
### Bab sebelumnya …
"Oh, Mas Arfan?"
Mungkin
"Ya udah, kita makan siang duluan saja. Mumpung cafe sepi, jadi ga perlu karyawan tambahan buat stay di depan"
Dua wanita itu berjalan bersama menuju ruangan yang digunakan untuk karyawan Jasmine Cafe istirahat.
*_____*
Ring ring ring
Arfan bangun lagi dari posisi ternyaman yakni di samping istrinya di atas sofa baru.Biasanya, dia langsung pergi meninggalkan Arini setelah melakukan olahraga yang sehat dengan banyak manfaat, salah satu nya yakni kehadiran bayi di dalam perut Arini.
“Steve? Nama yang asing, aku sangat kenal dengan semua teman Arin, ya kecuali wanita tadi dan laki-laki ini” Nada dering handphone Arin berhenti saat Arfan berhasil mengambil barang itu di meja kerja.
Saat membalikkan badan, Arfan terkejut melihat buket bunga tulip yang sangat indah. “Bunga? Dari laki-laki ini?,” tanyanya sambil melihat kedua tangannya yang memegang dua benda berbeda. Handphone dan buket bunga.
“Berani sekali laki-laki itu, damn it”
Arfan melempar buket bunga di atas sofa lain, termasuk handphone.
“Kamu harus tanggung jawab, Sayang”
Senyuman nakal terlihat di bibir Arfan sambil melihat ke arah istrinya yang polos tanpa mengenakan pakaian. Dan hal itu berhasil membuat hasratnya kembali tinggi.
Ciuman lembut dan sedikit kasar di bibir Arini, tidak membuatnya bangun dari mimpinya yang indah.
“Euh,” lenguhan Arini membuat Arfan dengan cepat menyelesaikan olahraganya sehat, katanya. Namun, saat dirinya mencium dengan gemas squishi milik sang istri, dia mendapat panggilan mendadak dari sekretarisnya.
“Kita harus cepat, Sayang”
Hampir satu jam, Arfan telah menyelesaikan kegiatan panas yang kedua kalinya. “Aku harus pergi”
Dengan gerakan cepat seperti olahraga sehat yang kedua kalinya tadi, Arfan langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang memang tidak terlalu besar. Untung saja, baju dan celananya masih bersih karena dia meletakkannya di sofa yang lain.
Ceklek
Pintu tertutup dan Arini membuka kedua matanya dengan air matanya yang menetes. Dia terbangun dari tidurnya karena merasa tubuhnya sangat sakit, terutama pada bagian kewanitaannya. Dia pura-pura memejamkan matanya tadi saat suaminya mengenakan kembali pakaiannya. Sedangkan, dirinya tidak mengenakan penutup apapun untuk menyembunyikan tubuhnya yang masih telanj*ng. Wanita itu melihat ke arah pintu yang tidak terkunci.
“Ka-kamu tega, Mas hiks … hiks” Arini mengambil pakaiannya di lantai dengan suara tangisannya yang masih terdengar dari mulutnya. Setelah mengenakan rok dan blouse tanpa pakaian dalam, dia segera mengunci pintu ruang kerjanya.
Di dalam kamar mandi, Arini menangis. “A-aku ga sanggup lagi, Mas. Hiks … hiks … hiks”
__ADS_1
***
Arini turun ke lantai bawah untuk mengambil makanan yang tadi ia pesan. Dia berjalan dengan pelan karena bagian kewanitaannya masih terasa perih.
“Nada?” Panggil Arini yang berada tepat di belakang gadis berhijab waran hijau. Namun, dia sadar jika temannya itu tidak bisa mendengar. Tepukan lembut di bahu, berhasil membuat Nada membalikkan badannya.
Nada tersenyum geli melihat bosnya baru keluar sejak dua jam lebih di dalam ruangan bersama laki-laki seram.
“Kenapa kamu tersenyum seperti itu?” Tanya Arini dengan keningnya yang berkerut sambil berjalan menuju ruang istirahat bagi karyawan di cafenya.
Kamu tadi olahraga sehat apa?
Sebuah pertanyaan yang lagi-lagi membuat Arini bingung. “Maksudnya?”
Dan Nada hanya membalas pertanyaan Arini dengan senyuman malu-malu.
