Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Rindu


__ADS_3

"Sama-sama, Kang"


"Jadi, kamu bilang terimakasih karena apa?" Tanya Rafa setelah dia mempersilahkan Chika untuk duduk bersamanya dengan Arini. Chika duduk di sebelah bosnya.


“Terima kasih karena kamu ngizinin aku dan anak aku tinggal di sini” Ujar Arini sambil mengelus pelan perut buncitnya.


“Sama-sama, Arin. Aku senang bisa membantumu, dan aku bersyukur karena kamu mau memaafkan kesalahanku … dulu”


“Jadi, Kang Rafa dan Mbak Arini teman lama ya?” Tanya Chika dalam hati sambil terus memperhatikan perbincangan dua orang di hadapannya.


“Allah bisa memaafkan umatnya, kenapa aku tidak bisa?”


Arini tersenyum. Selama dirinya tinggal di pondok pesantren, dia bisa lebih memperdalam ilmu agama dan berusaha menjadi ibu dan … istri yang baik. “Aku kangen kamu, Mas” Lirihnya sambil mengusap pipinya yang tanpa dia sadari telah basah karena ulah air matanya sendiri.


“Mbak Arin? Baik-baik saja?” Chika memberikan kertas tisu setelah melihat Arini menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Arin?”


Rafa sedih melihat teman baiknya menangis seperti itu. Dia tentu tahu alasan Arini terus meneteskan air matanya sejak dia menginjakkan kaki pertama kali di pesantren. Oleh karena itu, dia meminta bantuan temannya untuk mengawasi dan memberikan informasi tentang suami Arini.


“Hiks … Aku … kangen … hiks”


Akhirnya Rafa dan Chika membiarkan Arini menangis. Mereka tidak bisa memahami bagaimana perasaannya saat dirinya sedang hamil dan jauh dari suaminya, terlebih hubungan Arini dan Arfan tidak baik-baik saja.


“Minum dulu, Mbak”


Chika membantu Arini minum setelah wanita yang sedang hamil tua itu mulai berhenti menangis.


“Terimakasih, Chika”


Rafa masih diam karena dia sedang mempersiapkan mentalnya untuk menyampaikan kabar yang mungkin bisa membuat Arini tersakiti. Tapi, dia tetap harus mengatakannya.


“Raf? Kenapa diam saja?”


Tidak ada jawaban.


“RAFA”


“Kang Rafa”

__ADS_1


Arini dan Chika kompak memanggil Rafa bersamaan.


“Ya Allah, terkejut aku” Rafa tersadar dari lamunannya dan mengelus pelan dadanya. “Kalian ngapain sih teriak-teriak begitu” Protes Rafa.


“Makanya jangan melamum dah mau maghrib lho, ntar jin masuk, aku yang disalahin sama Yusuf”


“Oh, tadi … aku melamun?”


Dua perempuan itu mengangguk kepalanya bersama.


“Huft, aku ada kabar untukmu”


“Siapa?” Tanya Arini.


“Buat kamu dong, aku mah ga ada urusan sama Chika buat kasih kabar, iya kan Chika?”


“Hehehe, iya, Kang”


“Kabar apa, Raf?”


Entah kenapa, perasaan Arini mendadak gelisah.


“Ta-tanya apa?”


“Tapi kamu harus janji dulu sama aku”


“Janji?”


“Iya”


“Oke, aku harus janji apa?”


“Huft, apapun yang aku katakan, kamu harus jujur sama aku dan tetap kuat, oke?”


Entah berapa kali Rafa menghela nafasnya. Sungguh, dia takut untuk mengatakannya. Tapi, dia harus.


“Oke”


“Kamu … masih cinta kan sama … Ar-arfan?” Tanya Rafa sambil menatap dengan dalam kedua mata Arini. Terlihat ada kesedihan, dan kerinduan di mata Arini.

__ADS_1


“A-aku …”


“ABI”


Belum selesai Arini menjawab, seorang bocah laki-laki yang masih berumur sekitar satu tahun lebih memanggil Rafa. Anak itu bergandengan tangan dengan wanita cantik yang mengenakan gamis bewarna putih.


“YUSUF, anak Abi” Rafa langsung mengambil alih sang putra dalam gendongannya.


“Udah selesai pengajiannya?” Rafa mencium singkat kening istrinya, Sabrina.


“Baru selesai, Abi. Putra tampan kamu ini, merengek terus untuk bertemu dengan Abinya” Sabrina mencubit pelan pipi gembul anaknya yang masih bisa berbicara dengan jelas satu kata saja, yakni abi. Sabrina cemburu karena Yusuf belum bisa memanggilnya dengan benar, hanya mengucapkan huruf di akhirnya saja, menjadi Mi saja bukan Umi. Apa susahnya jika harus menambahkan huruf U sebelum Mi, tapi dia bersyukur putranya lahir dengan selamat dan tubuh sehat. Sebab, dia pernah jatuh dengan posisi duduk. Sehingga dia harus melakukan operasi untuk melahirkan putranya meski belum waktunya.


“Ya ampun, Yusuf kangen ya sama Abi, hm?” Rafa mencium kedua pipi bulat dan chubby milih putranya.


“Ngen, Abi”


“Abi juga kangen sama Yusuf dan … Umi” Kedipan mata Rafa mengarah ke ibu dari putranya yang telah berjuang melahirkan Yusuf.


Tanpa keluarga kecil itu sadari, Arini meneteskan air matanya lagi. Dia sangat ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga bersama anaknya dan … suaminya.


“Hiks hiks hiks”


“Mbak?” Chika memeluk pelan tubuh teman sekaligus sahabatnya.


Suara tangis Arini terdengar dengan jelas oleh Rafa dan Sabrina.


“Arin” Panggil Sabrina sambil ikut memeluk Arini. Dia mengelus pelan punggung Arini.


“A-aku tidak apa-apa. Rafa, apa yang ingin kamu katakan kepadaku? Hiks … hiks” Meski air matanya masih keluar, dia tetap berusaha tenang dan tersenyum manis ke semua orang yang berada disampingnya.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2