Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Babak Satu


__ADS_3

Arfan memijat kening nya sambil menyangga kepalanya dengan tangan yang lain.


“Bagaimana, Pak?”


“Oke, begini rencananya ...”


Setelah rencana untuk babak satu telah ditentukan oleh bos dan sekretaris nya, dengan langkah cepat dan gesit, Vano berlari menuju pos satpam dan melaksanakan misi pertama dalam babak satu misi penyelamatan hidup bos Arfan.


“Hah hah hah. Huft, Pak Janu?”


“Siap hadir, Pak Vano”


“Saya belum tua dan masih jomblo, Pak”


“Iklan biro jodoh ya, Mas Vano?”


“Hahahah, saya masih fokus dengan karir dulu dan menabung untuk persiapan kehidupan saya setelah menikah. Saya ada tugas khusus untuk Bapak hari ini”


“Siap laksanakan, Pak” Hormat Pak Janu seperti prajurit yang siap menjaga keamanan di perusahaan Anggara Group.


“Oke, nanti jika Bapak bertemu dengan wanita ini, segera menghubungi saya dan antar tamu ini secara istimewa alias dikawal langsung ke ruang tamu private di lantai dua” Vano menunjukkan sebuah foto yang ia ambil di media sosial.


“Baik”


“Terus, kamu jangan tinggalkan ruangan itu sebelum saya datang atau memberikan instruksi lebih lanjut, Oke?”


“Siap, Pak”


“Baik, saya masuk dulu. Awas, jangan lupa. Fokus” Vano menunjuk kedua matanya dengan dua jari kemudian mengarahkannya lagi ke arah mata Pak Janu.


Pak Janu menganggukkan berulang kali kepalanya dan segera menyampaikan tugas negara dari bos Arfan kepada anak buahnya.


***


Setelah menyelesaikan tugas pertama, Vano menuju meja resepsionis dan bertemu dua wanita cantik yang tersenyum manis, entah kepada siapa.


“Sore”


“Sore, Pak Vano. Kalian belum pulang?”


“Belum, Pak”


“Oh ya, Pak Andika di mana?” Tanya Vano.


“Sudah kami antar beliau ke ruang Direktur, Pak”


“Sip, bagus kerja kalian. Jika kalian bertemu dengan wanita ini, kalian harus mengantarkannya ke ruang tamu private di lantai dua. Oke?” Ujar Vano sambil menunjukkan foto yang sama seperti tadi kepada Pak Janu.


“Baik, Pak”


Saat Vano membalikkan badannya, dia terkejut. “Astaghfirullah”


“Mas Arfan ada?” Tanya seorang wanita cantik yang persis di foto. “Itu … fotoku, kan? Kamu salah satu penggemarku, ya?” Sonya melepas kacamatanya dan menatap Vano dengan raut wajah yang bahagia.


“Foto?”


Laki-laki tampan itu masih berusaha menyambungkan kembali jaringan otak di pikirannya karena tadi sempat terputus.


“Iya, itu fotoku” Tunjuk Sonya ke foto berukuran 4R yang dipegang Vano.


“Be-benar, a-aku peng-penggemar mu, heheheh”


“Wah, senangnya” Seperti anak kecil, Sonya bertepuk tangan dengan bahagia.


Ada lampu di atas kepala Vano. “Boleh minta tanda tangannya, Nona?”

__ADS_1


Uluran tangan kanan Vano diterima dengan baik oleh Sonya. “Dengan senang hati”


Wanita hamil muda itu saling berpegangan tangan dengan laki-laki tampan di depannya, “jantung ku kok berdebar gini sih, oh my god” Tanpa disengaja, Sonya meremas erat tangan Vano yang sedang menggenggamnya.


“Ada apa, Nona?”


“Tidak apa-apa”


“Oke”


“take a breathe, Vano. Tenangkan detak jantungmu” Ternyata Vano merasakan hal yang sama seperti wanita di belakangnya.


“Silahkan masuk” Ujar Vano setelah membuka pintu ruang tamu private.


“Terima kasih”


“Pak Bos sedang ada rapat, apa Nona menginginkan sesuatu?”


