Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Pesan


__ADS_3

Ceklek


“Keluarga pasien”


Panggilan dari dokter membuat Papa Anggara bangun dari posisi duduknya.


“Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?”


“Syukurlah, pasien tiba di rumah sakit tepat waktu sehingga kami bisa segera melakukan pertolongan pertama. Kondisi pasien masih belum kami katakan baik. Jadi, kami menyarankan pasien segera mendapatkan perawatan yang lebih memadai perihal pasien memiliki riwayat penyakit jantung di rumah sakit kota. Kalau begitu, kami permisi”


“Terimakasih, Dok” Papa Anggara menghela nafas lega.


“Jika kondisi pasien sudah lebih baik, kami akan membuat surat rujukan untuk pasien ke rumah sakit kota” Ujar perawat saat dia memberikan berkas administrasi kepada Papa Anggara.


“Terima kasih”


“Sama-sama, Pak”


Papa Anggara mengurus terlebih dahulu administrasi sahabatnya. Dia memesan kamar perawat yang tidak terlalu banyak pasien di dalam ruangan itu.


“Jemput, keluarga saya di kota” Perintah Papa Anggara sebelum masuk ke dalam ruang perawat sahabatnya yang berisi empat ranjang.


“Siap laksanakan, Bos”


Di dalam ruangan itu, Ayah Andika berbaring di ranjang yang dekat dengan jendela.


“Huft, untung saja kau baik-baik saja, Dika”


Sebuah kursi di samping ranjang, Papa Anggara duduk sambil menggenggam dengan erat tangan sahabatnya yang terasa dingin.


“Aku yakin, menantu dan putri kita baik-baik saja” Ucap Papa Anggara dengan tatapan matanya yang tidak berpindah meski ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.


“Permisi”


“Iya?” Jawab Papa Anggara dengan alis sebelah kanan yang terangkat.


“Maaf, Anda Tuan Anggara, pemilik Anggara Group?” Tanya seorang laki-laki tampan dengan jas dokter di tubuhnya.


“Benar. Ada apa?”


Laki-laki itu langsung memberikan handphonenya yang menampilkan sebuah pesan. “Ada pesan untuk bapak dan Tuan Andika”


Meski ragu, Papa Anggara mengambil benda dengan merek apel digigit dan membaca isi pesan nya.


“Papa, Ayah, ini aku Arini. Arin baik-baik saja. Arin ingin pergi sebentar, Papa, Mama, Ayah dan Bunda jaga kesehatan ya. InsyaAllah setiap bulan, Arin akan memberi kabar. Dan rahasiakan kepergian Arin kepada siapapun termasuk suami aku sendiri. Arin mohon. Menantu dan putri tersayang, Arin” Papa Anggara membaca pesan yang ternyata dari Arini dengan suara yang pelan.


“Menantuku … Ka-kamu siapa?”

__ADS_1


“Perkenalkan, saya Steve. Teman baik, Arini”


“Apakah benar, menantu saya baik-baik saja?”


“InsyaAllah, Tuan”


“Panggil saya, Papa”


“Arini butuh waktu untuk sendiri, Pa” Steve mengubah panggilan kepada Papa Anggara.


“Alhamdulillah”


“Saran saya, Papa tetap pura-pura mencari Arini agar suaminya tidak curiga jika Papa dan keluarga tahu Arini baik-baik saja”


“Apa semua ini karena putra saya?”


“Maaf saya tidak bisa mengatakan lebih jauh alasan kepergian Arini. Kalau begitu, saya permisi”


“Terima kasih”


“Sama-sama, Pa”


Setelah Steve keluar dari ruang perawatan, tanpa disangka Ayah Andika telah sadar saat ayah mertua putrinya membaca pesan dari Arini.


“Put-putri ku baik?” Dengan suara yang pelan, Ayah Andika menanyakan bagaimana keadaan putrinya.


Tidak lama kemudian, dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan itu.


“Alhamdulillah, kondisi Bapak mulai membaik. Kami akan segera membuat surat rujukan ke rumah sakit di kota agar Bapak mendapatkan penanganan lebih baik” Ujar dokter setelah memeriksa kondisi Ayah Andika.


“Terima kasih, Dok”


“Arin …” Ayah Andika memegang dengan erat tangan sahabatnya saat hanya mereka berdua di ruangan itu.


Papa Anggara tersenyum sambil membalas genggaman di tangannya.


“Al … hamdulillah” perlahan Ayah Andika juga tersenyum setelah mendengar jika putrinya baik-baik saja.


“Kau harus sehat, Dika”


“Iya”


Hampir satu jam, keluarga Papa Anggara dan Ayah Andika masuk ke dalam ruang rawat.


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”

__ADS_1


“Ayah” Tangisan Bunda Rina yang sudah ia tahan sejak mendengar kabar suaminya pingsan akhirnya pecah dalam pelukan Ayah Andika.


“Ayah tidak apa-apa, Bunda”


Semua orang di sana menatap dengan haru Ayah Andika dan Ibu Rina yang saling berpelukan.


“Bagaimana Arini, Pa?” Tanya Mama Risa yang berdiri di samping suaminya.


Walaupun Ratih dan suaminya juga ada di ruangan itu, Papa Anggara tetap menceritakan perihal pesan dari Arini. Dia yakin putrinya juga akan mengerti apa yang diinginkan oleh adik iparnya.


“Siapa yang menyampaikan pesan itu, Pa?” Hans bertanya mewakili istrinya yang masih menangis setelah mendengar kabar jika Arini tidak ingin bertemu dengan siapapun. Ratih pasti menduga jika hubungan Arini dan adiknya tidak baik-baik saja.


“Maaf, Papa tidak bisa mengatakannya”


“Arini benar-benar baik-baik saja kan, Anggara?” Ibu Rina ingin memastikan kembali bahwa sang putri dalam keadaan aman.


“Iya. Ingat, kita pura-pura tidak tahu perihal Arini dari semua orang kecuali kita”


“Arfan?”


“Khusunya dengan putramu itu” Jawab Papa Anggara. Sejujurnya, dia tidak ingin mengungkapkan kebenaran lainnya perihal alasan putranya menikah lagi. Dia pikir jika kepergian Arini ada hubungannya dengan kebohongan Arfan tentang pernikahan keduanya.


“Apa rumah tangga Arini dan Arfan tidak baik, Pa?”


Ratih menghapus air mata di wajahnya setelah dia berhasil menenangkan dirinya.


“Mungkin”


“Pasti gara-gara perempuan itu” Ujar Ratih sambil mengepal kedua tangannya saat mengingat ada perempuan lain dalam pernikahan adiknya dengan Arini.


“Seharusnya kita tidak menjodohkan mereka dulu” Terlihat dengan jelas wajah yang terluka seorang ibu saat mengetahui putrinya tidak bahagia dengan pernikahannya.


“Ibu” Panggil Ayah Andika. “Arini ikhlas menjalani pernikahannya, ini adalah cobaan untuk mereka berdua”


Tok tok tok


Semua orang menoleh ke arah pintu dan terkejut siapa datang ke ruang rawat Ayah Andika.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Ada yang mau main tebak-tebakan, siapa yang mengetuk pintu ruang rawat Ayah Andika?


Love u all

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2