
Hari ini tepat 6 bulan pernikahan Arfan dan Arini. Hubungan mereka kembali seperti awal pernikahan. Tidak ada hal-hal romantis dalam kehidupan rumah tangga mereka. Meski, mereka tetap menjalani tugas masing-masing sebagai suami dan istri.
“Mas?” Tanya Arini saat dirinya selesai mengambil sepiring nasi goreng dan meletakkannya di depan suaminya.
“Hm?” Arfan sibuk melihat handphonenya sambil menikmati nasi goreng yang masih hangat.
“Aku mau ketemu sama … Sonya”
Uhuk
Arfan tersedak dan segelas air putih langsung ia habiskan.
“A-apa?”
“Huft, aku mau bertemu sama maduku”
Jantung Arfan berdetak dengan kencang dan cepat. Dia tidak menyangka, Arini berani mengatakan hal itu tepat di hari jadi pernikahan mereka yang ke-6 bulan.
“Gimana?” Tanya Arini saat melihat laki-laki di sampingnya hanya diam.
“I-itu …”
“Aku sudah menyiapkan makan malam romantis untuk hari jadi pernikahan kita di restoran X untuk nanti malam bersama … Sonya”
Arfan tersedak lagi, terlihat ada butiran nasi yang keluar dari dalam hidungnya.
“Hahahah, Ya Allah. Mas, hidung kamu” Arini tertawa geli saat melihat benda putih di hidung suaminya. Dia membantu suaminya membersihkan butiran nasi yang menempel.
“Sakit tahu, aduh aku ga bisa nafas nih”
Setelah Arfan tidak merasakan sakit di area hidungnya, dia menatap dengan dalam ke arah sang istri.
“Apa maksud kamu?”
“Yang mana?” Dengan santai Arini tetap menikmati menu sarapan sederhana yang ia buat.
“Ngapain kamu ajak dia di makan malam romantis kita, huh?”
Arini mengerutkan keningnya. Dia bingung kenapa Arfan marah karena dirinya mengajak pacarnya sendiri yang kini telah menjadi istri keduanya. “Kenapa kamu marah gitu? Kamu itu harusnya seneng, aku mencoba untuk baik sama maduku, Mas”
Ucapan Arini berhasil membuat laki-laki itu terdiam. Apa yang terjadi pada istrinya, pikirnya.
“Aku berangkat dulu. Assalamualaikum”
__ADS_1
Arfan mencium kening istrinya setelah Arini mencium punggung tangannya.
“Waalaikumsalam”
"Tumben Mas Arfan cium keningku. Sweet" Lirih Arini sambil tersenyum manis ke arah suaminya yang sudah menghilang di balik pintu.
***
Sesuai dengan rencana, Arini keluar dari apartemen menuju kamar Sonya. Langit sore sangat indah, begitulah yang Arini rasakan hari ini. Dia bahagia bisa merayakan hari ulang tahun pernikahannya pertama kali, meski bersama madunya sendiri. “Semuanya pasti baik-baik saja”
POV ARINI
Setelah aku mengirim pesan kepada Mas Arfan tanpa menjawab panggilan darinya, karena aku yakin jika dia pasti terkejut. Mungkin dia tidak menyangka jika aku tahu dimana tempat tinggal maduku. Hahahah. Kejutan special untuknya.
Jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, hari ini Mas Arfan memang pulang malam karena urusan pekerjaannya. Jadi, sebelum aku mengabarinya tadi pagi mengenai rencana makan malam bertiga, Mas Arfan langsung menuju restoran dari kantornya.
“Bismillah”
Tin tin tin
Aku membunyikan bel rumah dan berdiri dengan perasaan yang tenang. Aku tahu, sikap ku ini sangat mengejutkan. Aku ingin kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja. Meski, orang ketiga telah masuk dalam kehidupanku dengan Mas Arfan.
“Hai, Madu” Sapaan itu membuatku merasa kesal. Tenang. Aku harus bersikap berani terhadap wanita di depanku ini.
“Silahkan masuk”
“Tadi, Mas Arfan menghubungiku”
“Hm”
“Dia bilang, aku harus dandan yang cantik karena kita bertiga akan malam bersama. Manis sekali, bukan?”
Wanita di depan ku ini memang tidak pandai berbohong. Dia meremas jari-jari nya, Sonya gugup. Hahahaha. Aku tahu Mas Arfan tidak menghubungi Sonya karena sekretarisnya bilang jika handphone milik bosnya, dia pegang karena Mas Arfan fokus dengan rapat penting bersama klien dari luar negeri.
“Ya ya, kita berangkat sekarang?”
“Tentu saja. Tapi, aku punya hadiah kecil dan khusus untukmu. Sebentar, aku ambil dulu di kamar”
Sonya berjalan sedikit pelan, mungkin karena kehamilannya. Tanpa sadar, aku menyentuh perutku yang terlihat datar. Aku berharap, Allah segera memberikan kehidupan baru di dalam rahimku. Amin Ya Allah.
“Bukalah!”
Aku membuka sebuah hadiah kecil darinya, pulpen.
__ADS_1
“Terima kasih”
“Jangan berterima kasih padaku sekarang, Madu. Coba kamu putar rekaman di pulpen itu” Wanita itu tersenyum manis padaku. Entah kenapa, aku merasa ada hal buruk yang terjadi setelah ini.
“Nanti saja. Ayo kita berangkat sekarang”
“Aku berangkat sendiri saja”
“Tapi …”
“Aku masih belum bersiap, jadi kamu berangkat duluan saja”
Akhirnya, aku keluar dari kamar apartemen itu. Sejak tadi, aku berusaha menahan air mataku. Di dekat meja tepat di samping sofa, aku melihat foto Mas Arfan dan Sonya, mungkin ketika mereka berpacaran dulu. Latar belakang foto itu di depan universitas mereka kuliah bersama. Sakit. Aku meremas kuat hadiah dari wanita itu. Setetes air mataku jatuh dan membasahi wajahku.
Rasanya aku tidak sanggup untuk berjalan lagi. Sejenak, aku berjongkok tepat di depan kamar apartemenku sendiri. Aku menangis. Aku tidak peduli dengan riasan wajah yang sudah berantakan.
“Mbaknya baik-baik saja?”
Suara itu membuat ku segera menghapus air mataku. “Ya tidak apa-apa”
“Baiklah”
Tunggu. Nada bicara itu sepertinya tidak asing di telingaku. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa orang itu. Tapi, tidak ada siapapun di lantai apartemen ini. Kosong.
Aku yakin, aku pernah mendengar suara itu. Tapi, aku lupa dimana dan siapa pemiliknya.
Rin ring ring
Handphone ku berbunyi. Mas Arfan. Sejujurnya, aku tidak ingin berbicara dengannya. Tapi, sebentar lagi kita akan makan malam bersama. Aku tidak ingin merusak malam ini dengan suasana hatiku yang sangat buruk.
Aku membiarkan panggilan dari Mas Arfan terus masuk dan memilih untuk mengirim pesan padanya.
Aku di jalan.
Huft. Tenang. Semuanya pasti baik-baik saja. Aku harus ikhlas.
END POV ARINI
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
__ADS_1
Love u all
🌼🌼🌼