di kamar atau pergi ke kantor? Aku tidak peduli. Sebaiknya, aku ke kamar, mandi dan ke cafe. Sepertinya, hanya itu satu-satunya tempat yang bisa membuatku lebih semangat.


POV ARINI END


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA


__ADS_1


__ADS_2