
### Bab sebelumnya …
Arini mengelap bekas air matanya di pipi cantiknya dan ingus nya yang keluar dari hidungnya. Dan Arfan tersenyum geli dengan sikap istrinya. "Jujur, aku masih ..."
Pintu kamar yang dibuka dengan kasar, menghentikan perkataan Arfan.
"Kurang ajar kamu," pukulan yang keras mengenai pipi Arfan.
"Papa," semua orang masuk ke dalam kamar Arfan. Papa Anggara memukul putranya setelah dia masuk ke dalam.
"Dasar kamu ya, tidak tahu malu"
Pukulan kedua dari Papa Anggara berhasil membuat ujung bibir Arfan mengeluarkan darah.
"Papa, tenang." Mama Andin berusaha menghentikan pukulan untuk ketiga kalinya pada putra tercintanya.
*_____*
Papa Anggara mendekatkan wajahnya ke telinga kanan putranya. “Cukup kamu, Papa dan … Arini yang tahu hal ini,”.
Suasana di dalam kamar menjadi sunyi. Kak Ratih masih melihat adiknya yang diobati oleh Arini.
“Atit,”
“Manja”
Raut wajah Arini yang terlihat sembab membuat Kak Ratih terus memikirkan apa yang terjadi. Kenapa papanya tidak memberitahukan alasan atas kemarahannya. Untung saja mamanya dapat menenangkan Papa Anggara sebelum luka di wajah atau bagian tubuh Arfan bertambah.
“Kenapa Papa bisa marah seperti itu ke kamu, Dek?,” tanya Kak Ratih setelah dirinya duduk di sebelah adiknya.
Ring ring ring
Suara nada dering handphone menghentikan gerakan bibir Arfan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak bisa membohongi kakak perempuannya, mungkin dirinya tidak akan pernah mengatakan maksud dari kata hamil yang keluar dari mulut Arini tadi kepada Mama Andin dan keluarga Arini.
“Halo”
“Ga perlu”
“Aku bilang ga ya ga”
“Iya iya, aku kesana”
Setelah Arfan meletakkan handphone nya di saku celana, dia bergegas mengganti baju.
“Mau kemana, Mas?,” tanya Arini setelah kembali dari ruang keluarga untuk meletakkan kotak obat.
Tatapan mata Arfan kepada wanita itu berbeda, Arini tahu apa itu. “Pergilah”
“Kamu mau kemana, Dek?” giliran Kak Ratih yang bertanya.
“Urusan penting, Kak”
__ADS_1
Arini meneteskan air matanya. “Dia memang lebih penting dari aku ya, Mas” ucapnya dalam hati sambil mengusap pipinya yang telah basah.
“Arin ga kamu ajak?”
“Ga perlu, Kak. Aku pergi dulu. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Sejak kepergian Arfan, Arini terus diam dan memilih duduk sendirian di taman belakang. Acara makan bersama di taman itu batal karena Papa Anggara yang tidak mau keluar dari kamarnya, begitu pula dengan Mama Andin.
“Arin? Kamu ... baik-baik saja?”
Kak Ratih duduk di samping adik iparnya setelah berhasil menidurkan putranya.
“Kak … hiks”
Entah berapa kali dalam sehari Arini menangis. “Aku ingin menyerah saja, Kak”
“Hei, ada apa?”
Tring
Notifikasi pesan masuk terlihat di layar handphone Arini yang terletak di meja bundar di depan mereka.
+6287xxxx
Jangan kaget dan cemburu Yah
[Play Voice Note]
Arini mendekatkan handphone miliknya di telinga.
Brak
Handphone itu jatuh begitu saja.
“Arin? Ada apa?”
Kak Ratih khawatir melihat adik iparnya menangis lagi sambil menutupi wajahnya.
“Hiks … hiks … hiks”
“ARIN,” teriak Kak Ratih memanggil Arini yang berlari meninggalkan dirinya sendirian setelah mengambil handphone yang tergeletak di tanah.
“Apa yang terjadi?” pikir ibu dengan satu anak itu.
***
Di ruangan dengan desain interior yang terkesan minimalis, Arini menangis sambil meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya. “Hiks … hiks … Kamu tega, Mas”
Tanpa sengaja Arini melihat sebuah buket bunga tulip di meja dekat sofa. “Buket bunga?”
__ADS_1
Akhir-akhir ini dirinya selalu menerima buket bunga yang sama seperti saat dia menerima buket itu pertama kali. Sebelumnya, dia pikir pengirimnya adalah suaminya sendiri, ternyata bukan. “Huft, siapa sih pengirimnya. Aku udah tanya Mas Arfan, Steve, Nada. Mereka semua bilang tidak”
Tok tok tok
“Masuk”
Sebuah kertas putih yang bertuliskan, Assalamualaikum. Arini tersenyum, dia tahu siapa yang berada di balik pintu ruangannya itu.
“Waalaikumsalam, Nada”
Arini ingat jika Nada tidak bisa mendengar ucapannya. Dia bersembunyi di balik pintu.
"Dor. Nada"
Teriak Arini berhasil membuat Nada tersenyum sedih karena dirinya ketahuan.
Kok tahu sih
“Karena hati aku sama kamu itu satu,” gombal Arini dengan gerakan tangannya.
Nada hanya tersenyum geli melihat teman baiknya sekaligus bos seperti itu. Dia meletakkan permen gulali di meja sofa, tepat di samping buket bunga.
“Dari siapa?”
Sama
Satu kata yang Nada tulis di buku catatannya membuat Arini memijat pelan keningnya. “Aku bingung siapa dia,” ucapan dia tidak dapat dimengerti Nada yang hanya berdiri menatap bingung.
“Oh ya,” setelah sadar dari jika dirinya hanya berdua saja dengan Nada, wanita itu menggerakkan tangannya untuk memberitahu kebingungannya.
Coba kamu ingat lagi
Nada berusaha memberikan solusi atas masalah dari sahabatnya itu.
“Aku sudah tanya sama teman-teman dekat ku, tapi mereka bilang tidak tahu”
Akhirnya, mereka berdua mengalihkan topik pembicaraan yang lain. Selain itu, Arini berusaha menghilangkan pikiran mengenai voice note dari Sonya tadi.
🌼🌼🌼
Maaf baru bisa up
Kemarin ada kendala di pekerjaan ku. Semoga aku bisa terus up cerita ini.
Like Comment Favorite novel ini.
Thank you.
L0ve Macan
🌼🌼🌼
__ADS_1