Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Terbongkar


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


"Mas?"


"Hmmm?"


Ada keraguan dalam diri Arini, buktinya dia terus memandang ke arah piring.


"Apa?"


"Mas, ga tidur ... sama ... Mbak Sonya?"


Akhirnya, pertanyaan itu berhasil dia ucapkan. Arini menggigit bibir bawahnya karena dia gugup, bagaimana jawaban yang suaminya berikan.


"Ini rumahku, jadi terserah ku mau tidur di mana"


Arfan meletakkan sendok dengan cukup keras. "Dan satu lagi, cukup panggil Sonya. Kamu adalah istri pertamaku, jadi Sonya memang harus menghormatimu."


"Istri pertama? Ya Allah, ingin rasanya aku mendengar Mas Arfan bilang kalau aku adalah istri satu-satunya, bukan istri yang diduakan." Arini berusaha tidak menangis di depan makanan, tidak baik. Itu yang selalu diajarkan Ayahnya. Kita harus selalu bersyukur, berapa dan bagaimanapun rezeki yang Allah berikan.


"Kamu bilang apa?." Arfan tidak mendengar ucapan istrinya yang sangat pelan.


"Tidak ada, Mas"


"Tidurlah"


"Iya, Mas. Hmmm, selamat tidur"


"Sel ... selamat tidur," balas Arfan yang sedikit gugup. Mungkin karena tatapan mata yang teduh milik istrinya.


Ucapan selamat malam yang sederhana itu tapi indah, menurut Arini. Dia tidak berhenti untu terus tersenyum. "Mas Arfan kok lucu gitu sih," dia tertawa geli saat melihat wajah suaminya yang gugup.


*_____*


Sinar matahari yang cerah dan hangat, membuat Arini bangun dari tidurnya.


Tin tin tin tin tin tin


Suara yang cukup keras mengganggu pendengarannya di pagi hari ini. "Suara apa itu?," tanyanya sambil segera mengenakan jilbab instan bewarna pink, kesukaannya.


"Ya Allah, ada apa?," Arini terkejut saat melihat intercom di sebelah pintu utama apartemen. Tanpa menunggu lama, dia langsung berlari ke lantai dua. Kamar suaminya, yang seharusnya kamar mereka berdua jika memang pernikahannya normal.


Brak brak brak


"Mas ... bangun ... Mas ....," Arini mengetuk pintu kamar dan memanggil suaminya.


Ceklek


"Apaan?," pintu kamar terbuka, dan Arfan keluar dengan penampilan nya yang acak-acak sebab bangun tidur, Ya ampun, tampan banget. Hahahaha.


"Tampan," tanpa sengaja Arini memuji ketampanan laki-laki yang masih berdiri di hadapannya sambil memicingkan kedua matanya.


"Hah?"


"Oh, itu ... di luar ... ada keluarga kita, Mas."


"Siapa?"


"Papa, Mama, Ayah dan Bunda."


"Pindahin barang-barang mu"

__ADS_1


Arfan langsung berlari ke lantai bawah menuju kamar yang ditempati istrinya.


"Mana koper?"


"Ini, Mas"


Mereka berdua saling bekerja sama untuk pindahan. Sayangnya bukan pindah ke rumah baru, melainkan pindah ke kamar baru. Dan yang pindah bukan dua orang, tapi satu orang saja. Sabar ya Arini. Semoga nanti bisa pindah ke rumah baru ya.


Kring kring kring


"Mas, Ayah telpon."


"Jangan angkat"


Setelah 15 menit, pindahan kilat. Arini mengambilkan segelas air dingin untuk suaminya. "Minum dulu, Mas"


"Thanks," Gelas itu langsung kosong.


Arini tersenyum tipis sebab ucapan terima kasih dari Arfan. "Sama-sama, Mas"


"Kamu buka pintunya, sesekali menguap biar dikira bangun tidur. Aku pura-pura olahraga karena tubuhku yang berkeringat seperti ini."


"Siap laksanakan."


Arfan tersenyum melihat istrinya seperti itu.


Tidak lama kemudian.


"Assala ..."


Bugh


Salam Arfan terhenti sebab pukulan keras mengenai bagian wajah nya. Dia terjatuh ke samping.


"Berani sekali kamu menduakan putri ku, HAH," bentak Ayah Andika setelah menghadiahkan pukulan untuk kedua kalinya.


Arfan dan Arini terkejut. Kenapa mereka bisa tahu?


"Mama kecewa sama kamu, Ar," ujar Mama Risa dengan tangisan di pelukan Papa Anggara.


"Bagaimana kalian bisa ..."


Ucapan Arini berhenti sebab tarikan di tangan kanan nya. "Ayo kita pulang"


"Ayah ... Ayah ... lepas dulu ... suamiku"


Arini berusaha melepas tangannya dari tarikan sang ayah. Dia melihat dengan sedih dan khawatir suaminya yang terduduk dengan wajahnya yang mulai membiru karena pukulan Ayah Andika.


