Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Nasihat dari Sahabat


__ADS_3

Arfan menutup pintu apartemennya. Dia melepas paksa dasi yang terikat di lehernya sejak pagi. Selama hampir satu bulan lamanya, Arfan menemui suasana tempat tinggalnya yang sama, sepi dan sunyi. Andaikan keadaan tidak berubah sejak Arini masih dinyatakan hilang, dia sangat merindukan Arini yang selalu menyambut kedatangannya dan hal-hal manis yang istri pertama lakukan kepadanya. Hingga saat ini, laki-laki itu masih berusaha mencari keberadaan istri pertamanya, Arini. Walaupun, tidak ada satupun keluarganya yang mendukung atau membantunya dalam mencari sahabat sekaligus istri. Meski begitu, dia yakin Papa dan Ayahnya juga mencari keberadaan Arini, tanpa memberitahukan kepadanya.


“Disini sepi tanpa kehadiranmu, Arin”


Sebuah sofa besar di depan televisi, Arfan menjatuhkan tubuhnya. Dia tidak pernah tidur di ranjang, entah di kamarnya atau kamar tamu. Ada rasa sakit di hatinya setiap dia berada di ruangan itu. Dia selalu merasa Arini masih ada di apartemen ini, namun semuanya hanya angan-angan Arfan saja.


Ting ting ting


Suara bel pintu apartemen berbunyi. Dengan langkah malas, Arfan membuka pintu.


“Jac”


Setelah mengambil pesanan makanan melalui sahabatnya sendiri. Sebenarnya, makanan itu adalah masakan Farah.


“Kebiasaan banget sih minta dan antar makanan dari rumah gue” Gerutu Jacob sambil duduk tanpa dipersilahkan oleh si tuan rumah.


“Makasih”


“Wah, gue takjub banget denger lo bilang makasih gitu, hahahah”


Walaupun Jacob tertawa, tidak dengan Arfan. Laki-laki itu hanya menikmati makanan dalam diam.


“Bagaimana keadaan Ayah?” Tanya Arfan.


Sejak Arini pergi, dirinya tidak diperbolehkan menginjakkan kakinya di rumah mertuanya bahkan bertemu dengan mereka, begitupun di rumahnya sendiri. Papa Anggara dan Mama Andin tidak pernah mau bertemu dengannya, walaupun dia datang ke rumah utama. Kedua orang tuanya tidak keluar dari kamar hingga Arfan memutuskan untuk tidak kesana lagi, hingga dia berhasil menemukan keberadaan istri pertamanya.


“Ayahnya … Arini?”


“Hm”


“Baik”

__ADS_1


Mereka berdua hanya diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jacob sedang asyik mengirim pesan dengan sang istri dan Arfan hanya fokus dengan kegiatan makan malam di sore hari.


“Unyu banget sih anak gue. Coba lihat, Ar!” Jacob menunjukkan layar handphonenya. Terlihat putranya asyik berenang di kolam renang rumahnya.


“Iya”


“Huft, lo udah dapat informasi terbaru?” Tanya Jacob sambil memandang kesal sahabatnya. Sebenarnya, dia muak melihat penampilan Arfan yang sangat jauh dari kata baik. Kantung hitam di bawah matanya, rambut yang berminyak dan wajahnya yang tidak terawat.


“Lo itu mandi berapa kali dalam sehari sih?”


“Satu”


“What? Jangan bilang lo cuma mandi di pagi hari doang?”


“Ya”


“Pantes asem banget” Jacob menggeser posisi duduknya, menjauh dari Arfan.


“Ja-jadi lo ga pernah sholat, huh?”


Arfan hanya diam sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap langit-langit apartemennya.


“Wah, gimana Arin bisa ketemu, lo aja jauh dari Tuhan yang pasti tahu keberadaan istri lo, Bro”


Ucapan Jacob untuk kesekian kalinya hanya angin saja yang lewat. Dia tidak pernah menerapkan semua nasihat yang diucapkan sahabatnya itu.


“Sonya, gimana keadaanya?”


“Ga tau, gue udah bilang sama dia. Setelah bayi itu lahir, gue bakal cerai sama dia”


“Lo dah yakin bayi itu bukan anak lo?”

__ADS_1


“Hm, gue yakin. Yah, meski gue belum berhasil mendapatkan buktinya. Tapi, gue yakin”


“Yah, terserah lo aja. Saran gue, lo harus perbaiki hidup lo mulai sekarang. Lo harus bisa lebih semangat lagi buat cari Arin dan buktikan sama Arin kalo lo cinta sama dia”


“Cinta?”


“Iya, lo aja ga sadar, Bro. Selama ini, lo itu cinta sama Arin. Tapi, yah mungkin hati lo belum kebuka aja. Dan Sonya orang asing menurut lo, jadi mungkin lo merasa ada sesuatu berbeda di diri lo jadi itu lo anggap lo suka cewek hamil itu”


“Mungkin”


“Lo harus bangkit, Ar. Lo harus lebih semangat. Dan lo harus lebih gencar buat minta maaf sama keluarga lo dan Arin. Gue merasa, keluarga lo tahu keberadaan Arin”


“HAH?”


Arfan terkejut mendengar ucapan sahabatnya, jika keluarganya tahu dimana istrinya berada.


“Lo serius?”


“Menurut gue aja sih. Kemarin gue ga sengaja denger Mama Risa sebut nama Arin di telepon. Entah Arin siapa. Tapi, gue yakin nama itu hanya untuk Arin, istri sekaligus sahabat lo. Sepertinya …”


Tanpa menunggu penjelasan sahabatnya, Arfan berlari menuju kamarnya di lantai dua.


“Woy, ARFAN” Teriak Jacob. Dia yakin Arfan pasti bisa berubah dan mau mendengar nasihatnya yang selalu dia katakan selama sebulan ini. “Gue yakin kalian berdua bisa bersama-sama lagi. Ya Allah berikanlah petunjuk kepada sahabat hamba, Amin”


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2