
### Bab sebelumnya ...
"Iya, aku kompres dulu ya, terus wudhu dan sholat. Walaupun sakit, harus tetap sholat lima waktu"
Arfan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia menikmati dingin dan hangat di kepalanya.
Setelah melaksanakan ibadah sholat maghrib berjamaah, Arfan kembali membaringkan tubuhnya. "Arin? Matiin dong AC nya, dingin"
"Iya, Mas"
Arini duduk di sisi ranjang yang kosong. "Aku buat bubur dulu ya, Mas?"
Di dapur, Arini memasak bubur dan membuat teh madu hangat.
***
Makan sudah, minum obat juga sudah. Arfan selalu mengeluh kedinginan. "Arin? Dingin"
"Aku udah matiin AC nya, Mas"
"Pengen peluk kamu"
Arini terkejut. "Pe-peluk?"
"Sini," tanpa menunggu persetujuan sang istri, Arfan langsung menarik pergelangan tangan Arini. "Hangat"
Arini sedikit kaku karena pelukan yang cukup erat. Dia tidak terbiasa dengan pelukan dari suaminya. "Arin, maafin aku," ujar Arfan dengan suara yang sangat pelan.
Wanita itu mendongakkan kepalanya dan menatap dengan dalam wajah suaminya. "Mas? Aku ingin sekali mengikhlaskan kamu untuk hidup berdua saja dengan Sonya, wanita yang kamu cintai. Ta-tapi, hati aku ga mau, Mas. Aku ga mau pergi jauh dari kamu. Bertahun-tahun, aku selalu ada di samping mu, begitupun kamu. Kecuali, ketika malam itu. Mungkin, hanya satu rahasia itu yang tidak pernah kamu tahu."
Arini membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya yang telanjang.
*_____*
Di tengah malam, Arini merasa terganggu tidurnya. Dia merasa sangat panas dan dingin bersamaan. Perlahan dia membuka matanya. "Mas?," panggilnya.
Tidak ada sahutan dari yang dipanggil. Laki-laki itu hanya bergumam tidak jelas. Karena khawatir, Arini segera bangun dari posisi tidurnya dan duduk menghadap suaminya. "Ya Allah, panas nya naik lagi," segera wanita itu menuju kamar mandi dan mengambil air dingin. Dengan telaten, dia memeras dan meletakkan kain basah dengan air dingin di atas kening suaminya.
"Sonya," lirih Arfan yang masih dapat didengar istrinya.
"Kamu kangen dia ya, Mas?," Arini menghapus tetesan air mata yang tanpa ijin keluar dari kedua matanya.
"Arin,"
"Iya, Mas?," jawab Arini saat namanya juga dipanggil.
"Haus,"
Arini membantu suaminya minum air putih yang selalu tersedia dikamar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Arfan membuka sedikit matanya. Dia melihat istrinya yang mengompres dadanya. "Arin," panggilnya lagi.
"Iya,?"
"Buka baju"
"Kan udah kamu buka Mas bajunya, tuh lihat dada kamu telanjang gitu," pikiran Arini mulai nakal, dia pikir baju nya sendiri yang dibuka.
"Baju kamu ... buka," pikiran Arini benar ternyata.
"A-apa? Kok?"
"Buruan, Arin," suara Arfan sedikit tinggi dan serak.
"Ta-tapi ..."
Ucapan Arini terhenti sebab tatapan tajam suaminya.
"Iy-iya," dengan tangannya yang gemetar, Arini perlahan membuka satu persatu kancing piyamanya. Setelah baju itu terlepas, maka bagian atas tubuh Arini polos. Dia memang tidak pernah mengenakan pakaian dalam saat tidur, karena tidak nyaman dan panas.
Namun sekarang, tubuhnya sudah terasa dingin di luar karena AC. Sungguh, dirinya berusaha untuk menahan keringat nya agar tidak tidak terus menetes. Dan, dia sangat malu, sekalipun dirinya tidak pernah melakukan hal ini selama pernikahannya dengan Arfan.