“Apa, Nad?” Desak Arini sambil mengguncang tubuh teman baiknya yang masih tersenyum malu-malu padanya.
Nada menunjukkan lembar catatan kecil miliknya kepada Arini.
Kini, buku catatan itu telah berpindah tangan. Terlihat raut wajah Arini yang bingung dan kesal. “Tulisan siapa sih ini, huh? Tunggu, aku kenal penulisnya”
Wajah Arini langsung menatap dengan sedih ke arah Nada.
“Iya, Mbak. Mas Arfan yang tulis tadi. Hehehe” jawab Chika yang sudah berada di samping Nada. Dia mewakili temannya untuk menjawab kegelisahan sang bos.
“Man-faat olah-raga se-hat itu a-nak”
Mata Arini terbuka lebar setelah membaca dengan benar dan baik tulisan Arfan. Dia berlalu begitu saja menuju ruang istirahat karyawan tanpa melihat kedua karyawannya yang masih tertawa karena tulisan suaminya itu. “Awas kamu, Mas”
***
Di ruang istirahat karyawan, Arini menikmati nasi padang dan segelas es teh. Namun, dirinya terlihat melamun sambil terus menyuapi dirinya sendiri makanan khas padang itu. Ingatannya tertuju pada voice note yang dikirim oleh madunya tadi.
🔊🔊🔊
Sayang, dedek pengen dijengukin kamu nih.
Hemmm.
Hore, pagi yang panas ya.
🔊🔊🔊
Walaupun, hanya terdengar deheman saja sebagai jawaban Arfan setelah ucapan Sonya di awal voice note itu. Kesal dan hatinya sangat sakit mendengarnya. Sebenarnya, dia belum pernah ketemu lagi dengan Sonya sejak wanita itu memberitahu kepadanya perihal kehamilan dan alasan pernikahan kedua Arfan. Pernah terbesit dalam hatinya, dia ingin menjambak wanita itu mumpung mereka tinggal di gedung apartemen yang sama. Namun, dia tidak bisa karena wanita itu sedang hamil.
__ADS_1
“Tadi mendadak, Papa langsung memukul Mas Arfan. Apa jangan-jangan Papa tahu alasan Arfan menikahi Sonya”
Wanita berhijab itu menyelesaikan sesi makan siang yang sangat telat karena jam di dinding menunjukkan angka 3.
Sruuut
Arini menyeruput es teh di gelas dengan menggunakan sedotan sehingga menimbulkan suara, untung saja dia sendirian di ruangan itu.
“Terus sedot sampek gelasnya aja sekalian”
Candaan dari seseorang berhasil membuat Arini sadar dari lamunannya hingga dia benar-benar akan memakan gelas. Hahaha.
“Hai, Steve!”
“Sekarang giliran kamu yang lupa,” ucap Steve sambil duduk tepat di hadapannya teman sekaligus pasiennya.
“Oh ya, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Ada apa?”
“Plis, Rin. Kamu jangan pura-pura ga tau ya”
Arini hanya tersenyum masam saat dia ingat jika dirinya tidak datang ke klinik Steve hampir 2 minggu. Sejak dia tahu alasan pernikahan kedua suaminya, dirinya merasa sia-sia saja untuk menyembuhkan traumanya. Percuma saja, pikir wanita itu saat dia pernah ingin konsultasi. Namun, dia urungkan niat itu.
“Arin?”
“Huh?”
“Kamu tuh ya keseringan melamun, bukan syaiton saja yang masuk. Kamu diculik, pasti ga bakal sadar. Iya kan?”
“Hehehe”
Senyuman Arini perlahan menghilang dan berganti dengan mode serius. Dia ingin bertanya lagi, mungkin kali ini dia bisa tahu. Ada banyak hal yang harus dia selesaikan, salah satunya yakni kejujuran Arfan sendiri pada dirinya perihal alasan pernikahan keduanya. Sebenarnya, dia sakit hati saat tahu suaminya menidurinya setelah madunya. Tapi, dia bisa apa. Dia sudah mengikhlaskan semuanya. Semoga saja batas kesabarannya masih ada hingga maut yang membawa pergi cintanya sendiri untuk Arfan, sahabat sekaligus suaminya.
“Ada apa?” Tanya Steve.
❤️❤️❤️
Like Comment Favorite ya novel ini
L0ve Macan
❤️❤️❤️
__ADS_1