"Dia bukan suami mu lagi," hardik Ayah Andika di depan wajah putri tercintanya.


"Kita pulang ke rumah ya, Kak," bujuk Bunda Rina sambil memeluk putrinya.


"Aku ... hiks ... ga bisa, Ayah, Bunda," ucapan Arini membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Kenapa? Kamu masih mau tinggal dan hidup dengan laki-laki tidak tahu diri itu, iya?," tanya Ayah Andika setelah berhasil mengontrol emosinya.


Sebelum menuju apartemen, dua keluarga itu terkejut sebab laporan dari salah satu anak buah Papa Anggara yang selalu mengawasi Arfan dan menantunya. Pertama kali Papa Anggara mendengar kabar terbaru dari anak buahnya, tentu saja dia sangat terkejut. Sebenarnya, laki-laki paruh baya itu ingin membicarakan masalah ini secara baik-baik. Tetapi, saat anak buahnya melapor, tanpa sengaja Ayah Andika bertamu ke rumahnya dan mendengar pembicaraan Papa Anggra dan bawahannya. Dan di sinilah mereka sekarang, apartemen yang Arfan dan Arini tempati.


Tarikan Ayah Andika pada tangan sebelah kanan putrinya terhenti.


"Mas? hiks ... hiks." Arini melihat pergelangan tangannya di pegang oleh sang suami.

__ADS_1


"Aku mohon ... jangan bawa pergi istri ku"


"Istri? Berani sekali kamu masih mengucapkan kata itu pada putri ku"


Arini menahan tangan Ayah Andika yang akan menampar Arfan. "Ayah ... aku mohon ... hentikan."


"Arin, ikut pulang sama Bunda, ya?," Bunda Rina tidak menyerah untuk membujuk anak pertamanya.


Orang tua Arfan hanya bisa diam saat ini. Mereka tidak bisa menghentikan Arini untuk di bawa pulang keluarganya. "Pa, Mama ga mau Arini pergi," ujar Mama Risa yang masih memeluk erat suaminya.


Papa Anggara masih berusaha menahan emosinya untuk tidak meluapkan kemarahan nya terhadap putranya. Sungguh, dia tidak menyangka, Arfan berani menduakan istrinya, Arini.


"Ceraikan putriku. SEKARANG," pinta Ayah Andika di depan Arini yang memeluk lengan suaminya.


"Maaf, Ayah. Aku tidak akan pernah mengucapkan kata itu kepada istriku, Arini. Tidak akan pernah."


Perkataan Arfan membuat Arini terkejut. "Benarkah kita tidak akan pernah berpisah?." tanya nya dalam hati.


"Dan aku juga tidak bisa menceraikan Sonya karena dia mengandung anakku, mungkin. Seharusnya, aku harus menyelidiki tentang malam itu sebelum menikahi nya, tapi ... aku yakin dia tidak akan pernah mengkhianati ku kan," sambung Arfan dalam hati mengenai keraguan di dalam hatinya tentang anak yang di kandung oleh pacarnya dulu, namun dia adalah istri keduanya.


Di depan pintu apartemen, Arini menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia tidak bisa meninggalkan suaminya, karena di mana suaminya tinggal, maka itu lah tempat tinggalnya, rumahnya untuk pulang.


"Ayah, Arini ikhlas menerima ini semua ... hiks ... hiks"


Ayah Andika meneteskan air matanya saat melihat ketulusan hati putrinya yang terpancar jelas di kedua matanya. "Huft, baiklah jika itu memang keputusan mu, Putriku. Ayah dan Bunda akan menerimanya," setelah Ayah Andika terdiam dan mulai memahami kondisi Arini yang sudah menikah, maka tanggung jawab putrinya bukan lagi pada dirinya, melainkan suami Arini.


***


Kini, suasana nya di apartemen menjadi sepi dan sunyi.


"Awww," Arfan menahan sakit di wajahnya saat Arini mengobatinya.


"Sakit ya, Mas? tahan dulu ya," ucapan Arini sangat lembut di pendengaran Arfan. Seperti nyanyian sebelum tidur saja.


"Maaf,"


Arini hanya membalas ucapan suaminya dengan senyuman, yang terlihat sedih dan penuh luka, begitulah Arfan melihatnya.


"Alhamdulillah, selesai."


Arfan masih menatap dengan dalam ke arah istrinya yang masih membereskan perlengkapan P3K untuk mengobati luka karena pukulan dari sang ayah mertua.


"Ada apa, Mas?," tanya Arini saat melihat tatapan suaminya yang berbeda.


"Tidak ada, nanti aku ada keperluan di luar. Dan ... mulai sekarang ... kita tidur di kamar yang sama"


Setelah mengatakan hal itu, Arfan langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Arini tersenyum malu. Dia ... senang. "Terima kasih, Ya Allah," wanita itu mengusap wajahnya dan mengaminkan doa nya di dalam hati dan ucapan syukur kepada Tuhan.


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA

__ADS_1


############################################


__ADS_2