Plop
Kancing terakhir telah lepas, dan Arfan langsung menarik pergelangan tangan istri pertamanya. Dan dia langsung memeluk tubuh Arini yang terasa hangat di badannya yang dingin. "Dingin," satu kata itu membuat Arini paham situasi yang tengah ia alami.
Memang benar, metode itu untuk biasa dilakukan kepada bayi atau anak-anak. Sekarang, Arini menerapkan metode skin to skin untuk laki-laki di hadapannya, "berasa aku sudah bayi ... bayi besar," ucap wanita itu.
Kini, jantung Arini berdetak dengan cepat sebab pelukan yang hangat dari suaminya. Dengan nyaman, Arfan meletakkan wajahnya di depan dada Arini. Kening wanita itu mulai mengeluarkan keringat, sepertinya panas tubuh Arfan sudah berpindah pada dirinya.
Berharap suaminya cepat sembuh, Arini mengusap dengan penuh kasih sayang kepala Arfan. Dia berusaha memejamkan matanya. Tapi, dia merasakan hal lain di bagian bawah tubuhnya. Ada sesuatu yang keras yang bersentuhan dengan pahanya. Lama berpikir, Arini paham apa itu. Tanpa berpikir lagi, Arini langsung memejamkan matanya dan berusaha mencari mimpi yang indah agar segera tidur. "Semoga kita akan selalu bersama menuju jannah-Nya, Mas," ucap Arini sambil terus mengelus rambut suaminya.
***
Walaupun demam Arfan sudah turun, laki-laki itu masih terlihat lemas. Dia masih belum kuat untuk berdiri, apalagi berjalan. Tadi subuh, Arini membantu suaminya berwudhu hingga sholat dalam posisi duduk di ranjang. Alhamdulillah, suaminya masih mau menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim yakni mentaati rukun islam ke dua.
Dikutip dari ©Dalam Islam, saat seseorang mengalami sakit hingga kehilangan kesadaran seperti koma dan gila, maka kewajiban salat gugur, karena salah satu syarat dalam salat adalah memiliki akal sehat.
Namun jika mengalami sakit kecil seperti pusing maupun pilek, usahakan tetap melakukan salat wajib. Karena Allah SWT berfirman lewat surat Thaha ayat 132 menyatakan:
Waamur ahlaka bis Salaati wastabir 'alaihaa la nas'aluka rizqoo; nahnu narzuquk; wal 'aaqibatu littaqwaa.
Artinya:
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
"Makan bubur dulu ya, Mas?,"
Arfan hanya menganggukkan kepala saja. Dia membuka sedikit mulut nya untuk menerima suapan pertama bubur hangat buatan istri pertamanya.
__ADS_1
"Mas?"
"Hem," Arfan memejamkan matanya, kepalanya masih sedikit pusing. Dia belum mengabari sekretarisnya untuk ijin tidak ke kantor.
"Hmmm, itu ..."
Belum selesai bicara, Arfan memintanya untuk menghubungi Vano dan memberi kabar jika dirinya tidak ke kantor.
"Iya, Mas"
Tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Arfan masih menikmati bubur yang mulai membuatnya terasa kenyang.
"Udah"
Setelah meletakkan mangkuk bubur yang tersisa setengah, Arini ingin mengambil handuk basah dan dia usap di tubuh suaminya.
"Mas?," tanya Arini sambil mengusap di bagian dada Arfan.
"Hm?,"
"A-aku tel-telpon is-istri ..."
"Apa?," Arfan membuka matanya karena istrinya yang berbicara terbata-bata.
"Akutelponistrikeduamas," Arini mengucapkannya dengan satu tarikan nafas tanpa jeda.
"Hah?,"
***
©Dalam Islam : https://dalamislam.com/shalat/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit
❤️❤️❤️ Macan
Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️
Dukung aku :]
Follow, Like dan comment ya ....
Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.
Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA
...
...
__ADS_1