
“M-mas … hiks … hiks” Arini kembali menangis sambil menyentuk permukaan kaca tepat di wajah suaminya. Dia mengusap kaca itu seakan-akan sedang berada di samping suaminya.
Tanpa Arini sadari, keluarganya telah berdiri tepat di belakangnya. Mama Risa menutup mulutnya agar menantu kesayangannya tidak mendengar suara tangisnya.
“A-arin … hiks … hiks”
Arini membalikkan badannya dan memeluk ibu mertuanya. Mereka berdua menangis bersama, begitupula Bunda Rina. Para lelaki hanya diam di belakang Wanita yang mereka sayangi.
“A-arfan … hiks … pasti baik-baik saja” Lirih Mama Risa sambil terus mengusap kepala menantunya.
“Cucu Mama sehat kan?” Mama Risa mengelus dengan lembut perut besar Arini. Dia tidak menyangka, putranya akan menjadi seorang ayah.
“Alhamdulillah, dedek sehat”
“Permisi”
Seorang dokter laki-laki menghampiri keluarga Arini dan Arfan.
“Ba-bagaimana keadaan putra saya, Dok?” Tanya Papa Anggara.
“Alhamdulillah, pasien telah melewati masa kritis dengan baik. Sebentar lagi, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat”
“Alhamdulillah” Ucap syukur semua orang yang masih berdiri di depan ruangan ICU.
“Mari” Dokter muda itu masuk ke dalam ruang ICU dan mulai memeriksa kembali keadaan Arfan.
***
Esok hari, Arini sudah duduk di samping suaminya. Tangannya terus mengelus dengan lembut telapak tangan Arfan yang terasa sangat dingin. Sesekali Arini mengusap air matanya yang jatuh agar tidak membasahi tangan Arfan. Dia tidak ingin Arfan tahu tentang kesedihannya.
__ADS_1
“M-mas, bangun ya. Sebentar lagi, aku mau lahiran lho”
“Kamu harus menjadi orang pertama yang lihat anak kita, hm? A-aku ga mau kamu pergi lagi, a-aku mau kamu, anak pertama kita dan insyaAllah anak-anak kita nanti akan selalu bersama. Amin” Arini mencium kening Arfan lama dan dalam.
Air mata Arfan mengalir begitu saja saat Arini masih mencium keningnya.
“Kamu kok nangis sih, hm? Jangan nangis dong, kita harus tersenyum dan bahagia terus ya? Aku kangen kamu, Mas. Rindu berat tau” Dengan senyuman, Arini mengusap wajah suaminya.
Tok tok tok
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Arini terkejut melihat siapa yang datang ke ruang rawat suaminya. Ada dua orang dewasa yang tersenyum ke arahnya.
“Hai, Arin” Giliran laki-laki tampan yang menyapanya.
“Maaf kami baru bisa datang hari ini” Ucap Sonya sambil berjalan dan mendekat ke ranjang Arfan. Dia masih tersenyum manis ke arah Arini.
“Sorry ya kami baru bisa menjenguk suami kamu” Steve memeluk pinggang Sonya dengan erat. Mereka berdua saling tersenyum dan menatap satu sama lain.
Raut wajah Arin berubah-ubah, sedih, kaget, dan senang. Dia bingung apa yang sudah terjadi selama dia pergi. Kenapa Steve tidak menceritakan kedekatannya dengan Sonya. Dan senyuman Sonya yang sangat bahagia saat Steve memeluk dirinya. Apa mereka ada hubungan, tapi Sonya adalah istri kedua suaminya.
“Kamu duduk dulu saja, Sayang” Ucap Steve.
Sonya menganggukan kepalanya. Dan duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari ranjang pasien.
“Aku bersyukur kamu kembali”
__ADS_1
Steve duduk di sisi lain ranjang Arfan.
“Kamu kok … sama dia?” Arini menatap bingung teman baik sekaligus dokter terapisnya.
“Hm, waktu berlalu dengan cepat dan banyak kejadian yang telah terjadi”
“Apa maksud ucapan mu itu, Steve?”
“Aku sama Mas Arfan sudah bercerai”
Bukan jawaban yang Arini dengar, melainkan pernyataan sekaligus berita baru yang berhasil mengejutkan dirinya dalam waktu yang berdekatan. Belum selesai dia terkejut karena kedatangan Sonya yang dia tahu adalah madunya, namun sekarang dia mengatakan dengan jelas statusnya dengan Arfan sebagai mantan istri.
“Bagaimana bisa?”
Tin tin tin
Suara monitor membuat Arini mengalihkan pandangannya langsung kepada suaminya yang masih memejamkan matanya.
“Mas? Mas, kamu kenapa? Mas Arfan?” Panggil Arini saat tanpa sengaja dia melihat jari-jari tangan suaminya sedikit bergerak.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Love u all
🌼🌼🌼
__ADS_1