“Hm, dedek bayi pengen rujak buah dan … es sari tebu”


“Baiklah, ini remote televisinya agar Nona tidak bosan”


Vano keluar dari ruangan dan menyuruh Pak Juna untuk membelikan makanan dan minuman dari istri kedua bosnya.


“Siap laksanakan, Pak”


Setelah menutup sedikit pintu ruangan itu dan memastikan Sonya dalam keadaan baik-baik saja dan aman terkendali, dia segera menghubungi bosnya.


***


Di ruangan khusus direktur perusahaan, Arfan duduk tepat dihadapan ayah mertuanya yang sejak 10 menit setelah kedatangannya, hanya diam dan membaca koran pagi hari ini.


Ring ring ring


“Angkat saja teleponnya, Nak”


Arfan segera menjauh dan berdiri di dekat jendela besar yang menghadap jalanan kota.


“Halo?”


“Salam dulu, Pak”


“Huft, Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


“Bagaimana? Apa semuanya aman?” Sesekali Arfan melihat ke arah ayah mertuanya yang masih tetap di posisi yang sama.


“Aman terkendali, Pak. Tadi, si B ingin makan jadi pihak terkait dalam perjalanan untuk membelinya”


“Bagus”


“Bagaimana situasi di sana, Pak?”


“Huft, tidak ada pergerakan yang terlalu signifikan. Semuanya masih aman dan baik-baik saja. Ingat, tahan si B jangan sampai keluar dari ruangan itu”


“Siap, Pak”


“Oke. Salam”


“Kok pendek, Pak?”


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”

__ADS_1


“Sudah ?”


Suara yang berada tepat di belakang telinga Arfan, berhasil membuatnya terkejut. “Ya ampun, Ayah. Saya terkejut”


“Kenapa kamu terkejut seperti itu? Biasa saja. Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dari Ayah?”


“Ti-tidak, Ayah”


“Arin?”


“Hm, kami berdua baik-baik saja”


Arfan tersenyum manis di depan ayah mertuanya yang sudah duduk dengan nyaman di sofa baru.


“Syukurlah”


Hening.


“Tadi, Ayah telepon Arin. Ayah suruh dia kesini sekalian beli makan siang. Kita makan siang bersama”


“APA?” Teriak Arfan tanpa sadar dan langsung berdiri dari posisi duduknya.


“Kamu itu kenapa kok mulai tadi terkejut terus?”


“Ti-tidak apa-apa, Ayah. I-itu Arini pasti sibuk, Ayah. Jadi …”


“Arin akan datang, mungkin sekitar 10 menit atau lebih. Kita tunggu saja sambil menonton televisi, bagaimana?”


“Sa-saya ada rap …”


Ayah Andika memotong ucapan menantunya. “Tadi, Ayah sudah tanya sama sekretaris kamu. Hari ini kamu tidak ada agenda yang penting”


“Gawat, aku belum memikirkan ide untuk babak dua. Ya ampun” Gerutu Arfan dalam hatinya sambil meremas dengan kuat rambutnya.


“Ar?” Panggil Ayah Andika saat melihat rambut menantunya berantakan seperti orang baru bangun tidur saja.


“I-iya, Ayah?” Arfan mengangkat kepalanya dan menatap Ayah Andika.


“Kamu baik-baik saja, kan?”


“Iya”


“Huft, Ayah kira kamu rindu berat sama Arin sampek kamu jambak rambut mu sendiri. Tenang, sebentar lagi Arin datang. Sabar”


“Ya Allah, bukan rindu berat ini mah, takut berat. Jangan sampai, Ayah dan Arin ketemu sama Sonya. Kok bisa berbarengan gini sih” lirih Arfan dengan suaranya yang sangat kecil, mungkin semut juga tidak akan mendengarnya. Hahahaha.


Sekarang, bukan rambut tapi kain celana panjangnya yang menjadi sasaran.


Ayah Andika hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah laku menantunya itu.


Tok tok tok


“Masuk”


“Sayang”


🌼🌼🌼


Tebak, siapa yang memanggil Arfan ya?


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2