Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Kapan Kita Bahagia seperti Mereka?


__ADS_3

Rimbun pepohonan dan pemandangan yang dominasi warna hijau membuat Arini tersenyum. Dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya dan dia juga harus siap berhadapan langsung dengan kenyataan yang dia hindari selama ini, pernikahan kedua Arfan. Apakah selama dia pergi Arfan sedang bahagia atas kelahiran anaknya bersama … Sonya?


“Oh ya, kenapa aku ga sekalian tanya sama Rafa tentang kehidupan Mas Arfan bersama anak dengan istri keduanya?”


Sayang sekali, kepulangannya kali ini dia hanya sendirian bersama salah satu santri di pesantren untuk mengantarnya ke kota dan dia membawa ikut serta istrinya. Rafa tidak bisa ikut dengannya karena Yusuf sedang sakit. Dan sudah menjadi kebiasaan bocah laki-laki itu jika dirinya sakit yakni Yusuf akan selalu menempel lekat dengan ayahnya, bukan ibunya.


“Mbak Arin kalau mengantuk, tidak apa-apa tidur saja, Mbak” Ujar Asih, istri Abim yang sedang mengemudikan mobil. Sepasang pengantin baru itu baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu.


“Eh, ga kok. Saya … hoam … ga ngantuk”


Asih tersenyum malu karena Arini yang menutup mulutnya karena ketahuan jika wanita hamil itu memang sedang mengantuk.


“Tidak apa-apa, Mbak. Nanti kalau sudah sampai di rest area, saya bangunin”


“Iya, Mbak. Tidur saja tidak apa-apa” Sahut Abim untuk membantu istrinya agar bisa membujuk Arini agar bisa tidur.


“Saya … ehem … ijin tidur sebentar ya”


“Lama juga tidak apa, Mbak. Hehehe” Asih tertawa kecil melihat Arini yang berusaha menahan kantuk.


“Selamat tidur ya”


Ada-ada saja Arini ya. Padahal hanya dia yang tidur, kenapa harus mengucapkan selamat tidur kepada Asih dan Abim.


“Mbak Arin lucu ya, Mas”


Asih membuka penutup botol minum air mineral untuk suaminya, kebetulan masih lampu merah. “Minum dulu, Mas”


“Terimakasih, Dek”


“Sama-sama”


“Ehm, menurut Mas sih lebih lucu kamu lho, Dek”


“Dan suami aku ini yang paling tampan”


“Lebih tampan siapa? Aku atau Bapak?” Abim tetap fokus ke depan sambil tersenyum saat berbincang dengan istrinya.


“Hmmm, Bapak aja deh. Kamu yang kedua, Mas”


“Iyain aja deh”


Di dalam mobil itu, Asih terus bercerita tentang pengalamannya menjadi guru di sekolah pondok pesantren setelah dia menikah dengan Abim. Asih memang bukan dari kalangan keluarga pesantren, dia tinggal di desa yang memang tidak jauh dari pondok itu.


“Mbak Arin?”

__ADS_1


Asih berusaha membangunkan ibu yang sedang hamil tua dan terlihat sangat nyenyak tidur. Untung saja tadi dia membawa bantal, jadi Arin bisa tidur dengan nyaman.


“Belum bangun, Dek?” Tanya Abim, dia menyusul istrinya karena dua wanita itu belum juga sampai di sebuah restoran yang sudah dia booking.


“Ga bisa, Mas. Aku coba lagi ya, Mas”


“Iya”


“Mbak, bangun”


Cubitan kecil di tangan Arin berhasil membangunkan wanita itu.


“Hoam, sudah sampai mana, Asih?” Arin masih berusaha mengembalikan nyawanya yang sempat tertidur. Hehehe.


“Alhamdulillah, mbak sudah bangun. Maaf ya Mbak, tadi saya cubit sedikit. Ehm, kita sudah di rest area, Mbak. Kita istirahat dulu ya”


Oh ya Chika sudah kembali ke kota tadi malam, karena ada masalah di cafe. Jadi, dia tidak bisa berangkat bersama dengan Arini.


Lanjut ya …


“Silahkan tulis pesanannya di sini ya, Pak, Bu” Ujar seorang pelayan sambil memberikan selembar kertas kepada Arini.


“Terima kasih”


“Oke. Hm, aku pesan rawon sama es jeruk”


“Mas mau pesan soto ayam dan teh hangat, Dek”


“Mas ga mau beli yg ini aja?” Sebuah buku menu Asih berikan kepada Abim.


“Memangnya enak ya?”


“Enak kok, Adek sering beli ini. Mas harus cobain deh”


“Hm, Mas takut ga enak”


Lagi-lagi. Arini harus melihat kebahagian dari keluarga lain, kemarin keluarga Rafa, dan sekarang Asih dan Abim. “Kapan ya Mas kita bahagia seperti mereka?” Ucap Arini dengan suara yang pelan sambil tersenyum kecil melihat pertengkaran sepasang pengantin baru di hadapannya.


“Terimakasih”


Arini tersadar dari lamunannya saat pelayan tadi mengambil kembali kertasnya. Sepertinya, Asih dan Abim selesai bertengkar.


“Asih mau tanya boleh, Mbak?”


“Boleh”

__ADS_1


“Hm, Mbak Arin sudah … berapa lama menikah?”


Cubitan kecil datang menghampiri perut Asih. “Aw, sakit, Mas” Asih meringis di perutnya karena ulah suaminya. Dan tatapan tajam dari Abim mengarah tepat ke sampingnya.


“Hahaha, tidak apa-apa, Abim. Hm, hampir satu tahun lebih sih”


“Wah, lama ya, Mbak”


“Iya”


“Tanya lagi boleh?”


Arini menganggukan kepalanya dan tersenyum menatap kelucuan raut wajah Asih. Umur Asih memang masih bisa dikatakan remaja, dia baru satu bulan lagi genap berusia 20 tahun dan Abim juga masih berumur 24 tahun. Mereka berdua bisa dibilang telah menikah muda.


“Hm, kenapa Mbak pergi dari suami? Kan istri harus selalu disisi suaminya”


Pertanyaan dari Asih membuat Arini terkejut, namun segera mengembalikan raut wajahnya agar tetap tenang.


"Maaf, Mbak ga bisa jawab pertanyaan kamu yang itu"


Mata Arini terlihat berkaca-kaca.


"Eh, tidak apa-apa, Mbak. Saya mah harus minta maaf karena buat mbak sedih"


Asih langsung berpindah tempat dan duduk di samping Arini. Dia memeluk erat Arini dan terus mengatakan maaf.


"Sudah, Mbak gapapa kok"


Syukurlah Arini tidak terlalu lama bersedih. Dia tersenyum menatap Asih yang terlihat merasa bersalah karena pertanyaannya.


"Ayo, makan dulu" Ujar Abim setelah makanan dan minuman pesanan mereka datang.


"Bismillah"


Meski hati yang gelisah, Arini tetap harus memaksakan dirinya agar bisa makan. Ada bayi dalam perutnya yang sangat membutuhkan asupan gizi dari makanan yang dia makan.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2