Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Dugaan Penculikan


__ADS_3

“Baiklah. Kalian tidur saja, perjalanan kita masih jauh”


Akhirnya, para wanita tidur dengan nyaman dan Rafa menjadi sopir yang siap mengendarai mobil dengan hati-hati. Nyatanya, Arini tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan matanya sebentar lalu terbuka, begitu seterusnya hingga mobil itu melewati jalan yang terakhir ia ingat sebelum dirinya sadar di rumah sakit.


“Jalan ini …”


“Iya, mobil kamu tidak jauh dari sini. Sopirku menginap di rumah warga karena malam hari jadi tidak ada kendaraan lewat setelah dia berhasil mengambil barang-barang milikmy karena ada beberapa orang berpakaian hitam datang ke lokasi mobilmu parkir”


“Apa tidak apa-apa kalau …”


Belum selesai Arini mengatakan kekhawatirannya jika suami atau keluarganya mengetahui dirinya, wanita itu menatap langsung Papa Anggara dan Ayahnya berdiri tepat di samping mobilnya dan sempat melihat ke arah kaca mobil yang dikendarai Rafa melewati mereka.


“Tenang saja, kaca mobil ini gelap kalau dilihat dari luar”


Rafa terus mengendarai mobilnya dan berhasil melewati mobil Arini dan orang-orang yang berada di sana.


“Kita tunggu sebentar ya, sopirku sedang berjalan menuju sini” Ujar Rafa setelah dia menghentikan mobilnya di depan gang kecil.


“Sepertinya, Papa dan Ayah mengira aku dirampok karena tidak ada barang-barang ku di mobil dan mungkin aku juga diculik”


“Sepertinya begitu”


Kemudian, Arini hanya diam sambil terus melihat ke arah luar yang hanya terlihat pepohonan yang besar dan lebat.


“Arin?”


“Hm?”


“Kamu yakin tidak ingin mengabari keluargamu jika kamu baik-baik saja?” Tanya Rafa sambil terus melihat ke depan berharap sopirnya segera muncul.


“Aku tidak tahu”


“Saran ku, lebih baik kamu memberi kabar kepada anggota keluargamu yang benar-benar kamu percaya. Hm, aku tidak tahu apa alasanmu untuk pergi meninggalkan kota ini”


“A …”


“Mungkin Ibu dan Ayahmu, aku yakin mereka sangat mengkhawatirkan mu. Karena yang aku tahu, sepertinya kamu tidak ada masalah dengan dua orang laki-laki paruh baya tadi” Lanjut Rafa. Dia membuka pintu mobil di sampingnya karena Asep mengetuk kaca mobil.


“Maaf Den, saya lama”


“Tidak apa-apa, Mang”


“Ini Den, barang-barangnya”

__ADS_1


Rafa melirik ke belakang agar Asep memberikannya kepada Arini.


“Saya hanya menemukan ini saja, Non”


“Terima kasih, Pak” Ucap Arini setelah dia menerima tas yang ia bawa saat malam itu.


“Kita berangkat ya”


***


Sedangkan di lokasi mobil Arini yang terparkir tanpa pengemudi, Ayah Andika mulai panik karena juga tidak ada barang apapun di dalam mobil putrinya.


“Aku yakin Arin baik-baik saja, Dika”


Papa Anggara berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat khawatir karena di dalam mobil itu tidak ada apapun alias kosong, seperti kasus pencurian dan … penculikan. Dugaan Arini ternyata benar.


“Angga, tolong cari dimana putriku. Aku mohon … hiks … hiks”


Ayah Andika menggenggam dengan erat kedua tangan besannya sambil menangis pilu, sebab putrinya yang dia tidak tahu keberadaannya.


“Lapor, Bos” Salah satu anak buah Papa Anggara menghadap dirinya.


“Katakan”


“Kami sudah mencari di sekitar daerah sini dan bertanya kepada warga, mereka mengatakan hal yang sama”


“Mereka tidak melihat Nona Arini. Dengan kata lain, mereka tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada pemilik mobil ini. Tapi, mereka menduga jika mobil ini sudah ada disini sejak tadi malam”


“Huft, tetap lakukan pencarian”


“Siap laksanakan, Bos”


“Angga?” Panggil Ayah Andika sambil tangan kanannya memegang dada.


“DIKA?” Teriak Papa Anggara saat melihat sahabatnya pingsan tepat di samping mobil Arini.


Semua anak buah Papa Anggara mengangkat ayah Arini itu masuk ke dalam mobil dan segera menuju rumah sakit.


“Di daerah sini ada rumah sakit tapi tidak terlalu memadai peralatannya, Bos. Bagaimana?”


“Tidak apa-apa, kita harus memberikan pertolongan pertama dulu” Jawab Papa Anggara sambil menepuk pelan pipi kanan sahabatnya.


“Kamu harus bertahan, Sobat”

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit yang hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 10 menit dari lokasi mobil Arini berada, Ayah Andika segera mendapatkan pertolongan pertama.


“Tolong sahabat saya, Dok” Pinta Papa Anggara dengan tangannya yang masih memegang erat tangan sahabatnya.


“Serahkan pada kami”


Dokter dan perawat di rumah sakit itu dengan sigap melakukan tugas mereka masing-masing.


Di luar ruang unit gawat darurat, Papa Anggara memejamkan matanya dan berusaha untuk tetap tenang.


“Bos?”


“Hm?”


“Apa tidak sebaiknya kita menghubungi keluarga Tuan Andika?”


“Ya Allah, untung saja kau mengatakannya”


Papa Anggara memberikan kabar melalui putrinya, khawatir istri Ayah Andika terkejut dan terjadi hal yang tidak diinginkan. Kebetulan putri pertamanya menginap di rumahnya bersama suami dan anak mereka.


“Bagaimana?” Tanya Papa Anggara kepada anak buahnya yang masih duduk di sampingnya.


“Masih belum ada perkembangan, Bos”


Ceklek


“Keluarga pasien”


Panggilan dari dokter membuat Papa Anggara bangun dari posisi duduknya.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼


...


__ADS_1



...


__ADS_2