Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Siapa yang ngidam?


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


"Tadi, aku dari rumah Ayah cari kamu," lanjutnya.


Mereka berdua duduk bersama di sofa, saling berdekatan.


"Kamu tadi ke mana?,"


"Suatu tempat"


Tidak ada pembicaraan lagi.


"Oh ya, tadi Mama bilang kalau Kak Ratih pulang ke rumah besok. Nanti malam kita ke sana ya," ujar Arfan.


Arini hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Rumah Sonya di mana, Mas?,"


Tidak ada jawaban.


"Mas?"


"Ehm ... jauh"


"Dekat," Arini menjawab pertanyaannya sendiri dalam hati.


"Mas? Kamu ga menyembunyikan sesuatu dari ku kan, Mas?"


*_____*


"Kamu mau ke mana? Dah cantik banget kayak gini"


Arfan mengalihkan pertanyaan istrinya.


"Huft, kurang sabar apa lagi aku, Mas," ingin sekali Arini menangis dan mengutarakan isi hatinya seperti tadi pagi.


"Aku mau ke cafe dulu, Mas"


Arini langsung berdiri. Namun, langkah kakinya terhenti karena pergelangan tangannya ditarik oleh suaminya.


"Maaasss," sentak Arini.


"Aku mau kamu. Sekarang"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, laki-laki itu langsung menarik lagi pergelangan tangan Arini menuju kamar tamu.


Ceklek


Pintu tertutup. Tanpa menunda waktu, Arfan langsung membuka jilbab, dan gamis Arini.


"Ta-tapi, aku mau ke ..."


Ciuman yang sedikit kasar berhasil membungkam mulut Arini.


Arfan menuntun istrinya ke ranjang dengan ciuman yang masih berlanjut.


"Kamu cantik, Sayang"


Kata 'sayang' dari Arfan, berhasil membuat hati Arini bahagia. Semoga suaminya tidak akan pergi dari kamar ini setelah mereka melakukan hubungan intim ini. Amin, kata author.


***


Arini tidur terlelap dengan posisi membelakangi suaminya. Dia sangat kelelahan. Padahal, cahaya matahari sudah bersinar cukup terang.


"Setiap aku melakukan hubungan suami-istri denganmu, ada sedikit penyesalan jauh di dalam hatiku. Begitu pun, aku yang tidak bisa melepaskan mu. Hati ku tidak ingin kamu pergi dalam hidup ku." Arfan memandang sendu punggung putih dan polos di sampingnya.


Ya, kali ini Arfan tidak langsung pergi meninggalkan kamar usai dirinya selesai meminta jatah kepada istri pertamanya. Namun, dia belum bisa untuk memeluk Arin ataupun tidur berdekatan dengan wanita itu.


Sebenarnya, perempuan itu sudah bangun dari tidurnya setelah Arfan mengatakan sesuatu. “Tidak apa-apa, setidaknya hiks … kamu tidak pergi begitu saja meninggalkan ku sendirian di sini, Mas,” lirihnya sambil berusaha menahan suara tangisannya. “Ya Allah, kuatkan hati hamba … hiks .. hiks”


Arini menutupi seluruh tubuhnya yang masih tidak mengenakan pakaian atau sebagainya, hanya selimut tebal saja. “Mung-mungkin tadi kamu sudah melakukan hubungan itu sama Sonya ya, Mas … hiks,”


Pukul 1 siang. Arini telah selesai mandi besar dan melaksanakan sholat dhuhur sendirian, “Kapan ya Mas kita bisa sholat berjamaah”. Dia melepas dan merapikan alat-alat sholatnya. Dapur adalah tujuannya. Dia berjalan dengan pelan ke arah ruang makan yang menjadi satu dengan ruangan untuk masak-masak.


“Lapar,” ucap Arini sambil membuka pintu kulkas, berharap ada roti atau buah.


Makan siang yang sederhana. Wanita itu duduk manis di meja makan dengan dua potong roti selai kacang dan buah apel. Dia makan sambil sesekali melihat akun sosial medianya. Tiba-tiba, akun Sonya muncul di beranda. “Huft, sabar … mungkin dia lagi ngidam”


“Siapa yang ngidam?”


Suara itu berhasil membuat Arini terkejut dan menjatuhkan buah apel yang baru ia gigit dua kali. “Ya Allah, apaan sih, Mas. Kaget tahu,” sentak Arini sambil mengusap dadanya.


“Maaf, maaf, kamu lagi makan apa?”


Tidak ada jawaban.


“Kamu … masih marah?”

__ADS_1


Suasana di ruang makan sangat sepi, hanya terdengar Arini yang lanjut menikmati buah apel dengan tatapan matanya pada handphone.


“Arin? Aku minta maaf,” ucap dengan tulus Arfan. Dia terus melihat ke samping istri pertamanya yang mengenakan kaos pendek dan celana panjang, tanpa hijab.


“Ga tau”


“Kok ga tau?”


Lagi. Arini tidak menjawab pertanyaan suaminya.


“Oh ya, kamu ga kemana-mana kan?”


“Nanti sore kita pulang ke rumah Papa. Hmmm, Kak Ratih pulang,” lanjut Arfan setelah wanita di sampingnya hanya diam.


“Kak Ratih?” tanya Arini dengan wajahnya yang sangat bahagia.


“Iya, ki …”


Tanpa menunggu jawaban selain kata iya dari Arfan, wanita itu langsung berlari menuju tangga,” Berangkat sekarang aja, Mas”.


Arfan tersenyum geli melihat Arini yang akan bertemu dengan kakak perempuannya. “Hah, semoga Mama ga cerita tentang pernikahan keduaku. Habis aku”


“Mas, buruan ganti baju,” teriakan Arini di depan pintu kamarnya berhasil membuat Arfan terkejut.


“Iya”


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN


...



...

__ADS_1



__ADS_2